Kesalahan-kesalahan Puisi Esai

Mencermati apa yang dipaparkan Jamal D. Rahman dalam esainya, “Puisi Esai: Percobaan Seorang Ilmuwan Sosial”, dapat disimpulkan bahwa setidaknya ada dua hal yang berusaha dicapai puisi esai a la Denny J.A.—selanjutnya puisi esai saja, meski istilah ini bermasalah.

Pertama, ia berusaha (lebih) mendekatkan puisi kepada pembaca. Ini diwujudkan dalam ketentuan penggunaan bahasa puisi esai yang kendati diikhtiarkan puitik namun haruslah relatif mudah dipahami; tidak ada jukstaposisi atau alienasi atau semacamnya; metafora boleh ada namun tidak sebagai sesuatu yang memusingkan atau membutuhkan pembacaan mendalam untuk memahaminya. Wujud lainnya adalah pemilihan tema, di mana tema yang diangkat mestilah sebuah fenomena sosial yang tengah atau telah terjadi di masyarakat sehingga si puisi tidak akan terasa asing di mata pembaca.

Kedua, ia berusaha memperoleh posisi tawar yang tinggi di kesusastraan kita, menempati sebuah ruang penting dalam sejarah puisi yang tengah terbentuk—atau dibentuk(?). Untuk yang satu ini, wujudnya adalah klaim bahwa puisi esai adalah pembaharu, adalah sebuah terobosan yang dinilai menawarkan apa yang belum ada dan memberi pengaruh yang signifikan terhadap pergerakan dan perkembangan puisi di tanah air. Sebuah percobaan dari seorang ilmuwan sosial, begitu Jamal menyebutnya.

Tulisan ini akan mencoba menunjukkan bahwa kedua hal tersebut, terlepas dari langkah-langkah ambisius yang diambil Denny J.A. dalam beberapa waktu terakhir, akan sangat sulit tercapai—jika bukan mustahil tercapai.

 

Pembacaan yang Keliru

Hasan Aspahani, dalam esainya, “Sastra yang Sehat dan Penyakit Puisi Esai”, menganalogikan puisi esai sebagai sebuah penyakit dalam kesusastraan kita. Bukan penyakit yang berat, tetapi lumayan mengganggu. Begitu ia menjelaskan. Hasan kemudian menyatakan optimismenya bahwa si penyakit ini pada akhirnya akan tumbang juga, terlepas dari upaya-upaya gencar yang senantiasa dilakukan untuk menopangnya dan mendorongnya dan membesarkannya. Itu karena, menurut Hasan, kesusastraan kita memiliki antibodi yang (cukup) kuat untuk menolak dan membunuhnya.

Langgeng Prima Anggradinata kurang lebih menyatakan hal yang sama. Lewat esainya, “Bagaimana Sejarah Melempar Mereka ke Pinggiran”, Langgeng mengatakan bahwa, meskipun melalui tiga jalur penting dalam kesusastraan—kendaraan sejarah, kritik sastra, dan penerbitan buku—Denny J.A. dan puisi-esai yang digagasnya berusaha merangkak ke pusat estetika sastra Indonesia, yang akan ia hadapi adalah kegagalan. Langgeng memberi penekanan pada tidak adanya dukungan dari rezim sebagai penyebab kegagalan tersebut.

Saya sendiri sepakat dengan Hasan dan Langgeng terkait kegagalan yang akan dihadapi puisi esai—juga Denny J.A. Namun, alasan dan pendekatan saya berbeda. Dalam pemahaman saya kegagalan tersebut dikarenakan Denny J.A. selaku penggagas puisi esai telah keliru dalam melakukan pembacaan atas realitas saat ini, khususnya yang berkenaan dengan puisi. Pembacaan yang keliru ini terlihat jelas dari karakteristik atau bentuk puisi esai sebagaimana dipaparkan Jamal dalam esainya tadi.

Di sini saya ingin memperbandingkan puisi esai yang digagas Denny J.A. ini dengan Pop Art-nya Andy Warhol. Menurut saya, hingga taraf tertentu, keduanya serupa.

Pop Art berusaha meleburkan seni rupa dengan budaya populer Amerika Serikat (AS) pada saat itu. Bicara tentang Warhol, misalnya, kita bisa melihat itu dalam pemilihan subject matter, di mana yang dihadirkan Warhol dalam lukisan-lukisannya adalah apa-apa yang umumnya ditemukan masyarakat AS saat itu di keseharian mereka yang lekat-erat dengan budaya populer: bintang film, cola, makanan kaleng, penyanyi, tokoh kartun, tokoh masyarakat. Dengan begitu, karya-karyanya menjadi santapan hangat publik AS saat itu, terutama mereka yang “muda” dan mulai jenuh—bahkan muak—dengan Ekspresionisme Abstrak dan hal-hal yang menyeret mereka pada trauma Perang Dunia II. Pop Art, dalam waktu yang relatif singkat, menjelma jadi sebuah alternatif yang tepat bagi Ekspresionisme Abstrak. Ia menandinginya sekaligus menjadi “pusat” baru.

Di mata penikmatnya, tentu saja di sini kita menyertakan juga orang-orang AS saat itu yang awam soal (sejarah) seni rupa, Pop Art bernilai tinggi karena ia berhasil membuat seni rupa menjadi begitu dekat dengan mereka; begitu dekat sampai-sampai mereka pun akhirnya kesulitan membedakan yang mana seni rupa yang mana realitas, yang mana karya seni yang mana produk budaya populer. Di mata kritikus atau pelaku seni rupa, di sisi lain, Pop Art bernilai tinggi karena keberhasilannya meleburkan seni rupa dengan budaya populer membuat mereka mau tak mau mempertanyakan (kembali) apa itu seni rupa dan untuk apa ia ada, dan untuk apa mereka ada dan menggelutinya. Kontribusi Pop Art terhadap pergerakan dan perkembangan seni rupa dunia (Eropa-AS) sangat besar, dengan kata lain.

Apa yang dilakukan Denny J.A. dengan menggagas puisi esai sesungguhnya adalah peleburan tersebut. Jika bertolak pada dua kata pembentuknya, mestilah ia adalah sebentuk peleburan dari puisi dan esai. Namun Jamal dalam esainya tadi menjelaskan, yang dileburkan di dalam puisi esai adalah fiksi dan fakta, di mana fiksi diwakili oleh puisi dan fakta diwakili oleh catatan kaki. Jamal selanjutnya juga menjelaskan bahwa dalam sebuah puisi esai, dikarenakan Denny J.A. si penggagasnya adalah seorang ilmuwan sosial, posisi fiksi sebagai yang primer dalam puisi (karya sastra) digantikan oleh fakta. Dengan demikian, secara tidak langsung, Jamal berusaha menawarkan kepada kita sebuah gagasan bahwa dalam sebuah puisi esai yang peran dan eksistensinya lebih krusial adalah catatan kaki. Pertanyaannya: bisakah kita menerima tawaran ini?

Meski sama-sama meleburkan dua hal, Pop Art dan puisi esai memiliki sejumlah perbedaan mencolok dalam peleburan ini. Salah satunya adalah karakter dua hal yang dileburkan itu. Pop Art, seperti telah saya terangkan tadi, meleburkan seni rupa dengan budaya populer, di mana yang pertama dinilai tinggi dan yang kedua dinilai rendah—oleh para kritikus dan pelaku seni rupa saat itu. Keberlawanan-kutub ini harus kita garis bawahi. Selain itu, kita juga harus ingat bahwa sementara kutub yang satu cenderung jauh dari masyarakat awam, kutub yang satu lagi justru adalah bagian dari masyarakat awam. Terkait hal inilah puisi esai berbeda. Catatan kaki, sebagai representasi dari fakta, tentulah bukan sesuatu yang lekat-erat dengan pembaca awam, bukan sesuatu yang bisa kita sebut bagian dari kehidupan mereka sehari-hari. Bahkan tak berlebihan kiranya untuk mengatakan bahwa bagi sebagian orang catatan kaki justru adalah sesuatu yang keberadaannya tak penting dan karenanya bisa dilewatkan.

Intinya, ia bukan bagian dari realitas yang dihadapi masyarakat pembaca. Inilah salah satu hal yang akan membuat Pop Art dan puisi esai semakin berbeda. Sementara Pop Art meraih kesuksesan tak lama setelah kemunculannya, dan masih menjadi salah satu aliran seni rupa yang paling berpengaruh ketika kita melihatnya sekarang, dalam konteks seni rupa dunia saat ini, puisi esai justru sebaliknya: ia akan lekas mengalami penurunan popularitas dan posisi tawar dan bukan tak mungkin kelak dianggap tak ada—jika bukan dilupakan. Puisi esai bahkan tak akan sempat memperoleh popularitas seperti yang dicapai Pop Art. Di sini, tentu saja, kita bicara tentang popularitas yang sifatnya alamiah.

Hal lainnya yang membuat Pop Art dan puisi esai berbeda masih berkaitan dengan dua hal yang dileburkan. Budaya populer—lebih tepatnya produk-produknya—yang dipilih Warhol sebagai subject matter dalam lukisan-lukisannya, adalah bagian dari denyut nadi AS saat itu; sebentuk perayaan atas upaya untuk bangkit dari masa silam yang muram akibat pecahnya perang, sekaligus sebuah penanda akan lahirnya kehidupan baru yang lebih riang dan terindustrialisasi dan cenderung glamor dan gemerlap. Karena itu wajar saja Pop Art segera memperoleh sambutan hangat nan meriah. Puisi esai, di sisi lain, tak menempuh jalan itu.

Kita tentu tak mungkin mengatakan bahwa apa-apa yang dipilih sebagai subject matter dalam sejumlah banyak puisi esai sejauh ini—isu-isu sosial terkait diskriminasi, misalnya—adalah apa yang menjadi denyut nadi bangsa kita saat ini. Kelebihan Pop Art sebagai sebuah aliran seni rupa adalah ia begitu cepat merespons realitas; ia melahirkan diri dari realitas untuk kemudian membentuk realitas baru dan melahirkan diri lagi dari realitas tersebut dan seterusnya. Puisi esai? Dari apa yang terlihat sejauh ini, ia tak lebih dari sebuah upaya untuk merekam realitas dengan nyaris tak melakukan perlakuan apa pun terhadapnya, sehingga sulit dibayangkan ia akan turut aktif membentuk realitas baru.

Selain itu, Pop Art pun lambat-laun menunjukkan bahwa wujud dari respons aktif dan cepat mereka terhadap realitas diwujudkan juga dalam teknik, yakni dengan memanfaatkan teknologi yang tengah berkembang saat itu seperti silk-screening; dengan cara ini ia semakin bisa mendekatkan dirinya kepada para penikmatnya yang memang tengah berhadapan dengan teknologi tersebut. Puisi esai? Sekali lagi, tidak. Di titik ini kita bisa melihat bahwa sementara Pop Art terlahir dari sebuah gagasan yang kontekstual dan visioner, puisi esai justru terlahir dari sebentuk ambisi semata untuk memunculkan sesuatu yang seolah-olah baru, yang seolah-olah segar. Karena itulah, tak seperti Pop Art, puisi esai akan gagal.

Denny J.A. selaku penggagas puisi esai telah keliru melakukan pembacaan atas realitas, baik itu yang ada saat ini maupun yang mungkin ada di tahun-tahun nanti. Jikapun realitas di sini kita persempit menjadi hanya kesusastraan, ia tetap melakukan kekeliruan. Kita tahu, dalam  beberapa tahun terakhir, untuk konteks puisi, kesusastraan kita penuh-padat oleh puisi-puisi yang cenderung mengabaikan pengolahan bahasa dan fokus pada penggarapan tema atau perspektif. Bahasa sebagai tubuh untuk dibedah dan diolah tidak kuat terlihat; yang ada justru bahasa terkesan dikembalikan kepada fungsinya di realitas sehari-hari—penyampai pesan.

Dengan konteks seperti ini, yang dilakukan Denny J.A., jika ia benar-benar ingin menggagas sesuatu yang “baru”, mestilah mengambil sisi yang ekstrem, menawarkan sebuah antipoda untuk melawannya habis-habisan. Itulah yang dilakukan Warhol; itulah yang dilakukan Pop Art. Sementara Ekspresionisme Abstrak menghindari sejauh mungkin menawarkan bentuk-bentuk realis atau yang menyeret kita begitu kuat ke realitas, Pop Art justru sebaliknya; menyeret kita begitu kuat ke realitas. Gagasan yang ditawarkan Denny J.A. lewat puisi esainya, di mana bahasa dalam puisi hampir-hampir ditampilkan sebagaimana apa adanya, yang dimaksudkannya sebagai sebentuk perlawanan, benar-benar seperti sesuatu yang terlepas dari konteks. Ia bukan saja ahistoris, namun juga nirkonteks. Karena itulah, sekali lagi, puisi esai akan gagal.

