Esai

Jon Jandai dan Dunia Pendidikan

 

Awalnya Jon Jandai adalah seorang petani yang tinggal di daerah pedesaan di Thailand. Ia pergi ke Bangkok hanya untuk mengejar kesuksesan, ia jungkir balik bekerja dan sekolah di perguruan tinggi. Namun yang ia dapatkan justru hal yang di luar harapannya.

Selama di Bangkok, ia tinggal di sebuah ruangan kecil bersama banyak orang. Ia bekerja keras selama kurang lebih delapan jam perhari sambil kuliah. Ia mulai merasa ragu dengan apa yang ia lakukan setelah semuanya dilalui dengan begitu-begitu saja. Bahkan untuk makan sehari-hari saja makin susah.

Tidak jarang ia bertanya pada dirinya sendiri atas situasi yang ia dapatkan karena tidak berbanding lurus dengan kerja kerasnya. Baginya, hidupnya di Bangkok tidak lebih baik dari kehidupannya di desa sebagai petani.

Di desa ia bekerja hanya dalam waktu dua bulan dalam satu tahun. Satu bulan dilalui untuk menanam padi dan satu bulan lagi untuk memanennya. Sedangkan sepuluh bulannya ia lalui hanya untuk bersantai. Kadang waktu tersebut digunakan untuk mengenal diri sendiri. Mengenal lebih jauh diri sendiri membuat ia memahami apa yang ia inginkan dalam hidup.

Alasan tersebut membuatnya kembali ke desa dan meninggalkan semua pekerjaan dan studinya di Bangkok.

Hal itu pula yang membuat Jon Jandai berpikir bahwa kesuksesan tidak hanya bisa dilalui melalui pendidikan formal. Singkatnya, Jon Jandai mulai tidak percaya pada pendidikan formal. Apalagi untuk orang miskin seperti dirinya. Sebab pendidikan formal bagi orang miskin menurutnya adalah sebuah perjudian.

Pasalnya, banyak temannya yang bisa sekolah karena orang tuanya menjual sawah atau kerbau. Tetapi ketika mereka semua lulus dari sekolah, mereka tidak mendapatkan apa-apa. Mereka kesulitan untuk mencari pekerjaan. Mereka tidak bisa menebus sawah atau kerbau orang tua mereka yang terjual.

Menurut Jon Jandai, apa yang dipelajari di sekolah adalah sesuatu yang tidak pernah dibutuhkan dalam hidup. Ia menyebut bahwa  di sekolah sering mempelajari apa yang serba jauh: bulan, bintang, presiden negara lain, berbagai jenis bebatuan. Tapi tak pernah belajar tentang apa yang paling dekat, tentang diri sendiri.

Lalu untuk apa kita menghabiskan waktu selama enam belas tahun dan menghabiskan banyak uang kalau hanya untuk hal yang sia-sia dan tidak dibutuhkan dalam hidup? Apakah pendidikan formal itu penting?

Pendidikan itu penting, tapi pendidikan formal itu tidak penting!

Pendidikan adalah informasi. Segala bentuk informasi akan kita dapatkan melalui pendidikan. Dan yang harus digarisbawahi adalah bahwa informasi atau pendidikan tidak hanya bisa didapatkan dalam kegiatan-kegiatan formal seperti sekolah. Sekolah hanyalah salah satu dari banyak sarana pendidikan untuk mendapatkan informasi.

Tak jarang kita mendapatkan informasi dari warung kopi ke warung kopi. Bahkan sepertinya kita lebih menerima informasi yang datang dari luar ketimbang dari dalam sekolah sebab metode pembelajarannya yang santai dan menyenangkan.

Ya, itulah yang salah dari pendidikan sekolah kita, Kamerad, sistem atau metode pembelajarannya!

Sebab nyatanya, putra-putri Agus Salim tetap bisa menjadi anak yang cerdas walau tidak pernah mengenyam pendidikan di dalam kelas. Islam Basari misalnya, pernah membuat salah seorang Jurnalis asal Belanda terheran-heran karena fasih menggunakan bahasa Inggris padahal tidak pernah duduk di bangku sekolah.

Lalu apa yang kini bisa kamu lakukan, Kamerad, setelah menyelesaikan pendidikan formal selama enam belas tahun atau lebih dan menjadi seorang sarjana?

Wahai Kamerad, puncak pendidikan menurut Cak Nun adalah cinta. Tidak terlalu menjadi masalah kalau kau tidak bisa membuat api dan memasak dan melakukan hal-hal sederhana dalam hidup. Tapi dengan catatan, Kamerad, kau bisa mencintai semua orang.

Pendidikan tidak akan pernah membuat seseorang melakukan tindakan intimidasi atau persekusi atau hal buruk lainnya yang merugikan orang lain dengan alasan apapun.

Pendidikan, Kamerad, seharusnya bisa membawa seseorang untuk menghargai dan menghormati segala bentuk perbedaan dan menyelesaikan segala persoalan hidup yang kompleks.

Mari kita bangun revolusi, Kamerad. Dan revolusi bisa diawali dengan bangun pagi!

 

 

Profil Penulis

Muhammad Syamsul
Muhammad Syamsul
Mahasiswa UIN Bandung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *