Hantu-Hantu dan Muasal Kehidupan Asmara yang Selalu Nahas

Sewaktu masih nyantri, saya dan Farid (ya Farid yang itu tuh, memangnya yang mana lagi?) berencana kabur dari pesantren, mengejar kereta dini hari dari Purwakarta menuju Jakarta demi seminarnya Jonru.

Yap, tul! Jonru!

Waktu itu kami masih kelas 3 SMA, terobsesi menjadi penulis (yang belakangan kami sadari ini obsesi yang jauh lebih delusional daripada menjadi youtuber), sering membuka situs Sekolah Menulis Online yang diasuh oleh Jonru. Singkatnya kami sedang ngefans-ngefansnya sama Jonru. Jelas, pada 2012 itu dia tidak seperti Jonru yang kita kenal belakangan. Kalau dipikir-pikir lagi betapa lucunya momen itu. Melanggar aturan pondok demi ikut seminarnya Jonru.

Rencana telah kami pikirkan matang-matang sehari sebelumnya. Dari ongkos sampai perencanaan agar tidak ketahuan Kepala Asrama, Satpam, dan Asatidz.

Malam tiba dan rencana dimulai. Waktu itu entah untuk urusan apa kami berdua mengunjungi kamar asrama lantai atas terlebih dahulu, tepatnya kamar 8 dan 9 yang letaknya di lantai dua tepat di atas deretan kamar mandi santri.

Asrama Putra, tempat yang saya tinggali hampir enam tahun ini, untuk pertama kalinya membuat saya mengalami pengalaman yang “berbeda”.

“Rid, coba ke sini!” kata saya setengah berbisik. Sikap ini datang setelah mendengar suara perempuan… di Asrama Putra… menangis.

Sebelumnya sering saya mendengar cerita seperti ini dari santri-santri senior ketika saya baru nyantri. Tapi baru kali inilah saya mengalaminya sendiri. tepat ketika saya sendiri sedang jadi santri senior.

Saya berdiri di depan pintu kamar 9 yang juga di depan tangga ke bawah, sementara Farid berada di depan pintu kamar 8 yang berjarak 2 meteran dari tempat saya berdiri.

“Apaan?” tanyanya datar. Ia sedang sibuk mencari sesuatu. Entah sepatu atau kaus kaki. Saya lupa.

“Ada suara nangis! … Cewek! … Seriusan!”

“Ah, enggak ada! Jangan ngawur!” katanya dengan nada kesal. Entah kenapa. Mungkin ia tahu ada yang tidak beres, tapi ia berusaha mengalihkan topik, pura-pura tidak tahu, atau entahlah.

Lalu saya berjalan ke arah Farid untuk memastikan suara tersebut terdengar atau tidaknya dari posisi yang berbeda. Suara itu demikian jelas. Saya percaya suara itu berasal dari suatu tempat di sekitar asrama.

Sesaat kemudian saya kembali ke posisi semula di depan tangga. “Eh, Rid! Suaranya lebih jelas dari sini! Kayanya ada yang nangis di bawah tangga!”

Saya sangat yakin dengan pendengaran saya waktu itu. Itu benar-benar menakutkan, tapi juga saya penasaran setengah mati. Suara itu terdengar sangat jelas. Seperti perempuan yang merintih kesakitan, suaranya sedikit serak, napasnya tidak begitu teratur. Bahkan sesekali, seingat saya, suaranya itu terdengar semakin dekat, lalu menjauh lagi, kemudian mendekaat lagi, dan menjauh lagi. Nampaknya angin mempermainkan suara itu.

Sumpah saya merinding.

“Ente jangan ngaco! Kalo pun ada, pasti kedengeran sama Ane. Ini gak kedengeran!” Ia tetap bersikukuh dengan pengalihan isunya.

“Ini suara cewek, Rid!” kata saya memastikan. Saya sedikit mondar-mandir di sekitar tangga, betul-betul mencari sumber suara.

Tak ada apa-apa, tak ada siapa pun selain kami berdua. Selain suara tangisan itu, hanya ada suara kami yang berdebat bisik-bisik, dan gemericik air dari bak mandi depan asrama.