 

Titik Tengah Antara Puisi dan Pembaca

Semestinya Denny J.A. belajar dari apa yang dilakukan Remy Sylado. Dengan mencetuskan puisi mbeling, Remy melakukan dua hal sekaligus: (1) mendobrak tradisi puisi yang dianggapnya kaku dan (2) meleburkan puisi (tinggi) dengan realitas sehari-hari yang penuh kenakalan, kebermain-mainan, dan pemberontakan (rendah). Dua hal ini sudah cukup mampu menjadikan puisi mbeling sebagai sebuah alternatif dalam kesusastraan kita, sebagai sebuah genre—bukan seakan-akan genre—yang hingga kini jejaknya masih ada dan mungkin akan terus ada.

Atau, Denny J.A. bisa belajar dari Sapardi Djoko Damono. Atau, Joko Pinurbo (Jokpin). Puisi-puisi Sapardi dan Jokpin adalah titik tengah antara puisi dan pembaca; di satu sisi puisi-puisi itu bernilai sastra tinggi, di sisi lain ia hadir dalam wujud yang begitu dekat dengan pembaca awam sekali pun, dan karenanya mudah dijangkau oleh mereka. Puisi mbeling-nya Remy pun, jika kita bicara soal nilai sastranya, tidak kalah tinggi. Ini karena puisi mbeling yang melakukan pemberontakan ekstrem terhadap tradisi puisi itu menuntut untuk dibaca secara lain, secara liyan, dan karenanya estetikanya pun liyan. Dalam hal ini, puisi mbeling mirip sekali dengan Dada.

Di sini kita bisa menyimpulkan bahwa, sebagai pembaharu, yang harus dimiliki bukan saja keberbedaan melainkan juga kualitas. Puisi esai yang digagas Denny J.A. benar-benar lemah dalam apa yang disebut terakhir. Menakar nilai sastranya dengan bertolak pada tradisi sastra, kita tak mendapati apa-apa selain kekecewaan. Di saat yang sama, “genre” tersebut terlampau kurang ekstrem untuk bisa disebut menawarkan estetika yang liyan. Puisi esai seolah-olah berada di tengah-tengah, terjebak di tengah-tengah, di antara puisi bernilai sastra tinggi dan puisi bernilai sastra rendah. Dengan kata lain, medioker.

Penting untuk menarik mediokritas puisi esai ini ke karya-karya Warhol. Bukan dalam upaya menyamakannya, tentu; justru sebaliknya. Karya-karya Warhol, kendati tampak sederhana dan seperti bisa dilakukan oleh siapa saja, mereka memiliki kedalaman yang mampu membuat penikmatnya seperti tercebur ke dalam sebuah gelas besar berisi cairan kental, berwarna gelap, bahkan mungkin berbau. Ini karena di balik tampilan luarnya yang sederhana dan cerah dan tampak main-main atau asal-asalan itu, tersembunyi sesuatu yang dalam dan mencekam; semacam rasa sakit atau kemuakan atau trauma lain; sesuatu yang tentunya lahir dari budaya populer yang diambilnya sebagai subject matter itu. Kedalaman. Ini sesuatu yang wajib ada dalam sebuah karya berkualitas, terlebih lagi jika ia dimaksudkan sebagai pembaharu.

Puisi-puisi Sapardi dan Jokpin memiliki ‘kedalaman’ itu. Meski sekilas puisi-puisi mereka tampak polos dan sederhana, seolah-olah siapa pun bisa membuatnya dengan mudah, di balik itu ada sesuatu yang lain, sesuatu yang liyan, semacam kepedihan atau rasa sakit atau tragedi atau kekosongan, atau kehampaan. Dalam puisi-puisi Jokpin, misalnya, di balik hal-hal lucu dan komikal itu, ada kepedihan yang begitu liris. Dalam puisi-puisi Sapardi, di balik kesederhanaan yang begitu dominan, tersembunyi sebuah ruang kontemplasi yang jika seseorang memasukinya dan menghabiskan waktu cukup lama di sana ia mungkin mengalami sebuah peristiwa transendental, persis seperti yang akan ia dapati saat berhadapan dengan karya-karya beraliran Minimalisme. Puisi mbeling sendiri, di balik kenakalan dan kebanalan dan kebermain-mainan dan kekurang-ajarannya, menyembunyikan sebuah kenyataan pahit bahwa realitas yang kita jalani sehari-hari ternyata tak pernah benar-benar menyenangkan.

Puisi esai yang digagas Denny J.A. tidak memiliki itu. Benar memang isu-isu sosial diambil sebagai subject matter, benar memang fakta dihadirkan lewat catatan kaki, benar memang fiksi dan fakta dipertemukan dalam satu tubuh puisi, tetapi tidak terasa ada kedalaman. Penyebabnya saya kira adalah peleburan itu sendiri yang berhenti hanya di tahap luar, di permukaan. Jika yang dimaksudkan Denny J.A. adalah seperti apa yang dipaparkan Jamal, maka dipertemukannya fiksi dan fakta di satu tubuh puisi, yang diklaim sebuah penyegaran itu, tidak sampai membuat mereka saling melilit satu sama lain, saling menyatu sama lain, saling meresap ke tubuh masing-masing, melainkan hanya sekadar bertemu dan berhadap-hadapan, dan bergerak di satu ruang. Sebagai konsekuensinya, yang tersaji ke hadapan kita adalah sesuatu yang kering, sesuatu yang dangkal, sesuatu yang lekas pudar dan tak membekas. Tentu saja, tidak semestinya sebuah pembaharu seperti itu.

Dipertemukan dan dileburkannya dua hal dalam sebuah puisi mestilah dilakukan hingga ke sisi terdalamnya, membuat kedua hal itu benar-benar melebur-sabur, dengan itu ia bisa menawarkan kepada kita kedalaman, dengan itu si puisi jadi memiliki kedalaman. Puisi-puisi yang bekerja dengan cara seperti itu akan dengan sendirinya menarik minat pembaca,dan cenderung membuat pembaca nyaman bahkan jatuh cinta. Dengan kata lain, ia menjadi titik tengah antara puisi dan pembaca; sebuah ruang yang hangat dan terang yang mempertemukan dan mendamaikan keduanya. Di sini, segalanya berlangsung secara alamiah; tidak diperlukan rekayasa apa pun

 

Kontribusi Terhadap Peradaban (Sastra)

Kesalahan puisi esai lainnya yang akan membuat ia gagal berkaitan dengan langkah-langkah yang ia ambil untuk merangkak ke pusat estetika sastra. Ia meleburkan puisi dengan esai, fakta dengan fiksi, namun tidak ada daya hantam yang kuat yang kemudian dihasilkannya, sehingga mereka yang membacanya, terutama para kritikus dan pelaku sastra, tidak merasakan dorongan apa pun untuk mencoba melihat puisi atau esai dengan cara lain, fiksi atau fakta dengan cara lain, lewat perspektif lain. Kontribusinya terhadap peradaban (sastra) hampir-hampir tidak ada, dengan kata lain. Saya katakan hampir karena memang sedikitnya kontribusi itu ada, yakni memberi rasa sakit yang cukup mengganggu seperti yang dikatakan Hasan Aspahani tadi.

Bandingkanlah dengan Pop Art, dan kita lagi-lagi mendapati puisi esai benar-benar kalah telak. Pop Art, dengan keberhasilannya meleburkan seni rupa dengan budaya populer, membuat para kritikus dan pelaku seni rupa saat itu mau tak mau memikirkan ulang apa itu seni rupa, apa itu kerja seni, apa itu seniman, bahkan apa itu realitas. Saya coba sedikit menjabarkannya. Dengan dileburkannya seni rupa dan budaya populer, batas-batas yang semula ada di antara keduanya menjadi sangat samar, menjadi tak kasatmata dan hampir-hampir tak ada. Itu artinya seseorang bisa mengklaim kehidupan atau realitas yang dijalaninya dalam budaya populer sebagai karya seni (rupa), begitu juga sebaliknya.

