Kita dan Homoseksualitas

Malam itu saya sedang mencuci tangan sambil bercermin di toilet mall. Seseorang masuk dan tiba-tiba dia berteriak kegirangan. Saya langsung menoleh, menatapnya, dan menyapanya. Tanpa saya duga, dia cepat menghampiri saya dan memeluk saya dari belakang; dan pelukannya itu cukup erat dan dia membenamkan kepalanya ke bahu kiri saya. Saya kaget, tentu saja. Setelah saya menepuk-nepuk paha kanannya dan memintanya berhenti memeluk saya, barulah dia melakukannya.

Di sini ada beberapa hal yang harus saya klarifikasi. Pertama, saya dan lelaki itu tak berteman; malam itu adalah pertemuan ketiga kami dan semuanya selalu pertemuan tak disengaja dan saya tak benar-benar mengenalnya begitu juga sebaliknya. Kedua, di pertemuan pertama kami lelaki itu secara eksplisit menunjukkan ketertarikannya kepada saya, seperti dengan mengatakan bahwa gaya rambut saya bagus dan dia ingin menyentuhnya. Ketiga, dia kemungkinan seorang homoseksual, sedangkan saya seorang heteroseksual.

 

Masyarakat dan Bayang-Bayang Homofobia

Malam itu, sementara saya masih mencuci tangan dan bercermin sedangkan dia sendiri kencing di urinoir, kami mengobrol. Saya sendiri sebenarnya hanya berbasa-basi saja, tetapi lelaki itu sepertinya begitu senang bisa mengobrol lagi dengan saya. Sambil kencing, dia bilang dia sudah memikirkan saya setibanya dia di lobi mall; bahwa jangan-jangan kami akan bertemu lagi—secara tidak sengaja. Dan ketika saya akhirnya pamit dan menuju pintu keluar toilet, lelaki itu mengatakan, dengan setengah berteriak, bahwa dia merindukan saya.

Setibanya di kamar kos saya menceritakan hal ini kepada pacar saya—lewat WhatsApp (WA). Dia tampak kaget, lalu melontarkan komentar-komentar pedas seperti bahwa apa yang dilakukan lelaki itu melanggar privasi saya dan dia tidak senang dengan itu. Dia benar, dan saya menyepakatinya. Terlepas dari seseorang itu perempuan atau lelaki, dia tak semestinya tiba-tiba memeluk saya dari belakang sebab bisa saja itu mengganggu saya, membuat saya tidak nyaman, bahkan kesal. Dan bahwa dia yang memeluk saya itu seorang lelaki sedangkan saya seorang heteroseksual memperkuat ketidaksemestiannya itu, juga ketidaknyamanan saya. Dan satu lagi yang harus diingat: itu dilakukannya di toilet mall, ketika sedang tidak ada siapa pun lagi di sana selain kami. Bahkan pacar saya pun belum pernah memeluk saya dari belakang di toilet ketika di sana sedang tidak ada siapa pun lagi selain kami.

Pertemuan pertama saya dengan lelaki itu sesungguhnya cukup lucu. Saya sedang duduk di sebuah bangku di mall tadi, tengah menyimak rekaman wawancara terkait isu komunisme dan PKI yang saat itu adalah bagian dari pekerjaan saya, dan lelaki itu duduk di bangku yang sama, persis di samping kiri saya, nyaris tanpa ada ruang kosong di antara kami. Tiba-tiba dia bernyanyi. Di telinganya memang terpasang earphone, tetapi tentu tidak wajar dia bernyanyi, sebab itu di mall di mana ada orang-orang lewat, dan di samping kirinya sendiri, masih di bangku yang sama, ada seseorang lain—seorang perempuan yang tidak saya kenal. Lalu setelah berhenti bernyanyi dia menyapa saya dan mananyakan nama. Kami pun berkenalan, dan saya tentu terpaksa berhenti menyimak rekaman tadi itu. Dan lelaki itu mengatakan sesuatu yang sejujurnya cukup mengganggu saya, yakni bahwa dia sering melihat saya di ruang-ruang publik di Bogor dan di matanya gaya berpakaian saya memorable—padahal saya sendiri lebih memilih kata aneh atau nyentrik.

Kami mengobrol tentang hal-hal trivial. Dia mengomentari gaya rambut saya yang dalam bayangannya mestilah dibutuhkan ketekunan yang tinggi untuk membuatnya jadi seperti itu. Hingga pada satu titik, dia bilang ingin menyentuh rambut saya. Saya meresponsnya dengan tertawa begitu saja. Respons yang sama, saya berikan ketika menanggapi penilaiannya atas gaya berpakaian saya tadi.

Ketika kami sudah sama-sama merasa tidak punya lagi hal untuk dibicarakan, sementara belum ada gelagat dia akan berdiri dan pergi, saya mengalihkan pandangan ke kanan, mengamati apa pun itu yang bisa saya amati. Di titik ini, saya menyadari, lelaki itu sedang mengamati saya, lebih tepatnya rambut saya. Dan dia tidak memalingkan muka atau apa saat saya menoleh menatapnya. Saya merasa tidak nyaman, tentu saja, tetapi saya tidak mengemukakannya. Beberapa lama kemudian saya mencoba membuka smartphone untuk membaca-baca sesuatu dan lelaki itu, dengan tangannya yang kanan, menyentuh-nyentuh gantungan smartphone saya. Tentu saja, apa yang dilakukannya ini pun membuat saya tidak nyaman.

Pacar saya, setelah saya menceritakan hal tersebut, mengirimkan—lewat WA—komentar-komentar lucu seperti “buset” atau “WTF”. Tidak seperti yang tadi, di responsnya kali ini tidak terasa ada kecemasan yang kuat atau bahkan ketakutan; justru aroma humor yang terasa kuat menyeruak. Aroma yang sama juga saya temukan dalam respons ilustrator kesayangan saya saat saya menceritakan hal ini kepadanya beberapa hari kemudian—dia juga perempuan. Jadi, bisa dibilang, pertemuan pertama saya dengan lelaki itu memang berpotensi untuk dilihat sebagai sesuatu yang lucu, atau setidaknya membikin geli.

Potensi lucunya itu memang terkonkretkan pada akhirnya, salah satunya lewat pertanyaan yang dilontarkan ilustrator kesayangan saya, apakah saya tidak khawatir diguna-guna atau semacamnya oleh lelaki itu. Saya katakan padanya, saya lebih khawatir lelaki itu melihat saya sebagai seseorang yang anti-homoseksual atau anti-homoseksualitas; karena itulah ketika dia menghampiri saya tadi saya mencoba menyikapinya dengan ramah, dengan wajar; di situ saya melihatnya sebagai manusia terlepas dari apa pun itu jenis kelaminnya dan orientasi seksualnya. Pacar saya, kurang lebih setuju dengan sikap saya tersebut, meski tidak soal respons tertawa tadi.

Namun coba cermati lagi respons pacar saya atas kejadian tak terduga di pertemuan-tak-sengaja ketiga saya dengan lelaki itu. Di situ, jelas sekali, ada kecemasan yang kuat. Pacar saya bahkan meminta saya untuk tidak dulu sering-sering keluyuran sebab khawatir lelaki itu lain kali membawa teman-temannya dan mengepung saya—dan entah apa yang terjadi setelah itu. Tentu saja, kecemasannya ini juga dipengaruhi oleh fakta bahwa dia adalah pacar saya. Tetapi jujur saja, itu justru membuat saya geli. Dan saya pun tertawa—meski tentu pacar saya tak mendengarnya.

Respons yang berbau kecemasan semacam itu juga dilontarkan oleh ibu saya ketika suatu hari ia menelepon saya. Saya meminta dia untuk tenang sebab saya bisa menjaga diri, dan di saat yang sama saya mencoba menjelaskan kepadanya bahwa para lelaki homoseksual itu tidak perlu dimusuhi atau dibenci; justru dengan memperlakukan mereka sebagai manusia itu baik bagi saya sebab mereka tidak akan merasa “terserang”—dan karenanya tak akan punya motif untuk “menyerang” saya. Kali itu, pertemuan ketiga dan kejadian tak terduga tadi belum terjadi. Tetapi kalaupun percakapan antara saya dan ibu saya itu terjadi setelahnya, saya kira yang saya katakan padanya tetaplah sama. Pada dasarnya saya memang tidak punya kebencian atau sentimen apa pun terhadap lelaki-lelaki homoseksual. Masyarakat kita, barangkali memang dibayang-bayangi oleh homofobia seperti yang kerap diberitakan oleh media, tetapi saya tidak. Tidak. Saya yakin saya tidak seperti itu.

 

Gelap-Terang Homoseksualitas

Kenapa masyarakat kita bisa sampai dibayang-bayangi oleh homofobia? Sulit untuk menjawab ini secara komprehensif, sebab ada begitu banyak faktor yang menyebabkannya. Agama, misalnya. Di dalam agama-agama Abrahamik, homoseksualitas kerap dipandang sebagai sesuatu yang buruk, bahkan sangat buruk sampai-sampai semestinya ia tak pernah ada di peradaban manusia, dan masyarakat kita, setidaknya jika titik tolaknya adalah proklamasi kemerdekaan pada 1945, adalah masyarakat yang kehidupan sehari-harinya sangat dipengaruhi oleh agama—khususnya agama-agama Abrahamik tadi. Berpuluh-puluh tahun kemudian mungkin saja komposisinya telah jauh berbeda, tetapi seiring kembali menguatnya politik identitas belakangan ini saya kira semakin besar juga peluang agama untuk kembali memengaruhi, secara signifikan, kehidupan sehari-hari masyarakat kita. Ada juga memang tokoh-tokoh agamawan yang mencoba melihat homoseksualitas bukan sebagai sesuatu yang buruk dalam pengertian tadi, melainkan sebagai salah satu wujud konkret dari heterogenitas yang harus diterima dan disyukuri, sebab itu “pemberian” Tuhan. Namun jumlah mereka, biasanya, hanya sedikit.

Tetapi kalaupun seseorang dalam kehidupan sehari-harinya tidak dipengaruhi secara signifikan oleh agama-agama Abrahamik itu, ia tetap berpotensi melihat homoseksualitas sebagai sesuatu yang buruk dengan titik tolak hal-hal lain seperti sains. Dengan menerima teori evolusi Darwin sebagai sesuatu yang masuk akal, misalnya, seseorang bisa saja berpikir bahwa fenomena homoseksualitas tidak sesuai dengan hukum alam dan bertentangan dengan teori evolusi itu sendiri, sebab dengan menjadi homoseksual seorang lelaki otomatis akan tertahan dari meneruskan gennya, dan itu buruk bagi evolusi. Tentu, masih ada titik-titik tolak lain yang bisa membuat seseorang melihat fenomena homoseksualitas sebagai sesuatu yang buruk, bahkan sangat sangat buruk.

Bermula dari melihat fenomena homoseksualitas sebagai sesuatu yang buruk inilah kiranya homofobia itu tumbuh, tentu saja dengan proses yang rumit dan panjang.

Proses ini yang mestinya coba kita telusuri, dan kita bedah, untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang fenomena tersebut. Jika memang ada yang salah, di mana letaknya? Jika memang selama ini,  ada yang luput dari perhatian kita yang berdampak pada terbentuk dan menguatnya bayang-bayang homofobia di dalam masyarakat kita, kira-kira apa?

