Cerpen

Kita Harus Bicara, Zulkarnain Marnawi

pixabay

“Zul, Zulkarnain, kita harus bicara sekarang.” Sepasang tangan membikin tubuh orang yang dipanggil Zulkarnain terguncang-guncang. Seketika suara khookh… khookh… panjang yang berasal dari dalam tubuh tersebut berhenti, berganti menjadi sluurrp. Kalau kau penah mendengar orang sedang menyeruput kopi panas sedikit-sedikit, kira-kira seperti itulah bunyinya. Hanya saja Zulkarnain tidak sedang minum kopi, apalagi yang panas. Setelah suara seruputan pendek itu tubuhnya menggeliat, ia mendusin. Seperti tanpa perintah, salah satu tangan Zulkarnain menyeka apapun yang ada di sekitar mulutnya. Tangan yang lain sedang sibuk di tempat lain, seperti pusat pahanya.

Setelah semua urusan itu selesai dalam hitungan tiga detik lebih, yang dipanggil Zulkarnain mulai memusatkan pendengarnanya. “Kita harus bicara, sekarang” ulang orang yang baru saja meguncang tubuhnya. Ia melirik, ke arah tembok di seberang ranjang mereka dan jam berapa ini? tanyanya seolah menginterupsi kelakuan yang membangunkannya di tengah malam begini.

“Kita harus bicara, sekarang. Zulkarnain Marnawi.”

Zulkarnain mengernyitkan dahinya, apa istrinya baru saja memanggilnya dengan nama lengkap? Seolah-olah ia sekarang sedang berbicara dengan orang yang bukan bernama Zulkarnain Marnawi. Yang lebih penting apakah ia sedang tidak ngelindur?

“Jam berapa ini, Ika Muslihati?” Zulkarnain bertanya balik, mengikuti cara Ika Muslihati mengganti panggilan Pap dengan nama aslinya. Yang ditanya tidak menjawab apa-apa, Ika Muslihati tahu sekali, pertanyaan itu hanyalah alasan untuk membantahnya, dan yang lebih penting, menunda pembicaraan penting yang harus ia dan Zulkarnain Marnawi lakukan.

Zulkarnain Marnawi mulai mengambil posisi duduk di ranjang mereka, pertanyaannya soal jam diabaikan. Di sini saja? Tanya Zulkarnain. Ika Marnawati menjawab dengan gerakan yang biasa kau lihat ada pada mereka yang kecewa dengan teman tidurnya. Ika Muslihati bertolak dari kasur dan melangkah ke arah pintu. Ika Marnawati membuka pintu dengan tangan kirinya perlahan, sementara tangan kanannya berada di kusen, lalu menoleh. Bangunlah, kita harus bicara.

Zulkarnain sempat terpesona saat melihat Ika Muslihati yang membuka pintu seperti itu. Sebelumnya tidak pernah ia rasakan persoalan membuka pintu bisa menjadi urusan yang sepenting saat ini. Tapi ia hanya tahu hal ini: Setelah kakinya melewati pintu itu, semuanya pasti akan berbeda.

 

Empat tahun lampau mereka sempat berpikir untuk mengikuti program bayi tabung. Ika Muslihati mulai membeli beberapa buku parenting, dan mencari-cari semua informasi soal itu di internet. Seolah-olah ia yakin bahwa rencana mereka itu akan berhasil. Tapi setelah mereka mendatangi beberapa bidan dan berkonsultasi soal biayanya, Ika Muslihati menjadi lebih tertarik pada persoalan bakar-membakar daripada mencari lebih banyak buku sejenis. Semua tempat dan orang yang mengetahui persoalan ini selalu mengakhiri kalimat-kalimatnya dengan hal-hal yang sudah lama sekali ikut terbakar bersama buku-buku malang itu. Hal-hal semacam belum saatnya atau belum jodohnya atau takdir, atau biayanya bisa mencapai bla bla. Pendek kata semua itu membuat Ika Muslihati mengatakan hallah taek dalam hatinya.

 

Sebenarnyalah persoalan Ika Muslihati membuka pintu itu persoalan yang sepele. Begitu pintu itu terbuka yang mana membuat berkas cahaya dari kamar tengah masuk ke dalam kamar mereka. Tapi bukan itu yang membuatnya merasa perlu memanggil Ika kembali ke kasur lagi, cahaya yang masuk dari kamar tengah itu membentuk siluet seseorang yang mengagumkan. Ia memperhatikan cahaya dari kamar tengah terhalang oleh bentuk lekuk tubuh Ika Muslihati, dan bagian lainnya menembus gaun tidurnya. Usia 30 tahun, tidak ada yang berkurang darinya, bisik Zulkarnain pada dirinya sendiri. Sedang dilihatnya pada dirinya sendiri, merasa sedih sebab semakin hari, tahun ke tahun, ia bertambah lemu. Seolah-olah urusan gemuk-setelah-menikah itu hanya menjadi urusannya, bukan untuk Ika Muslihati.

