Hari-hari Awal sebagai Calon Legislatif

Ketika aku umumkan bahwa aku nyaleg tahun ini, chat pertama yang kudapatkan adalah: “Gimana ya bu kamar mandi majelis teh minta dibenerin biar ngajinya lebih semangat.”

Lain lagi cerita temanku yang didatangi puluhan proposal ketika namanya resmi muncul jadi caleg, mulai dari proposal Agustusan, perbaikan musala, pembuatan pos ronda, sampai yang entah bercanda entah serius… pengadaan pasangan untuk jomlo.

Tidak cukup sampai situ. Rumahnya juga jadi sering ramai didatangi orang. Entah cuma sekadar ngobrol, dengan orang-orang tiba-tiba rajin datang ke rumahnya sekadar mengobrol sampai minta bantuan ini-itu.

Aku jadi paham betul kenapa mahar politik Sandiaga Uno (meski awalnya Cuma isu, namun kemudian diakui Sandi sebagai dana kampanye, seperti yang dimuat di idntimes) adalah sesuatu yang masuk akal. Meski sulit diakui, itu normal. Terlepas dari benar atau tidaknya jumlah uang yang disediakan.

Tidak seperti saya yang sekadar dimintai bantuan benerin kamar mandi musala, mungkin saja yang Sandiaga dapatkan justru permintaan yang lebih berat. Mulai dari yang minta dibenerin operasi plastik, benerin BMW, benerin rumah tingkatnya, lapisin aspal pakai emas. He he.

Hal-hal seperti ini kukira memang terjadi dalam kontestasi politik di level apa pun.

Seberat inilah nyatanya. Selain peserta kontestasi politik dihantui momok mahar yang besar, digentayangi pula kebutuhan-kebutuhan masyarakat. Ingin hati menolak, apa daya potensi kehilangan suara ternyata juga gak bisa dipandang enteng.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan orang-orang yang tiba-tiba rajin chat, ramah ngajak ngopi, dan rajin ke rumah, dan hal rajin lainnya. Namun, yang jadi masalah kesiapanku menanggapi hal itu. Ini agak mengagetkan.

Aku merasa belum cukup siap untuk menanggapinya. Bukan hanya sekadar mengiyakan permintaan, tapi memang harus punya bekal untuk memenuhi permintaanya. Kalau pun menolak harus pintar beretorika agar tidak terkesan tak acuh.

Karena nilai uang, kita semua tahu, jauh lebih konkret daripada visi politik. Tradisi politik kita telah mananam kuta-kuat hal ini. Saya hampir merasa goyah. Berkali-kali.

“Ya kalau masyarakat banyak yang minta pada calon kontestan pemilu, itu maklum. Karena justru tradaisi ini dimulai dari calon itu sendiri dahulunya. ” Ujar seorang kawan. Mungkin ia benar, di situlah permasalahannya. Asap tidak mungkin ada jika tidak ada api. Kita mewarisi tradisi tidak sehat ini dari lama sekali.

Aku kira begitu nyaleg aku akan lebih banyak terlibat dalam forum-forum wilayah dapilku, menyerap aspirasi mereka, dan sebisa mungkin menjelaskan duduk perkaranya. Kalau pun aku menang. Aku hanya DPRD di komisi tertentu… jelas apa yang bisa kuatasi hanyalah sebagian kecil dari urusan-urusan masyarakat.

Tapi entahlah… mungkin politik uang sudah bertranformasi sedemikian rupa. Atau cuma aku saja yang terlalu naif?

Profil Penulis

Ayi Nur Hasanah
Ayi Nur Hasanah
Ketua tercantik di @pustakaki dan aktif di beberapa komunitas literasi di Purwakarta