Dengan demikian, melakukan kerja seni dan menjadi seorang seniman pun, atau tidak melakukan keduanya, berada dalam situasi seperti itu; sebuah ambang yang membuat segala sesuatunya serba bias. Warhol pernah berkata bahwa, sementara orang-orang menganggap apa yang terjadi di film itu tak nyata, justru hal-hal tak nyata itulah yang terjadi dan dihadapi orang-orang di realitas, di keseharian mereka yang mereka anggap nyata itu. Ketika suatu hari ia ditembak oleh Valerie Solanas, Warhol merasa ia seperti tengah menonton televisi; itu juga yang ia rasakan setelahnya. Salurannya memang berganti, tetapi itu tetap acara televisi. Begitu Warhol menjelaskan.

Puisi esai, dalam hal ini, sama sekali tak mendorong kita untuk melakukan pembacaan ulang terhadap realitas, tidak juga terhadap puisi itu sendiri. Menyamarkan batas-batas antara puisi dan esai? Banyak orang telah melakukannya sebelumnya, baik itu dalam wujud esai puitik maupun puisi naratif-argumentatif; dan mereka melakukannya dengan lebih baik, jauh lebih baik. Menyamarkan batas-batas antara fiksi dan fakta? Lagi-lagi sudah banyak orang yang melakukannya; bahkan tidak berhenti pada takaran teks saja. Marina Abramovich, dengan seni rupa pertunjukkannya, adalah salah satunya.

Dengan kesalahan-kesalahannya itu, jelaslah kiranya, akan sangat sulit bagi puisi esai untuk mencapai dua hal yang saya kemukakan di awal tadi. Dan situasi ini saya kira tidak akan banyak berubah meskipun para pendukungnya senantiasa gencar melakukan pembelaan-pembelaan. Kesalahan-kesalahan tersebut pasalnya berada di awal, dan sifatnya krusial-fundamental. Agar puisi esai mungkin mencapainya, mau tak mau, yang harus dilakukan adalah merombaknya habis-habisan, membangunnya dari awal lagi, tentunya dengan memikirkan apa-apa yang telah saya kemukakan sejauh ini. Tentu saja itu berarti satu hal: baik Denny J.A. maupun para pendukung puisi esai mengakui bahwa mereka telah melakukan kesalahan. Entah kenapa, setidaknya di mata saya, sulit membayangkan itu akan terjadi.

Puisi esai adalah sebuah percobaan dari seorang ilmuwan sosial. Itu yang dikatakan Jamal D. Rahman. Saya sepakat, tetapi dengan catatan ia sebuah percobaan yang gagal. Jika kata gagal dirasa terlalu kejam, bisa diganti dengan mentah. Toh sama saja.(*)

—Bogor, 3-4 Februari 2018

 

Referensi:

Anggradinata, Langgeng Prima. (2018). Bagaimana Sejarah Melempar Mereka ke Pinggiran. https://jurnalruang.com/read/1516336303-bagaimana-sejarah-melempar-mereka-ke-pinggiran. Diakses pada 2 Februari 2018.

Aspahani, Hasan. (2018). Sastra yang Sehat dan Penyakit Puisi Esai. http://www.haripuisi.com/arsip/4012. Diakses pada 2 Februari 2018.

Aspinall, Sarah. (2010). Modern Masters: Andy Warhol. Film dokumenter tentang Andy Warhol dan Pop-Art dari BBC. Durasi: 59 menit 40 derik. Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=_ZfhRuEk4Uc

Denny J.A.’s World. http://dennyjaworld.com/puisi-esai. Diakses pada 3 Februari 2018.

Rahman, Jamal. D. (2013). Puisi Esai: Percobaan Seorang Ilmuwan Sosial. https://jamaldrahman.wordpress.com/2013/02/02/puisi-esai-percobaan-seorang-ilmuwan-sosial/. Diakses pada 2 Februari 2018.

Wikipedia. Andy Warhol. https://en.wikipedia.org/wiki/Andy_Warhol. Diakses pada 3 Februari 2018.

Profil Penulis

Ardy Kresna Crenata
Ardy Kresna Crenata
Tinggal dan bekerja di Bogor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.