“Udah jangan aneh-aneh! Gak ada apa-apa!” katanya setengah menggerutu sambil menarik baju saya untuk turun tangga dan menuju niat awal: kabur lewat gerbang.

Tangisan perempuan itu menjadi kenangan paling jelas saya soal hantu di pesantren. Saya masih mengingat kejadian itu dengan baik, bahkan masih merasakan betapa merinding sekaligus penasarannya waktu itu.

Berminggu-minggu sejak kejadian itu, saya tak pernah lagi mendengar tangisan itu, pun tak pernah tahu bagaimana sosoknya.

Di lain kesempatan, setelah kami lulus SMA, ini terjadi lagi. Lagi-lagi dengan si Farid. Saat itu saya  bawa motor memboncengkan Farid di gang menuju pesantren. Waktu itu jam sembilan malam, kami melewati gang samping foto kopian, sebuah gang kecil yang bukan jalan utama menuju gerbang pondok.

Di tengah gang tersebut terdapat rumpun pohon pisang dan gardu kayu untuk ronda malam yang nampak tak pernah ada orang. Karena ada sedikit tanah lapang sebelum gardu tersebut, kami bisa melihat gardu tersebut dari jarak 50 meteran sebelum melintasinya.

“Rid, ada cewek tuh!” ujar saya ketika tiba-tiba melihat seorang perempuan berbaju putih yang duduk di gardu depan pohon pisang.

“Ah, gak ada!” sahut Farid sambil menginstruksi agar kecepatan ditambah.

“Seriusan ente gak liat? Itu lagi duduk!” Kata saya meyakinkan. Saya benci Farid mengatakan sesuatu yang lain seperti yang saya lihat. Jadi saya pun memperlambat kecepatan demi bisa melihat perempuan itu lebih saksama, dan yang lebih penting meyakinkan si kampret Farid ini.

Gang yang hanya muat dua motor itu membuat jarak gardu dengan jalan sangat dekat. Ketika saya melintasinya, saya betul-betul membiarkan mata saya menatap perempuan itu, saking penasarannya.

Rambutnya panjang, tapi mukanya samar-samar tidak jelas karena gardu tersebut tidak punya pencahayaan yang baik.

“Udah cepetan! Yang punya motor nungguin!” Kata Farid menggerutu. Kami pun melanjutkan perjalanan dengan bulu kuduk yang masih merinding dan rasa penasaran yang luar biasa.

Sesampainya di pondok, saya bertanya lagi memastikan kejadian yang baru saja terjadi. “Beneran gak lihat?” tanya saya.

“Ente teman ane yang paling bego! Ane juga liat! Ngapain motornya dipelanin??”

Selama tinggal di pondok, cerita hantu memang banyak, meskipun tidak semuanya akurat bahkan cenderung fiksi. Tapi jika ditanya secara personal, pengalaman itu adalah satu-satunya yang pernah saya alami dengan Farid.

Saya tidak tahu apa hubungannya Farid dan pengalaman-pengalaman mistis yang kami jalani tersebut. Beberapa bilang, pengalaman mistis berarti nasib sial. Mungkin itu sebabnya kenapa nasib asmara si Farid kerap nahas. Hal serupa juga menular pada saya. Ia membawa sial, bukan saja untuk dirinya sendiri.

Atau jika mau, kita bisa memandangnya dengan cara lain. Pengalaman mistis itu membuktikan bahwa ilmu pengetahuan kita terbatas, keberadaan makhluk lain itu membuat kita bingung, juga betapa tak masuk akalnya dimensi lain. Intinya semua hal yang membuat para gigantis sains seperti Newton, jika ia masih hidup dan tahu ada cerita semacam ini bakal terbahak.

Namun yang paling menarik dari semua ini adalah… bahwa Farid dulunya kerap menggunakan Ane-Ente atau Ana-Antum sebagai kata ganti sebutan. Sekarang dia lebih suka pakai Aing-Maneh. Transformasi yang aneh, mengingat banyak orang di sekitarku justru melakukan hal yang sebaliknya.

Profil Penulis

Maulana Abdul Aziz
Maulana Abdul Aziz
Orang rumahan yang tidak betah di rumah. Penyuka teh tanpa gula, penikmat jalan sore, dan sedang mencari yang cantik tanpa bedak.