 

Dalam upaya mengimbangi—lebih tepatnya menangkis—perspektif-perspektif negatif tentang homoseksualitas, banyak orang menyuguhkan tulisan atau pemahaman yang pro-homoseksualitas. Titik tolaknya sendiri bisa agama, sains, atau yang lainnya. Dan karena perspektif negatif tentang homoseksualitas dengan titik tolak agama dan sains telah disinggung sedikit tadi, kali ini kita akan sedikit membahas perspektif positifnya.

Lailatul Fitriyah, seorang kandidat Doktor di Departemen Teologi di Universitas Notre Dame, Amerika Serikat, mengatakan bahwa Al-Qur’an, sebagai kitab suci umat Islam, sesungguhnya tidak melarang homoseksualitas dari segi ekspresi atau orientasinya; kalaupun larangan itu ada, itu adalah dari segi aksinya, dan ini pun khusus untuk kasus-kasus yang sifatnya koersif seperti pemaksaan atau pemerkosaan; dan ada budaya patriarki sebagai konteks yang turut membentuk spesifikasi dalam larangan ini. Dengan kata lain, homoseksualitas bukanlah sebuah fenomena yang secara membabi-buta dilarang di dalam Islam; dan karena sifatnya yang kasustik ini, perlu sekali ada peninjauan yang mendalam terkait fenomena ini dari disiplin-disiplin ilmu lain seperti sejarah dan antropologi. Dalam hal ini, Fitriyah menggarisbawahi pemahaman sebagian umat Islam terhadap Al-Qur’an dan Hadis yang sangat tekstual dan kaku, padahal konteks itu penting dan tidak bisa dilepaskan dari ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadis tersebut. Terkait Hadis yang berisi ajakan untuk membunuh kaum LGBT, misalnya, Fitriyah mengatakan bahwa Hadis tersebut harus dilihat kualitas isi dan pencatatnya, yang berarti ada konteks terkait Hadis itu yang akan memengaruhi tingkat kesahihannya. Dan Fitriyah pun mengatakan bahwa sikap keras dan diskriminatif masyarakat Islam Arab terhadap fenomena homoseksualitas dipengaruhi oleh kolonialisme Eropa pada abad ke-19, sebagai semacam oksidentalisme; dan ini paradoks sekaligus lucu sebab sikap keras dan diskriminatif terhadap fenomena homoseksualitas justru tumbuh lebih duhulu di masyarakat Eropa, dengan Kristen sebagai agama dominannya (Magdalene.co, 16/6/2017; Magdalene.co, 19/10/2017).

Perspektif Fitriyah yang begitu mengedepankan konteks ini sejalan dengan perspektif Pendeta Suarbudaya Rahardian dari Gereja Komunitas Anugerah. Menurut Rahardian, teks di dalam kitab suci tidak ditujukan secara langsung untuk orang-orang di semua tempat di semua zaman, melainkan untuk orang-orang tertentu di suatu masa tertentu, dalam situasi geopolitik tertentu. Itu artinya kita yang hidup di saat ini harus menggunakan lensa-lensa tertentu untuk bisa memahami apa yang sesungguhnya berusaha dikatakan teks-teks itu dan menerapkannya di dalam keseharian kita. Tidak bisa, dengan kata lain, kita begitu saja memaknai teks-teks tersebut secara literal, sebab itu berpotensi mengarahkan kita pada penerapan yang sepenuhnya salah (Magdalene.co, 19/10/2017).

Katakanlah apa yang dikemukakan dua orang tersebut benar. Maka, ada ruang di dalam agama bagi perspektif positif tentang fenomena homoseksualitas. Atau, jika pun kita menghindari timbulnya kesan pro-homoseksualitas dalam pernyataan kita, kita bisa mengatakan bahwa ada celah di dalam agama yang memberi ruang bagi hadirnya, dan diterimanya, perspektif non-negatif tentang fenomena homoseksualitas. Dan ini tentu sebuah angin segar bagi para lelaki homoseksual maupun orang-orang yang pro-homoseksualitas. Lalu, bagaimana dengan sains?