“Ika Muslihati, istriku, mari kita tidur lagi. Mau kah?” panggil Zulkarnain Masnawi bermesra-mesra. Ia tahu, cara memanggilnya sangat ganjil, tapi ia sedang terbawa suasana.

“Mari Zulkarnain Marnawi, kita harus bicara.” Ika Muslihati keukeuh.

Ika Muslihati tidak sedang ngelindur. Sekarang ia yang mulai diusik pertanyaan iseng: apa aku sedng bermimpi? Zulkarnain Masnawi mengusap-usap wajahnya, sekadar bertingkah masuk akal saja. Ia rasakan kulit telapak tangan di wajahnya, atau wajahnya di kedua telapak tanganya. Ini tangan dan wajahku. Seolah tidak cukup, ia edarkan pandangannya ke sekeliling kamar dengan bantuan lampu tidur yang tidak begitu terang. Dengan begitu ia seolah berusaha menangkap semua kesadaran yang baru beberapa detik yang lalu terpencar, berciprtan di setiap sudut kamar mereka. Kamar yang telah menyaksikan semua hal di lima tahun terakhir dalam pernikahan mereka.

 

“Kau yakin bakal melakukan ini?” tanya Nia Kusno pada Ika Mustikawati. Yang ditanya mengangguk, meyakinkan bahwa apa yang dilakukannya adalah hal yang rasional.

Dengan bekal sobekan iklan dari majalah-majalah mistis mereka berdua mengikuti semua petunjuk alamat yang satu jam lalu diberikan sesuara di seberang telepon Nia Kusno. Satu jam lalu tentu saja Nia Kusno sudah meyakinkan Ika Muslihati bahwa keyakinan barunya itu benar-benar sangat memalukan.

“Kita ini orang terdidik Ika, kamu bisa sulit tidur jika kita benar-benar pergi ke orang ini.” Nia Kusno meyakinkan Ika Mustikawati agar niat gilanya itu biar dikurung saja di suatu tempat. Atau paling tidak, ia harus mencari orang lain untuk menggantikannya duduk di kursinya saat itu.

“Aku bahkan sudah sulit tidur selama dua tahun ini.” tegas Ika Muslihati, terlintas dalam benaknya malam-malam yang mengerikan, membayangkan hari-hari tua tanpa ada yang merawatnya, tanpa satu orangpun berada di sekitarnya. Bahkan tidak si Zulkarnain itu.

“Aku paham,” ujar Nia Kusno mulai melancarkan rayuannya lagi “kau tidak mau mati tua dalam keadaan seperti—eh apa sebutannya tadi?” tanya Nia Kusno memastikan Ika Muslihati mengulang istilahnya sendiri yang menurut mereka berdua cukup lucu untuk dijadikan bahan pembicaraan komedi-berdiri.

“Mayat keriput yang habis dimakan semut.” Mereka tertawa. Ika Mustikawati terhibur dengan humornya sendiri. Sampai kemudian ia merasa tawanya mereda sebab teringat sesuatu. “tapi aku tidak berubah pikiran, Nia.” Ia menunjukkan keteguhan pendiriannya.

“Dengar Nia, kau tahu aku ini orang yang rasional sejak dulu. Aku tidak berubah sama sekali sejak empat tahun pernikahanku yang membosankan ini. tapi aku mau kau tahu, inilah bentuk rasionalitas baru. Rasionalitas alternatif.” Nia tergelak sebentar, sampai ia sadar bahwa Ika Muslihati sedang tidak ingin menertawakan apapun.

 

Sebelumnya kamar ini merupakan kamar Ika Muslihati pada masa anak-anak. Alasan mengapa Ika Muslihati berkeras tidak mau pindah ke kamar bekas orang tuanya begitu Zulkarnain menjadi suaminya bisa disimpulkan dari kalimat seperti ini: aku tidak suka berada di tempat tidur orang yang sudah meninggal. Ingin sekali Zulkarnain menimpalinya dengan kata-kata seperti tapi itu tempat tidur bapak dan ibumu sendiri, bukan orang lain. Tapi Zulkarnain menahan kata-katanya sendiri. Orang berduka, adalah orang yang berduka. Tidak lebih.

“Minum ini, Zulkarnain Marnawi.” Ucap Ika Mustikawati dengan nada memerintah. Zulkarnain Marnawi memang masih tidak mengerti soal apa semua ini. Tapi ia tahu ini akan jadi urusan penting dalam  rumah tangga mereka.

Profil Penulis

Ahmad Farid
Ahmad Farid
Muda dan tak berdaya. Pustakawan di @pustakaki dan aktif di @gusdurianpwk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *