Esai

Khayalan Baik Untuk Hari Puisi Nasional

Gambar diambil dari sini

Saya berdiri di depan anak-anak SMP yang sedang ujian, seorang siswa bertanya soal Chairil Anwar. Iseng saya tanyakan pula hal itu pada seisi kelas. Sebuah kelas berisi dua puluh lima anak itu mendadak lebih hening dari sebelumnya. Seolah-olah sebuah bom dengan daya ledak mengerikan baru saja mampir dan menyelesaikan pekerjaannya di tengah-tengah kami.

Tiap Senin tiba anak-anak seusia itu berdiri upacara. Lalu seseorang dengan sebuah pelantang suara mengulang-ulang pembicaraan yang sama di tiap acara yang sama. Agar anak-anak merasa bangga menjadi anak Indonesia, masa depan bangsa ada pada  mereka, kekayaan alam dan manusianya, rajin belajar, taat orang tua, dan lain-lain, dan lain-lain.

Di zaman yang menuntut melek literasi, mengoptimalkan informasi, dan memperhatikan progres-progres ilmu pengetahuan, kita tidak pernah benar-benar sadar. Bahwa hanya dari budaya literasilah hal-hal semacam itu bisa dibangun.

Tapi yang kita lihat adalah usaha gila-gilaan dalam pembangunan-pembangunan infrastruktur. Di saat yang sama, tidak banyak yang berubah dalam sistem pendidikan kita. Untuk soal terakhir ini mungkin kita harus bersabar dan melihat apakah program-program Gerakan Literasi Nasional (GLN) sungguh-sungguh konsisten dan berhasil.

Habibie bilang bahwa masyarakat modern dibangun dari dalam, kemudian ke luar. Bukan sebaliknya. Ia dibangun dari jiwanya, spiritnya, kemudian raganya. Dalam hal ini, literasi adalah jiwa kita yang belum hidup.

Jika pembangunan fisik selalu digenjot, sekaligus mengabaikan pembangunan budaya literasi, maka tak heran jika yang terjadi adalah penggusuran demi penggusuran dengan dalih  pembangunan. Hal yang tidak saja menunjukkan betapa tidak optimalnyanya niat baik pemerintah untuk menyejahterakan bangsa. Namun juga menunjukkan betapa naifnya kita dalam memandang visi pembangunan.

Tahun lalu saya ulin ke UPI Bandung, ke Sekretariat organisasi ASAS Apresiasi Sastra (komunitas sastra mahasiswa di UPI) hanya sekadar ingin bertemu teman yang kebetulan pernah jadi ketua organisasi ini. Kami mengobrol sampai larut malam menghabiskan dua gelas kopi dan beberapa cemilan.

Kami mengobrol dari soal jodoh, sampai ke nostalgia ke masa-masa sekolah, keagamaan sampai masalah spiritualitas orang atheis, filsafat sampai ke film-film JAV. Sampai kemudian ada bahasan yang jika dibahas sampai dunia hangus dengan bom nuklir sekalipun urusan itu tidak bakal kelar.

“Mau gimana Sastra Indonesia?” tanyanya. Bagi Adhimas yang biasa bergelut dan membiarkan pikirannya disibukkan oleh sastra sebagai kerja-kerja mulia dan adiluhung, pertanyan semacam itu sangatlah normal. Ia protes betapa buruk kualitas puisi-puisi dan cerpen yang dimuat di koran hari minggu belakangan.

Obroal ini sebetulnya tidak menarik. Tapi demi menghormati kawan mengobrol saya tetap harus menimpali. Kekhawatiran saya (jika bisa disebut demikian) tentu saja agak berbeda. Sejujurnya saya tidak peduli jika para penulis Indonesia, seperti yang dikatakan Adhimas tadi tidak mencapai bentuk estetika yang lebih segar, apalagi maju. Urusan saya dengan sastra, hanyalah membaca semaunya, mengunjungi bedah buku semampunya, menulis sesempatnya, dan melakukan kerja-kerja kecil nan mudah lainnya. Seperti bikin media online, membuka perpustakaan jalanan, dan merencanakan penerbitan.

Selebihnya saya sudah tidak mau merepotkan diri. Tidak mau ambil pusing jika memang anak-anak di sekolah tempat saya mengajar kebingungan ketika dapat soal puisi Chairil Anwar. Sebab urusan-urusan begitu benar-benar menyebalkan. Lagi pula masih banyak yang harus bertanggung jawab dengan hal itu. Balai Bahasa dan Dinas Pendidikan misalnya.

Tapi saat itu saya tidak menjawab kegelisahan Adhimas seperti yang baru saya uraikan. Saya mengatakan hal lain. Semisal untuk Purwakarta, saya masih percaya potensi kultur nongkrong anak muda Purwakarta, perangkat pemerintahan Purwakarta, sekolahan, program ekstra kurikuler, program radio, antologi puisi warga, dan kerja-kerja kolaboratif yang mungkin bisa dibangun di titik-titik berbeda itu.

Di Purwakarta dan mungkin kota lain, hal semacam itu adalah potensi yang menyenangkan dalam dunia literasi kita. Sehingga—untuk Purwakarta—bukan melulu patung-patung dan taman-taman saja yang terus dibangun. Sementara perpustakaan daerah yang selalu sepi itu entah bagimana selalu terasa penuh dan sempit dengan suara-suara orang sedang bergosip.

Mengharapkan budaya literasi di kita agar seperti di negara-negara maju mungkin perlu waktu yang lama. Tapi paling tidak kita sudah lihat banyak yang terus-menerus berusaha merintis dan membuka jalan. Para altruis yang membuka sanggar, taman baca, komunitas, dan mengadakan even-even. Berharap saja hal itu semakin banyak dan istiqamah sehingga membuahkan hasil yang baik.

Malam itu mungkin kami memang cuma bicara omong kosong. Tapi mungkin saja malah sedang meyakinkan diri masing-masing untuk melakukan sesuatu, tapi entah apa. Yang jelas malam itu kami baru beranjak tidur ketika jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Saya memejamkan mata dan berharap lupa kalau malam ini baru saja ngobrolin sesuatu yang membosankan dan bikin putus asa.

Dalam bayang-bayang saya sebelum tidur segerombolan anak sekolah membicarakan hal yang menyenangkan didengar.

“Eh, menurut gue, Pram itu gak bakat menulis. Bener kata Idrus, Pram itu cuma berak.”

Atau… “Eh, kenapa yang puisi ‘Aku’ Chairil Anwar itu pakai istilah binatang jalang, bukan pelakor?”

Lalu mereka terbahak, entah karena kata berak itu, atau hal lain.

Bagaimanapun, jika kita memandang semua hal ini penting maka kita masih punya banyak pekerjaan rumah demi generasi selanjutnya. Meski hal yang kubayangkan tadi mungkin akan terjadi 300 tahun lagi. Btw bukankah itu tetap hayalan yang baik, saudara?

Profil Penulis

Ahmad Farid
Ahmad Farid
Muda dan tak berdaya. Pustakawan di @pustakaki dan aktif di @gusdurianpwk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *