Film

HER: Menulis Catatan untuk Movie yang Tidak Selesai Ditonton

Entahlah aku tidak tahu (atau terlalu malas untuk mencari tahu) apa saja syarat menulis catatan untuk sebuah film, katakanlah resensi dan dengan begitu maka aku menganggap tulis saja seperti menulis resensi buku. Modalnya: baca dulu bukunya sampai selesai. Kadang-kadang bagian awal sangat membosankan dan membuatku putus asa untuk melanjutkannya.

Tapi buku sering mirip dengan orang. Waktu kamu benar-benar mendengarkan dia, maksudku tidak cuma mendengarkan apa yang dia katakan tapi memperhatikan hidungnya, bola matanya, cara dia mengatur napas dan intonasi suaranya, merasakan emosinya, kamu tahu ada bagian terbaik dari orang ini. Buat buku, selalu ada tambahan ekstra untuk bersabar sampai dengan halaman terakhir. Sementara untuk film sampai sekarang aku belum sanggup.

 

Film HER didistribusikan oleh Warner Bros dan rilis ke pasar tahun 2013. Spike Jonze, pria yang awalnya suka main skateboard (dan wajahnya sekilas mirip Thom Yorke), adalah sutradara film ini. Ia sekaligus juga menjadi produser dan menulis naskah untuk film berdurasi 126 menit ini. Sebagai sutradara, HER bukan film pertamanya tapi sebagai screenwriter film ini adalah debutnya yang pertama dan langsung diganjar Best Original Screenplay oleh Academy Awards ke-86. Sayangnya maaf Jonze, justru yang membuatku putus asa dan berhenti pada menit ke-55 adalah karena percakapannya. Maksudku, aku pernah menonton “‘fore Sunrise dan kamu tentu tahu percakapan di antara kedua tokohnya adalah yang terbaik. HER membawa ide distopian dan “Before sunrise” jelas tidak tapi soal relationship, mereka sama-sama berbicara tentang ini.

Tidak banyak sudut pandang segar yang aku dapatkan ketika menonton HER. Theodore, tokoh utama yang diperankan Joaquin Phoenix adalah lelaki melankolis. Mungkin ia juga seorang INFP (Introvert, Intuitive, Feeling, Perception) sama seperti Sylvia Plath atau Amelie Poulain yang super sensitif dan menyerap emosi dari apa saja yang ditangkap panca indera. Tentu saja kaum melankolis adalah kaum yang paling mudah merasa kesepian. Theodore pun begitu, ia anggota kaum ini. Kamu tahu? Usaha-usaha yang dilakukan oleh kaum kesepian tentu saja adalah dengan mencari dan mencari seseorang yang mampu mengisi lubang dalam dirinya, yang sayangnya kerapkali tidak berhasil.

Ada satu scene dalam film HER dimana Theodore bertemu dengan seorang gadis yang sangat atraktif. Kencan mereka berlangsung menyenangkan tapi Theodore menolak ketika teman kencannya bertanya apakah ia akan menemuinya lagi. Bagaimanapun, penolakan rasanya memang menyedihkan tapi aku justru sangat memaklumi keputusan Theodore. Kadang-kadang kamu bertemu dengan orang yang sangat menyenangkan tapi kamu cukup paham kalau bukan dia orangnya. Kamu hanya merasa sangat kesepian dan dia mampu membuat rasa bosanmu mentas sebentar. Setelah itu tidak ada lagi. Dia tidak cukup mengisi lubang dalam dirimu dan aku kira itu yang dirasakan Theodore.

 

 

Film HER memang tidak aku tonton sampai selesai tapi aku membagi film ke dalam tiga buah kategori: yang sangat menarik dan tentu sangat layak ditonton, yang membosankan alias tidak menarik tapi masih layak ditonton, atau yang tidak menarik dan tidak perlu ditonton. HER adalah kategori kedua. Membosankan karena konflik berjalan di atas sebab-akibat yang mudah ditebak. Misalnya karena Theodore sudah di ujung jalan, hubungannya dengan istrinya nyaris selesai kemudian ada orang baru. Tapi movie ini masih layak ditonton karena Spike Jonze seperti mau mengingatkan: kamu biasanya bakal tertarik dengan apa saja yang menjadi bagian terbaik seseorang tapi peluangmu untuk jatuh cinta lebih besar dengan seseorang yang berbagi emosi denganmu dan medium terbaik yang mampu mengantarkan emosi adalah suara. Samantha sangat berpeluang membuat Theodore jatuh cinta karena sebagai OS dengan artificial intelligent, ia mampu berkembang sesuai akal dan emosi yang disematkan kepadanya. Theodore menyaksikan ia berkembang bahkan malah mengantarnya untuk berkembang meskipun ia hanya sebatas suara.

Beberapa kali aku membayangkan jika film ini digarap oleh Wes Anderson mungkin kadar putus asa yang ditawarkan bisa lebih. Maksudku Anderson bisa membuat kameranya menyodorkan hal-hal tidak biasa yang membuat filmnya terasa sangat menganggu tapi mengagumkan. Film ini menurutku sudah lumayan menganggu. Gimana enggak? Manusia jatuh cinta sama komputer cuy. Sayangnya Jonze membawa film ini menuju romantisme yang lurus-lurus saja.

 

Profil Penulis

Ruhaeni Intan
Ruhaeni IntanPelamun parah.
Kerja di museum, senang kucing, dan bisa diajak ngopi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *