Ibadah Kurban, Ibadah Toleransi

Pada zaman Sunan Kudus dahulu, alih-alih umat Islam menyembelih sapi saat hari kurban, mereka menggantinya dengan kerbau. Tidak lain hal tersebut demi menjaga perasaan orang Hindu—yang menghormati sapi dengan cara tertentu, dan  konon tradisi ini masih dijaga hingga sekarang.

Lima tahun lalu, saya ikutan Iduladha di salah satu komplek perumahan di wilayah Daan Mogot, Jakarta Barat. Penghuni perumahan itu tidak semuanya muslim, justru orang Islam di sana adalah penduduk minoritas. Jika ingin shalat berjamaah atau shalat jumat, masjid terdekat terletak satu kilometer jauhnya di luar komplek.

Saat itu salah satu warga yang muslim menyembelih hewan kurban. Jauh-jauh hari panitia kecil-kecilan sudah dibentuk. Di sinilah keunikan terjadi. Ketua panitia kurbannya beragama Budha, yang mencacah daging beragama Kristen, dan koordinator distribusi daging hewan kurban beragama Hindu. Setelah selesai dibagikan ke semua warga, sore hari kita sama-sama nyate sambil ngobrol ngalor ngidul.

Sekilas ini tampak tidak biasa. Mengingat menyembelih hewan kurban adalah ibadah mahdhah, yang ditentukan bentuk, jumlah, dan waktu pelaksanaanya secara ketat. Contoh, hewan yang bisa dikurbankan adalah unta, sapi atau kambing. Itu artinya, tidak dibenarkan menyembelih kuda, ayam, atau kelinci sebagai hewan kurban. Tapi ada bagian-bagian di mana Syariat memiliki kelonggaran, tidak setekstual atau sekaku yang kita kira.

Dalam hal kurban ini, proses pembagian daging penyembelihan hewan kurban adalah ibadah yang bukan mahdhah. Jadi tidak ada aturan yang mengikat, sama seperti saling tolong menolong atau memberi hadiah. Siapa pun boleh melakukannya.

Allah Swt juga Berfirman: “Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi ahlul kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka” (QS. Al-Maidah: 5). Ayat ini nampaknya diaplikasikan oleh kerajaan Arab Saudi yang mendistribusikan daging kurban ke berbagai negara di Asia dan Afrika, terutama negara-negara miskin. Apakah dalam pembagiannya kerajaan Arab Saudi mengeluarkan ultimatum bahwa yang boleh memakan daging kurban hanya orang Islam saja?

Iduladha dan penyembelihan hewan kurban dapat dijadikan momen silaturahmi dengan semua kalangan masyarakat, tanpa membedakan latar belakang keyakinannya.

Begitu pula dalam persoalan lain yang lebih umum, seperti kehidupan bersama. Atau jika mau blak-blakan dalam persoalan politik kita yang mengkhawatirkan belakangan ini. Belakangan kita ribut apakah bacaan al-Quran Jokowi layak menjadikannya imam shalat jamaah atau tidak; Prabowo rajin solat atau tidak; dan Sandiaga Uno sok kesantri-santrian. Narasi politik saat ini, terutama yang berhubungan dengan agama, tiba-tiba menjadi sesuatu yang sangat ‘permukaan’ alias urusan ekspresi beragama dan keyakinan.

Kita seperti menutup mata bahwa proses belajar agama setiap orang berbeda-beda; untuk itulah setiap perbedaaan kemampuan keagaaman adalah niscaya belaka. Akan sangat konyol jika urusan seperti itu sampai mewarnai penilaian kita terhadap sesama manusia.

Kurban adalah momentum peringatan kita sebagai seorang muslim, yang juga manusia. Juga peringatan untuk berani melihat sesuatu lebih dalam, bukan cuma permukaan saja. Karena jika kita mau sedikit perhatian, dalam sehari-hari ada lebih banyak Ibadah dan perilaku dengan muatan nilai-nilai penting, yang universal, dan mendorong sesama manusia untuk bekerja sama demi kehidupan bersama yang lebih baik.

Profil Penulis

Aroka Fadli
Aroka Fadli
Koordinator Gusdurian Purwakarta dan pustakawan di @pustakaki