Haringga dan Pe-Er Kemanusiaan Kita

Dalam cuitannya, Zen RS, esais yang paham banyak soal sepakbola nasional ini menulis di akun twitternya: “Problem terbesar (perseteruan supporter) justru bukan di stadion. Korban terbanyak justru tidak di stadion. Di kalangan suporter itu ada istilah “jalur gaza”: ini merentang dari Purwakarta, Cikampek, Cirebon, Dermayu, Bogor, Tangerang sampai Serang. Di sana berlaku hukum besi: everyday is matchday.”

 

Ia tidak salah. Setidaknya ada tiga video terkait “Jalur Gaza” Purwakarta yang sedang menghangat dalam 24 jam terakhir ini. Di perempatan Sadang yang menghubungkan Purwakarta-Karawang-Subang-Tol ke Jakarta Bandung, Sekretariat Viking Purwakarta di Jalan Taman Pahlawan, Pom Bensin Jalan Baru, dan masih ada lagi.

 

Awalnya saya mengira ini akan menjadi isu-isu tipikal Jakarta yang hanya meledak sekilas di internet, kemudian tertimbun begitu saja oleh isu-isu politik. Saya menyesal punya pikiran seperti tadi dan melupakan bahwa Haringga bukan cuma isu tipikal internet, ia adalah cermin lain kemanusiaan kita.

 

Dalam catatan Ardy Nurhadi Shufi redaktur panditfootball.com tewasnya Haringga Sirla merupakan korban tewas ke-63 di sepakbola Indonesia. Save Our Soccer (SOS) mencatat hingga November 2016, jumlah suporter klub sepakbola yang tewas sebanyak 53 sejak 1995. Ada yang tewas lantaran perseteruan suporter beda klub, tapi ada pula yang justru menjadi korban pertikaian antar-pendukung klub yang sama, juga tidak sedikit karena kecelakaan. (tirto.id)

 

Di internet, twitter khususnya, keriuhan warganet selain berbelasungkawa ternyata adalah saling memojokkan dan mencari kambing hitam dari tragedi tersebut. Paling tidak ada dua hal yang jadi sebab perseteruan warganet. Pertama, soal kematian Haringga itu sendiri. Kedua, soal kedatangan Haringga ke GLBA kendati surat imbauan agar Jak Mania tak datang ke Bandung telah diedarkan.

 

Ada yang menyalahkan kelompok penganiaya. Sedang di sisi lain menyalahkan almarhum yang tetap datang meski sudah ada surat imbauan untuk tidak datang ke GBLA. Ditambah pembicaraan bernada dendam soal Rangga, korban dari kubu Bobotoh 2012 silam di GBK, Jakarta. Tidak tahu apakah golongan yang berseberangan itu Jakmania dan Bobotoh atau bukan. Kalaupun memang begitu, kita tahu perbincangan jenis ini hanya bakal terjebak dalam kesimpulan yang saling menyalahkan, atau cuma menjadikan peristiwa ini angin lalu saja. Keduanya bukanlah akhir yang baik bagi perbincangan ini.

 

Mengapa Haringga Bukan Cuma Urusan Masyarakat Sepak Bola Saja

 

Tanpa bermaksud ahistoris dengan mengabaikan sejarah panjang dan pernak-pernik lain dalam dinamika hubungan Bobotoh dan Jakmania, saya akan memilih sudut pandang yang lebih lebar dan mudah.  Selain itu ada lebih banyak tulisan yang mengurai hal tadi dengan lebih baik dan lengkap. Seperti yang ditulis Yamadipati Seno dan Ahmad Khadafi di Mojok; Dex Glenniza dan Ardi Nurhadi Sufi di Pandit Football.

 

Saya ingin memahami peristiwa Haringga sesederhana dan sedekat mungkin. Meski kita tahu hal memilukan seperti ini tidak mungkin diurai dengan cara sederhana. Namun dilihat dari manapun kasus Haringga bisa dilihat sebagai bagian dari daftar panjang cedera kemanusiaan masyarakat Indonesia. Kita bisa mulai dari situ.

 

Dua hari setelah #RipHaringga jadi trending topic di Twitter, saya membawa topik pembicaraan ini ke SMA tempat saya mengajar. Mencoba membuka obrolan dengan para siswa di kelas. Beberapa mengaku sudah menonton video penganiayaan Haringga. Kebanyakan antusias dengan obrolan ini dan saling menambahkan cerita-cerita sejenis yang mereka dapat dari teman-teman tongkrongan yang lebih senior.