James O’Keefe, penulis-cum-kardiolog Amerika Serikat, menjelaskan bahwa orientasi seksual anak sangat dipengaruhi oleh kondisi ibu pada tahap pranatal. Mengambil koloni semut sebagai analogi, O’Keefe mengatakan bahwa penentuan apakah semut yang menetas dari telur-telur yang ada adalah semut pekerja atau semut prajurit berkaitan erat dengan situasi dan kondisi yang dihadapi si ibu—dalam hal ini ratu semut. Misalnya, saat itu si ratu semut menilai koloninya sedang membutuhkan begitu banyak makanan, maka secara tidak sadar ia akan memperbanyak bakal semut pekerja alih-alih bakal semut prajurit. Dan pengambilan keputusan ini, menurut O’Keefe, terjadi di level gen (TEDx Talk, 15/11/2016).

Dengan prinsip yang sama, seorang perempuan di tahap pranatal bisa saja mengambil keputusan untuk menjadikan anak lelaki yang akan dilahirkannya seorang homoseksual. Dan keputusan ini diambilnya tanpa dia sadari—lebih tepat untuk mengatakan bahwa tubuhnya, atau gen yang memanipulasi tubuhnya itu, yang mengambil keputusan ini. O’Keefe sendiri memiliki seorang anak lelaki—anak sulungnya—yang kemudian tumbuh menjadi seorang homoseksual. Menurutnya, ini berkaitan erat dengan kanker yang sempat diderita istrinya pada tahap pranatal. Tubuh istrinya itu, atau gen yang hidup di dalamnya, mestilah mengambil keputusan untuk mengubah orientasi seksual si calon bayi dengan harapan dia kelak akan membantu si ibu, juga keluarganya, untuk menguatkan diri agar bisa mengatasi masa-masa sulit. Anak sulung O’Keefe memang tipe yang seperti itu; tipe yang merekatkan dan menguatkan keluarga; barangkali sebagai “konsekuensi” dari orientasi seksualnya. Kehadiran anak sulungnya itu di dalam keluarganya dilihat O’Keefe sebagai bagian dari strategi gen mereka untuk bertahan hidup. Kuat secara kelompok, di mata gen, mestilah lebih baik daripada kuat secara individu (TEDx Talk, 15/11/2016).

Penjelasan rinci dari O’Keefe ini tentulah menentang, sekaligus menangkal, perspektif yang sempat disinggung tadi bahwa fenomena homoseksualitas tidak sejalan dengan teori evolusinya Darwin. Ini berarti, sains pun memiliki ruang bagi tumbuhnya perspektif positif, atau setidaknya non-negatif, terhadap fenomena homoseksualitas. Kasusnya kira-kira sama dengan agama tadi. Pertanyaannya kemudian: bagaimana kita menyikapi ini? Haruskah kita condong ke salah satu, atau memilih jalan tengah, atau bagaimana? Pilihan yang kemudian kita ambil tentu harus bertolak dari kesadaran untuk membentuk sebuah masyarakat yang lebih baik—lebih adil dan lebih kondusif.

 

Homoseksualitas dan Bineritas

Jika kita cermati lagi argumentasi-argumentasi tadi, baik itu yang kontra-homoseksualitas maupun yang pro-homoseksualitas, dengan relatif mudah, kita akan mendapati bahwa yang ditonjolkan di sana adalah bineritas. Di mata mereka yang kontra, fenomena homoseksualitas itu sepenuhnya buruk, dan karena itu para lelaki homoseksual harus dijauhi, dimarjinalkan, bahkan dihukum. Sedangkan di mata mereka yang pro, fenomena homoseksualitas sepenuhnya wajar, sepenuhnya alamiah, bahkan baik; karena itulah para lelaki homoseksual itu harus diterima sebagai diri mereka apa adanya—tidak boleh kita menuntut penyesuaian apa pun dari mereka sebab itu sebuah diskriminasi. Di sinilah, saya kira, masalah masyarakat kita yang sebenarnya.

Saya bisa memahami bahwa sikap mereka yang pro-homoseksualitas itu adalah resistansi terhadap sikap sebaliknya. Katakanlah menempati posisi yang dominan. Namun resistansi ini mesti disikapi secara kritis, sebagaimana halnya tekanan dari yang dominan itu pun harus disikapi secara kritis. Mengatakan bahwa fenomena homoseksualitas sepenuhnya wajar dan baik, sama saja dengan mengatakan bahwa globalisasi dan industrialisasi pun begitu. Mengatakan bahwa setiap lelaki homoseksual harus diterima begitu saja, sama saja dengan mengatakan bahwa setiap manusia pun harus diterima seperti itu. Padahal, bukan begitu semestinya masyarakat bekerja.

Sebenarnya mereka yang pro-homoseksualitas itu sudah separuh benar dengan mengatakan bahwa kita mesti memperlakukan para lelaki homoseksual sebagai manusia. Hanya saja di sini, mereka lupa bahwa memperlakukan seseorang sebagai manusia berarti menyadari bahwa dia memiliki sisi baik dan sisi buruk; dia bisa menjadi korban namun juga bisa menjadi pelaku; dia bisa melakukan hal-hal baik bagi orang-orang di sekitarnya namun bisa juga melakukan hal-hal buruk bagi mereka. Bagian dari dirinya yang gelap ini, dengan kata lain, tidak boleh diingkari; ia ada, betapa pun kita tak menginginkannya. Maka memperlakukan para lelaki homoseksual sebagai manusia, dengan demikian, adalah menerima mereka di dalam realitas kita, namun dengan adanya batasan-batasan yang disepakati bersama.

Apa yang saya alami itu, misalnya, tentu sudah sesuatu yang di luar batas. Dia, seorang lelaki homoseksual, tiba-tiba memeluk saya, dan saya sangat tidak nyaman dengan itu. Bahkan tidak berlebihan kiranya jika saya mengategorikan apa yang dilakukannya ini sebagai pelecehan seksual, dan saya sepenuhnya punya hak untuk mempermasalahkannya—bahkan membawanya ke ranah hukum. Bahwa saya memilih untuk tidak memarahinya atau yang semacamnya tidak lantas berarti yang dilakukannya itu baik, atau boleh, atau wajar. Kesepakatan mengenai batas-batas semacam inilah, saya kira, yang mesti dirundingkan bersama, tentunya dengan kepala dingin dan bertolak pada akal sehat dan kemanusiaan. Kita jelas harus menerima bahwa para lelaki homoseksual itu ada dan menjadi bagian dari masyarakat kita, bahkan mungkin keseharian kita. Tetapi penerimaan ini tidak bisa sesuatu yang membabi-buta. Negosiasi-negosiasi tetap harus ada. Dan itu artinya, ruang-ruang komunikasi harus dibuka; forum-forum dialog yang mempertemukan lelaki-lelaki homoseksual dengan lelaki-lelaki heteroseksual, juga dengan yang lainnya. Lewat strategi ini pulalah, saya kira, bayang-bayang homofobia di dalam masyarakat kita bisa dilemahkan, bahkan mungkin dihilangkan.

