Kami Perempuan dan Kami Berhak Memimpin

“Cewek tuh nggak cocok jadi pemimpin, soalnya baperan dan moody. Jadi nggak lucu aja pas ngambil keputusan tergantung suasana hati.” Kalimat itu yang saya dengar ketika mencalonkan diri menjadi ketua OSIS SMA.

Sebagai calon ketua yang satu-satunya berjenis kelamin perempuan di antara calon lainnya. Hal-hal yang bersifat seksis lainnya juga tak pernah lepas dari makanan keseharian selama masa-masa kampanye di sekolah.

Ada yang mengatakan kalau perempuan baiknya jadi sekretaris saja karena tugasnya ringan hanya mencatat dan membuat agenda. Ada juga yang bawa-bawa dalil “Arrijalu qowamu ‘alannisa” segala, yang kemudian diamini para siswa IREMA.

Lebih parahnya lagi ada yang malah melempar statement kalau moody itu sifat mutlak perempuan dan jelas-jelas berpotensi mengacaukan kepemimpinannya.

Sehingga saat debat kandidat, alih-alih pada membahas visi misi, sekelompok pendukung calon sebelah malah melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada kaitannya dengan program kerja yang akan dilakukan OSIS selama satu tahun ke depan.

Jelas ada perasaan tidak nyaman atas sikap teman-teman kubu oposisi, tapi saya berusaha untuk tidak menanggapi dan tetap fokus pada strategi politik sehat sampai pemilu raya siswa tiba. (Edan. Serius sekali yaa… pemilu OSIS ini)

Dua hari menjelang Pemilihan Raya, sekolah mengadakan kompetisi debat antar-calon. Ketiga pasangan calon duduk di depan dengan posisi yang malah bisa dibilang seperti lomba cerdas cermat. Ketiga paslon ditanya tentang wawasan sejarah sekolah, visi-misi, dan pengetahuan umum. Saat itu, yang menjadi wakil saya adalah Ilyas, laki-laki patuh yang setia mendengar intruksi saya.

Kompetisi debat dimulai, kami menjawab pertanyaan dengan tegas dan lugas. Tapi, ada satu hal yang menjengkelkan. Lawan saya dengan nomor urut satu terus berbicara tanpa memberi saya kesempatan menjawab sampai waktu habis. Saya memprotes pada panitia, tapi yang didapat malah jawaban “argument lelaki biasanya yang paling mewakili.”

Kekesalan saya semakin bertambah ketika sesi akhir debat, lawan saya menutup forum dengan kalimat “laki-laki lebih tegas untuk urusan memimpin, kenapa? Karena laki-laki tidak menstruasi.” Kalimat itu mengundang banyak tawa seisi sekolah. Mereka menganggapnya itu lelucon, padahal bagaimanapun itu merendahkan. Bahkan merendaahkan semua perempuan di muka bumi ini.

Peristiwa pemilihan ketua OSIS dan bagaimana budaya seksisme di sana menggambarkan satu hal: bahwa hal seperti itu lumrah belaka dan sadar atau tidak, budaya meremehkan kepemimpinan perempuan memang dibangun sejak kita sangat muda. Entah itu berawal dari kebiasaan dalam rumah, lingkungan atau sekolah.

Sehingga tak heran memunculkan sebuah kesimpulan bahwa perkara kepemimpinan adalah hal yang bersifat maskulin dan jika perempuan bersifat maskulin sudah tentu ia melawan norma adat yang berlaku.

Memangnya tahu apa sih laki-laki soal perempuan?

 

Kepemimpinan tidak ada hubungannya dengan Seksualitas

Menurutmu, apa hubungan menstruasi dengan letak jabatan seoarng perempuan? Apakah jika  seorang perempuan memimpin, lantas rakyatnya akan diabaikan?

Mengaitkan menstruasi dengan kedudukan perempuan dalam pekerjaannya sama halnya makan burger pakai nasi alias nggak nyambung.

Kedua hal itu jelas sekali berbeda. Dalam pendekatan peran gender dan kepemimpinan dijelaskan, bahwa pemimpin mempunyai peran yang spesifik dalam hirarki dan jelas berada di luar persoalan gender mereka. Sedangkan seksualitas adalah hal-hal yang tidak bersifat kontruksi sosial, alias ada secara lahiriah dan kodrati.

Pembedaan fungsi dan peran antara laki-laki dan perempuan tidak ditentukan karena keduanya memiliki kodrat dan gender, melainkan dibedakan menurut fungsi, kedudukan, dan peranan masing-masing dalam kehidupan sosial dan berbudaya.

Sangat disayangkan, bahwa sebuah kelompok diskusi Mahasiswa mengkritisi kebijakan Bupati Purwakarta baru yang notabene perempuan, dengan istilah “mungkin dia sedang menstruasi, makanya kacau.”

Sayang sekali. Secara tidak langsung ia sudah mempermalukan dirinya sendiri dengan merendahkan perempuan. Kritis kok merendahkan. Bukannya fokus sama kebijakan, tapi malah mengomentari urusan pribadi. Itu bukan saja menunjukkan dirinya tidak paham masalah sebenarnya. Melainkan juga menunjukkan selera humornya yang murahan.

Akhirnya saya akan tutup dengan wejangan Michelle Obama:

“Tidak ada Negara yang bisa berkembang sepenuhnya, jika menghambat potensi komunitas wanita mereka dan mengurangi kontribusi setengah dari warganya.”

Profil Penulis

Yayu NH
Yayu NHHehe~
Penulis adalah perempuan biasa yang menemukan Komunitas Swara Saudari sebagai wujud kepedulian terhadap isu-isu perempuan. Senang menjadi fasilitator Kelas diskusi dan sesekali menulis berbagai isu gender di beberapa media online. Selalu ingin disapa duluan, silakan coba di akun twitter @owyaaay sampai jumpa di sana, ya.