 

Namun ada yang membuat dahi saya agak berkerut—meski tidak terlalu kaget—sebuah komentar pendek dari salah satu siswa: videonya rame, pak. Wajahnya bersemangat. Kata rame biasanya dipakai anak-anak untuk menyebutkan sesuatu yang asyik dan seru.

 

Sekarang, teman-teman, di mana bagian rame atau serunya video itu? Itu isinya sekelompok manusia dengan berbagai macam senjata tumpul menganiaya satu orang tidak bersenjata sampai meninggal dunia.

 

Inilah yang barangkali luput dari perhatian kita. Teman-teman muda kita karib dengan kekerasan dan sadisme—untuk tidak menyebutnya gemar.  Jika kita perhatikan dengan saksama, betapa belianya Haringga, Rangga, dan orang-orang yang bertanggung jawab  atas kematian mereka.

 

Para pelaku dan korban pastilah bukan cuma sekadar bagian dari The Jakmania atau Bobotoh saja. Mereka juga siswa dari suatu sekolah, murid seseorang, anak dari sebuah keluarga, warga dari suatu daerah, anggota dari suatu kelompok penggemar, dan umat dari suatu agama.

 

Dari semua lingkungan ini kita tidak tahu mana yang lebih dulu menanam bibit-bibit kekerasan, mana yang menumbuhsuburkan ekspresi kekerasan, dan terkahir menjadi alasan ekspresi kekerasan tersebut meledak.

 

Saya tidak tahu, sebenarnya kasus ini berhubungan dengan terjadinya kasus-kasus pengeroyokan lainnya atau tidak. Sehingga hal tersebut juga membuatku berasumsi bahwa menjadi supporter kukira bukan alasan utama menjadi korban dan pelaku kekerasan. Toh, kita hidup di tengah masyarakat yang keberingasannya bisa bangkit tiba-tiba dan melompat keluar batas norma, agama, dan kewajaran akal sehatnya.

 

Masih segar dalam ingatan kita, seseorang menjadi korban keberingasan di hadapan tuduhan mencuri ampli masjid, meninggal karena menjadi junior di sebuah kampus, dan yang terakhir menjadi korban karena sepak bola.

 

Sebagai catatan pribadi, sebagai pendidik dan kadang-kadang pegiat, saya merasa urusan ini sudah bukan lagi urusan masyarakat sepakbola saja. Ia urusan kita semua. Semua orang bertanggung jawab terhadap lingkungan sosial kehidupannya. Saya yakin coretan-coretan vandal seperti The Jak Anjing, Viking Nu Aing, 2018 Persib Juara, dan sejenisnya punya kaitan kuat dengan masalah ini.

Ada yang harus dilakukan oleh semua orang di lingkungannya. Sebagai contoh mudah, saya punya tanggung jawab di tempat saya mengajar dan berkomunitas. Anda bisa temukan sendiri di mana tanggung jawab Anda diperlukan. Bukalah ruang-ruang dialog, terutama pada yang muda dan sebaya. Bicarakan dengan mereka secara terbuka, tentang realitas-realitas sosial beserta gesekan-gesekannya dengan pandangan yang rasional dan humanis. Jangan lupakan poin-poin seperti tak ada alasan sah untuk menghilangkan nyawa manusia dan pentingnya mencegah korban-korban baru berjatuhan. Apapun alasannya.

Pada akhirnya Haringga, Rangga, dan korban-korban muda lainnya adalah urusan yang melebihi persoalan Jakmania dan Viking saja; atau masyarakat (yang ngerti) bola belaka. Haringga adalah tambahan pekerjaan rumah (PR) kita. Ia musti ditanggapi serius. Sebab jika tidak, kelak mungkin saja peristiwa ini meledak lebih dekat dari yang kita saksikan sekarang.

 

Bacaan:

https://www.panditfootball.com/editorial/211966/ANS/180924/tentang-haringga-dan-keganasan-suporter-di-indonesia

https://mojok.co/yms/balbalan/suporter-sepak-bola-indonesia-memutus-kekerasan/

https://www.panditfootball.com/sains-bola/209439/DGA/170727/empat-hal-keliru-dari-suporter-sepakbola-indonesia

 

 

Profil Penulis

Ahmad Farid
Ahmad Farid
Muda dan tak berdaya. Pustakawan di @pustakaki dan aktif di @gusdurianpwk