Ketika Korek Lebih Berharga daripada Rokok

Berharga tidaknya sesuatu bagi seseorang tidak harus diukur dari seberapa mahal harganya. Banyak alasan untuk menganggap sesuatu lebih berharga dari barang lain meski harganya lebih murah. Seperti sebuah gelang yang dianggap berharga karena sebab pemberinya. Entah diberi oleh kekasih, teman sejati, atau mungkin tokoh idola sehingga gelang itu dianggap berharga.

Apa-apa yang berharga musti akan kita jaga agar tidak hilang, bagaimanapun caranya. Bahkan terkadang bila ada yang mau membelinya dengan harga lebih dari harga asal kita tetap tidak mau menjualnya dengan alasan keberhargaan barang tersebut.

Terlepas dari pendapat tentang barang apa yang paling berharga bagi masing-masing orang, ada satu kasus yang kerap terjadi tapi jarang kita temukan alasannya. Seperti lebih berharganya korek api dibanding dengan rokok. Padahal bila dibandingkan harganya pasti akan lebih mahal rokok. Harga korek api umumnya mungkin setara dengan harga 2 batang rokok Surya. Tapi kenapa rasanya koreklah yang lebih berharga daripada rokok itu sendiri? Para perokok juga lebih takut atau lebih waspada terhadap hilangnya korek api daripada hilangnya rokok.

Dalam hal ini, berharganya korek tentu bukan karena siapa yang memberi korek itu. Sebab jarang orang memberi korek sebagai kenang-kenangan. Mungkin memang ada tapi jarang. Bila dipikir lagi, tanpa korek orang tidak bisa merokok begitu pula tanpa rokok orang pasti tidak bisa merokok. Bila hilang salah satu sama-sama tidak berguna dalam hal merokok. Sebab korek dan rokok sudah seolah menjadi satu kesatuan.

Karena berharganya korek api ini juga kerap memunculkan tindakan pencurian atau penyelundupan korek. Tidak sama seperti rokok yang meski hilang sedikit demi sedikit tapi tidak terlalu membuat perokok kesal. Ya, kehilangan korek lebih kesal dan jengkel rasanya daripada kehilangan rokok, asal rokoknya tidak langsung hilang satu pack. Oleh sebab itu mari renungkan sedikit tentang hal apa yang sebenarnya membuat korek ini seolah-olah lebih berharga daripada rokok.

Pertama, karena korek itu kecil dan mudah hilang dari pengawasan mata. Tidak seperti rokok yang ukurannya relatif lebih besar sehingga untuk mengingat di mana terakhir menaruh korek itu lebih susah dari pada mengingat di mana terakhir meletakkan rokok.

Ke dua, meski memang tanpa rokok tapi punya korek kita masih bisa meminta rokok pada teman-teman. Berbeda bila kita punya rokok tapi tak punya korek. Kita hanya bisa meminjam korek, bukan meminta korek. Korek bagaikan keahlian dan rokok adalah barang mentah. Sama seperti Indonesia punya banyak bahan mentah tapi minim keahlian untuk mengolah. Jadinya negara asinglah yang banyak meraup keuntungan karena punya banyak tenaga ahli. Sama seperti kasus rokok dan korek. Korek sebagai tenaga ahli dan rokok diibaratkan bahan mentah.

Ke tiga, perokok tidak pernah tahu pasti kapan gasnya korek habis. Sebab sering terjadi kejahatan pencurian dan penyelundupan korek. Baru beli moro-moro hilang entah ke mana sehingga para perokok merasa panasaran seperti apa rasanya punya korek sampai gasnya habis. Berbeda dengan rokok yang mungkin bisa diperkirakan kapan habisnya. Jadi sudah biasa rokok habis sampai tetes terakhir, tidak seperti korek api.

Ke empat, korek lebih banyak manfaatnya daripada rokok. Korek selain untuk membakar rokok tapi juga bisa dibuat membakar yang lain, asal jangan membakar emosi saja. Berbeda dengan rokok yang hanya bisa dihisap, tidak bisa yang lain.

Ke lima, berdasarkan pengalaman banyak orang, yang paling sering hilang adalah korek jadi kerawanan hilangnya korek ini membuat para perokok menganggap korek lebih berharga daripada rokok. Juga, paling tidak rokok akan dibeli satu hari sekali bila intensitas merokoknya kelas kakap. Bagaimana dengan korek yang rawan hilang? Apa harus selalu beli ketika hilang, hilang dan hilang lagi. Maka perokok pun menganggap korek lebih berharga daripada rokok.

Itulah beberapa alasan mengapa korek lebih berharga daripada rokok meski harganya tak seberapa. Namun alangkah lebih berharganya bila ke duanya mesra di kantong kita setiap saat, setiap waktu tanpa harus mencari pasangannya satu sama lain. Tapi menjaga agar rokok dan korek tidak terpisah itu seperti menjaga beratnya hubungan kita dik. Iya, hubungan kita. Hikzz.

 

 

 

Profil Penulis

Ozik Ole-olang
Ozik Ole-olang
Lahir di Lamongan, 21 Desember 1998. Penulis adalah mahasiswa rantau asal Madura. Kerap menulis di sejumlah web. Sekarang sedang mukim di kota Malang