Cerpen

Kisah Tokoh dalam Cerita

source : google

Dia telah membuat hidup saya menderita. Pakaian kurang, makan kurang, tidur kurang, kekasih kurang. Penulis itu punya kebencian besar pada saya. Padahal kami berdua belum pernah sekalipun bertemu sehingga menutup kemungkinan besar bagi saya untuk bisa membalasnya. Bajingan!

Saya tidak ingin hidup sebetulnya. Tetapi penulis bajingan itu telah memberikan saya kehidupan dengan nasib sial. Penulis bajingan itu tahu betul bagaimana nasib saya ke depan. Sebab semuanya telah diatur olehnya.

Penulis bajingan yang bernasib sial karena hidup serba kurang itu membutuhkan teman bicara saat dunia berubah menjadi gelap dan hening. Suara tik-tok jam yang terdengar kian kencang dibanding saat matahari membuat semua orang lelah telah menghancurkan gendang telinga dan ingatannya.

Suatu kali ia pernah bercerita tentang masa lalunya kepada saya namun saya tidak berniat untuk membukanya di sini, entah karena hal apa. Meski tidak membuat saya menangis, masa lalu penulis bajingan itu sungguh menyedihkan. Tapi saya sama sekali tidak peduli dan menganggap masa lalunya seperti seekor tikus mati, bergelimang isi perutnya sendiri di tengah-tengah jalan.

Kemudian karena alasan di atas akhirnya ia memutuskan untuk menciptakan saya melalui pensil dan kertas kosong. Bajingan! Bagaimana bisa penulis bajingan itu menciptakan saya dengan sederhana sedangkan ibunya bertaruh nyawa demi melahirkannya ke dunia. Hidup ini memang tidak adil dan menyebalkan. Ia sama sekali tidak mengerti proses dan perjuangan.

Sudah begitu nasib saya ternyata dibikinnya sial. Persis seperti nasib yang sedang penulis bajingan itu rasakan. Memangnya apa nikmatnya berbagi cerita kesialannya kepada orang yang memiliki nasib yang sama?

 

Saya kira penulis bajingan itu akan menciptakan saya dengan nasib yang lebih baik. Katakan saja kaya raya: pakaian tidak kurang, makan tidak kurang, tidur tidak kurang, kekasih tidak kurang. Sehingga kami berdua bisa saling bercerita sambil berbagi makan, minum, rokok. Atau barangkali saya bisa berbagi kekasih saat ia mulai bosan dengan aroma tidak sedap dari mulut saya.

*

Cerita saya telah ditulisnya selama kurang lebih lima tahunan dan kini telah dibaca oleh banyak orang. Penulis bajingan itu meyimpul senyum karena ia merasa nasibnya sudah agak berubah. Dan bajingannya, saya tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya dibikin untuk menerima segala takdir. Takdir buruk!

Manusia macam apa yang bisa dan tahan hidup dalam bayang-bayang kesedihan masa lampau orang lain dan merasa itu adalah takdir dan kita tidak bisa melakukan apa-apa selain menerimanya dengan lapang.

Menjadi tikus mati karena terlindas kendaraan dan tidak dipedulikan oleh semua orang sepertinya lebih baik daripada tikus yang selamanya diam di atap dalam keadaan gelap. Sebab ia telah berani mengambil keputusan dengan segala risikonya meski gagal.

Saya tidak bisa menjadi, sebutlah, burung kacer yang diburu banyak orang lalu disimpan dalam sangkar dan tidak tahu bagaimana caranya keluar dan lari dan terbang. Menemui burung-burung lain dan berbincang-bincang tentang nasib dan takdir, “Sayap kami masih bisa bekerja dengan baik.”

Tetapi penulis bajingan itu tidak lagi menderita. Pakaian cukup, makan cukup, tidur cukup, kekasih cukup. Suara tik tok jam tengah malam tidak membikin sakit gendang telinga dan ingatan. Suaranya bahkan nyaris tidak terdengar seperti ketika saat matahari membuat orang-orang menjadi tua dan lelah.

Penulis bajingan itu memiliki teman bicara baru dari balik layar teleponnya dan, ya Tuhan.. saya betul-betul telah merasakan kesedihan penulis bajingan itu seutuhnya.

Profil Penulis

Muhammad Syamsul
Muhammad Syamsul
Mahasiswa UIN Bandung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *