Membangun Gerakan Literasi dari Ranjang (18+)

Demi dewa marmot, apa yang saya ceritakan ini betul adanya. Bukan prank-prank bajingan yang belakangan mengisi layar touch-screen hape kita bersama. Plus, Wallahi, ini bukan modus click bait!

 

Mengikuti jejak artis yang sering merasa didera kehampaan hidup, istri saya beberapa minggu ini mengalami insomia. Memang, baru level 1, sih. Ngga pedes-pedes amat. Tapi, efek insomnia brengsek ini sudah terasa merepotkan saya juga.

 

Sebab, karena ke-insomnia-annya itu saya sebagai suami harus menjalankan aksi-aksi ekstra yang kebanyakan terjadi tengah malam. Mulai dari kemestian beli makan di periode yang entah apa namanya (karena jam makan malam sudah lewat, sementara sahur masih jauh). Kemudian, keharusan jalan-jalan mengitari sudut-sudut kota dengan jurusan sesuka hati dia.

 

Sampai, yang paling bikin kzl adalah kewajiban ngoceh demi membuatnya tertidur. Perlu diketahui wahai pembaca budiman, ocehan yang harus saya sampaikan itu bukan sembarangan. Istri saya milih sendiri tema ocehan yang ingin dia dengar. Seakan-akan saya ini aplikasi Win-Amp di komputer dia yang diinstall Windows 98.

 

Kalau hanya sekadar cerita-ulang kenangan masa-masa pacaran, sih, ngga apa-apa. Tapi, ada kalanya istri saya ingin mendengar ocehan yang temanya lumayan menguras pikiran. Seperti misalnya, dua minggu ke belakang, istri saya ingin diperdengarkan ulasan soal serial Supernova, karya Dewi Lestari.

 

Akhirnya, saya pun mengupas rangkaian karya Dewi Lestari ini ala kadarnya. Seperti, teori Supernova alias Big Bang alias ledakan besar yang dipercaya sebagai awal terjadinya alam semesta. Ah! Belum tidur juga.

 

Saya lanjut ihwal konsep keteraturan (order) dan kekacauan (chaos) yang niscaya terjadi dalam kehidupan yang serba-nisbi ini. Masih belum tidur juga.

 

“Aku ngga paham,” kata istri saya polos. Ia juga menerbitkan senyum yang tidak jelas maksud dan tujuannya apa. Yang jelas waktu menunjukkan pukul 03.30 pagi.

 

Sementara, dalam hati saya, sederet kalimat siap meluncur, “Yoko lelah, Bibi Lung!” Tapi kata itu ngga jadi lepas. Akan terus begitu kayaknya sampai nanti Ya’juj – Ma’juj tiba.

 

Kami berdua, dengan alasan masing-masing, akhirnya melek sampai subuh.

 

Tadinya saya pikir ocehan Supernova yang terbukti tidak berfaedah itu adalah yang terakhir kalinya. Tahunya tidak, Alberto! Sekuen berlanjut dan lebih berat. Karena di lain waktu istri saya keukeuh ingin mendengar cerita seputar tragedi pembunuhan Munir. Aduh! Saya kepingin nangis sejadi-jadinya. Ingin meraung-raung seperti Afifah di Sinetron Orang ke-tiga. Gusti, kenapa hidup seberat ini?!

 

Antara ngantuk berat dan kesal, saya observasi data seadanya demi merangkai cerita. Toh, cuma pengantar tidur. Saya mulai bercerita bahwa Pak Munir adalah tokoh luar biasa yang sepak-terjangnya jauh lebih nyata ketimbang Shiryu di serial kartun Saint Seiya. Dia pejuang demokrasi. Penegak keadilan. Pembela yang lemah.

 

Istri saya mendengarkan saksama dan mulai menguap. Tanda siap berangkat ke alam mimpi. Senang sekali. Cerita pun saya lanjutkan ke momen saat Munir diracun di pesawat. Biar lebih dramatis, saya tekankan bahwa kejadian itu di-lagu-kan oleh band Efek Rumah Kaca (ERK). Saya siap nyanyi kalau perlu.

 

Yang terjadi di menit-menit berikutnya sungguh luar dugaan. Kantuk istri hilang. Berganti pertanyaan-pertanyaan sadar dan kritis ala Mata Najwa. Kenapa Pak Munir harus dibunuh dengan cara begitu? Siapa pelaku sebenarnya? Kok bisa sampai sekarang kasusnya belum selesai?

 

Dus, sama seperti sebelumnya, dengan alasan masing-masing, hingga subuh mata kami masih sama-sama melek. Saya coba tawarkan solusi.

 

“Bagaimana kalau nanti-nanti cerita yang disampaikan yang enteng-enteng saja, asalkan kamu bisa tidur,” kata saya berdiplomasi.

 

“Contohnya?” Istri mendelik. Penasaran.

 

“Asal muasal kata “A-N-J-A-Y”. Dari sudut pandang filsafat linguistik itu menarik,” timpal saya. Sungguh secara ilmiah saya bisa dadarkan itu dari sudut pandang Derrida dan/atau Foucault.

 

“…..” Istri diam. Dari air mukanya saya tahu maknanya: mbung!

 

Resolusi bersama soal insomnia terkutuk akhirnya diputuskan. Kami beli obat tidur. Jika solusi medis gagal, opsi mistis bakal diambil. “Istrimu perlu di-ruqyah,” saran dari kawan selepas saya curhat tempo hari.

 

Rupa-rupa obat tidur atau yang mampu menimbulkan rasa kantuk dijajal istri saya. Dari Antimo, CTM hingga (merk) Lelap . Dan luar biasanya, entah kenapa, obat-obat itu tidak berpengaruh signifikan. Istri tetap terjaga dan saya harus selalu siap sedia.

 

Siklus tidur kami betul-betul berantakan. Dan kami nyaris tiba di titik frustrasi. Istri kzl susah tidur mulu, saya sendiri kzl karena melek terus gegara istri yang insomnia.

 

Akhirnya pertolongan Gusti Allah tiba juga. Benarlah adanya firman-Nya, “bersama kesulitan ada kemudahan.”

 

Tahukah ‘obat tidur’ baru istri saya yang manjur ini?

 

Bukan obat medis, kawan! Bukan. Melainkan, buku. Sumpah, buku!

 

Ternyata, solusi yang kami nanti-nanti selama ini adalah yang paling dekat dengan kehidupan kami.

 

Syahdan, pada satu malam, Istri saya tergerak untuk mulai membaca serial

 

Supernova. Dia mulai dari “Gelombang”, sekuel ke-lima. Sepanjang dia baca, sepanjang itu pula dia banyak bertanya. Kenapa tokoh ini kok gini? Kenapa tokoh ini kok gitu? Saya, sebagaimana biasa, harus bersiap sedia untuk segala pertanyaannya.

 

Saya jawab semua pertanyannya hingga pada satu saat yang tersisa hanya keheningan. Pertanyaan-pertanyaannya surut. Pamit dan diganti suara napas pelan yang mendamaikan.

 

Sebagai suatu peristiwa besar, kejadian itu kami reka-ulang tiap malam. Sebelum tidur, saya minta istri saya baca buku. Betul saja, ngga lama dia tertidur. Begitu seterusnya hingga saat ini.

 

Dengan begitu, terbukti sudah secara empiris bahwa buku punya manfaat yang luar biasa. Selain menambah wawasan, belakangan saya tahu jika buku mampu menormalkan jam biologis seseorang. Keren. Sekarang kita tahu mendorong Gerakan Literasi bisa dari mana saja. Terserah, apapun alasannya! termasuk menidurkan istri yang insomnia.

 

Lalu bagaimana dengan yang belum beristri? Bukan urusan saya, dong. Hehe hehe.

Profil Penulis

Widdy Apriandi
Widdy Apriandi
Penulis adalah suami siaga, barista dan kerja apa saja yang penting asoy