Penting untuk mengeluarkan diri kita dari jebakan bineritas, dan setelah itu membuka diri terhadap adanya gradasi. Misalnya, dengan kejadian tak menyenangkan yang saya alami itu, saya bisa saja melihat setiap lelaki homoseksual seperti lelaki itu, namun itu sangat tidak adil, juga tidak masuk akal. Salah satu teman Tumblr pacar saya seorang lelaki homoseksual dan dia, kata pacar saya, bukan tipe yang menunjukkan afeksi secara eksplisit, melainkan tipe yang menahan diri—tipe yang “elegan”; namun salah satu lelaki homoseksual di kantornya yang lama adalah tipe yang bukan saja menunjukkan afeksi secara eksplisit namun juga, menurutnya, mesum—tipe yang dengan ringan membicarakan aktivitas seksual dengan pasangan. Dan tentu ada banyak tipe-tipe yang lainnya lagi. Ada gradasinya, dengan kata lain. Bahwa kita jarang sekali dihadapkan pada adanya gradasi ini menunjukkan ada yang salah dengan cara masyarakat kita menyikapi fenomena homoseksualitas. Dan ya, media massa sangat berperan dalam hal ini. Bahkan, bisa jadi, salah satu yang paling dominan perannya.

Di Jepang, misalnya, dalam program-program variety show di televesi-televisi di sana, para lelaki homoseksual diterima, diakui eksistensinya di dalam masyarakat Jepang, tetapi kerap dihadirkan sebagai sosok-sosok yang aneh; mereka sering dijadikan bahan tertawaan meski nuansa yang hadir lebih ke keakraban dan keintiman alih-alih perundungan. Bagi para lelaki homoseksual di sana, atau setidaknya sebagian dari mereka, hal ini sebuah masalah, karena mereka tahu betul bahwa tidak setiap lelaki homoseksual di Jepang—atau di mana pun—bisa menerima dirinya dijadikan bahan tertawaan; sebagian mungkin akan menilai itu ofensif dan perlahan-lahan menuntunnya kepada trauma. Dalam hal ini, masyarakat Jepang menentukan secara sepihak tempat bagi para lelaki homoseksual itu, padahal bukan itu yang semestinya terjadi. Jika kita bicara soal sebuah masyarakat yang ideal, semestinya, selalu ada negosiasi dan tarik-menarik terkait posisi seseorang atau sebuah kelompok di dalam masyarakat (Asian Boss, 5/6/2017).

Lalu bagaimana di kita? Bagaimana masyarakat kita memosisikan para lelaki homoseksual? Bisa jadi, kadar kelayakannya masih berada di bawah masyarakat Jepang.  Sementara ada orang-orang yang berjuang agar para lelaki homoseksual diterima oleh masyarakat kita dengan baik, ada juga orang-orang yang berusaha agar para lelaki homoseksual itu menjadi heteroseksual, dan ada juga orang-orang yang menginginkan para lelaki homoseksual itu mati saja, dan ada juga orang-orang seperti saya yang berusaha untuk tidak trauma kendati telah mengalami kejadian tak menyenangkan yang melibatkan seorang lelaki homoseksual, dan masih banyak yang lainnya.

Sungguh, realitas tidak pernah sederhana dan hitam-putih belaka. Begitu juga fenomena homoseksualitas yang adalah sesuatu di dalamnya.(*)

—Bogor, 31 Oktober 2018

 

 

Ardy Kresna Crenata tinggal di Bogor. Bergiat di Pembacaan Baru.

 

 

 

Referensi

Asian Boss. (5 Juni 2017). How do LGBT See Japanese Society? Durasi: 9 menit 17 detik. Ditonton di https://www.youtube.com/watch?v=SBJYj31guJU pada 31 Oktober 2018.

Magdalene.co. (16 Juni 2017). Al-Qur’an Tak Ajarkan Membenci Kelompok LGBT: Akademisi Muslim. Diakses di https://magdalene.co/news-1259-quran-tak-ajarkan-membenci-kelompok-lgbt-akademisi-muslim.html 31 Oktober 2018.

Magdalene.co. (Adakah Ruang Bagi LGBT untuk Beragama?). https://magdalene.co/news-1930-adakah-ruang-bagi-lgbt-untuk-beragama.html

TEDx Talks. (15 November 2016). Homosexuality: It’s About Survival – Not Sex. Durasi: 17 menit 25 detik. Ditonton di https://www.youtube.com/watch?v=4Khn_z9FPmU pada 30 Oktober 2018.