Kita Sisa Sakit Kepala [Puisi-Puisi Dea Ramadhan Putri]

Kita Sisa Sakit Kepala

kemarin ketika aku mabuk,

aku menangis pada pria lain

sebab mabukku karenamu

 

hari ini ketika kau mabuk,

kau memelukku

sebab bir yang kau teguk berasal dari bibirku

 

kini kita sama mabuk,

di tempat asing

masing-masing.

 

 

 

Sesaat Setelah Kamu Tertawa di Hujung Telepon

kamu sesuatu yang mengganjal di celana dalam,

membuat siapapun ingin membetulkan, tapi keadaan bilang tidak.

 

kamu kotoran di pelupuk mata.

untuk membersihkannya harus sangat perih.

 

kamu belut di tepian sawah yang aku cari saat anak-anak,

tapi tak pernah menemukan.

 

aku masih terlalu amatir untuk mencibir,

belaiku lebih lembut dari yang wanitamu beri.

 

berapa lama kita tidak temu rindu?

mereka sudah mencekik segala tubuh

memenggal bagian-bagian urat bibirku yang tertawa

patahkan segala fokusku untuk sibukan dunia

 

kita berani! kita berani!

untuk saling menyakiti pun kita mampu.

apakah sekadar menelpon kita tak mau?

 

kudengar tawamu getir di sana

katamu: kamu, emosi, dan kata

tiga hal itu yang tak bisa aku gabung dalam obrolan ini.

 

terima kasih kekasih,

saat ini lukaku tumbuh lebih besar dari yang aku duga.

 

 

Enam Puluh Detik

aku sepotong rusukmu? kalau begitu katakan siapa sebelas lainnya?

andai saja kamu tahu, cukup menjadi secuil bagian dari rambutmu pun aku senang.

 

lalu dari mana kamu belajar berkata-kata? pandai sekali buat aku melampaui batas.

bolehkah aku pindahkan saja kantormu ke dalam kamarku?

layaknya menit,

setiap enam puluh detik sekali kita bercinta.

 

aku tak sanggup berjauhan sejengkal pun darimu.

tak peduli kata mereka, tentang aku perempuan sundal.

sebab seluruh logika sudah direnggut cinta laknat ini.

 

 

Mawar Kering

suatu kali di parkiran

kita pernah bertukar pikiran

saling tembak peluru janji

janjimu manis, janjiku tangis

untuk kita

kamu sedia menungguku bertahun lama

sedang aku janji untuk tidak berjanji

 

malam itu gelap, sudah pasti karena malam

yang dalam diam kamu selipkan

mawar dipeluk kita

wajahmu terbakar,

entah rekah atau kalah

sebab kecup yang bermuasal dariku

telah terbang menuju keningmu

 

mawar kini sudah kering

apakah janjimu ikut bergeming?

 

 

Istirahat, Sembahyang, dan Mabuk

 

*

tengah malam, sesaat sedang istirahat. aku mendengarkan lagu Cant Help Falling in Love With You. yang kamu kirimi lewat voice note chat, suara itu berasal dari bibir yang selalu ingin kukecup.

lelahku terbunuh.

 

*

waktunya sembahyang, tapi aku bukan orang suci yang menjalankan sepertiga malam dengan doa-doa. sembahyangku sederhana dengan mengirim pujian-pujian pada kekasihku, brengsek yang aku cinta!

 

*

sudah tengah malam, aku membawa beberapa minuman dari tempat kerjaku untuk kita nikmati di kamar. berdua saja.

 

Profil Penulis

Dea Ramadhan Putri
Dea Ramadhan Putri
lahir di bekasi, jawa barat, 16 desember 1999. mahasiswi fisip di universitas singaperbangsa karawang, aktif dalam kegiatan teater dan literasi.