Film Hujan Bulan Juni: Betapa Sulitnya Memfilmkan Puisi

Tidak ada yang tahu persis seperti apa cerita Pingkan dan Sarwono sehingga bisa sangat dekat dalam film Hujan Bulan Juni. Film yang menceritakan kisah cinta antara empat orang. Tiga laki-laki dan satu perempuan lebih tepatnya. Pingkan (Velove Vexia) sebagai arus pusat cerita percintaan ini dihadapkan dengan tiga laki-laki yang mencintainya. Sarwono (Adipati Dolken), Benny (Baim Wong), dan Katsuo (Koutaro Kakimoto). Dari ketiga orang ini yang lebih dominan di hati Pingkan adalah Sarwono. Selain karena dia adalah tokoh utama, juga kedekatan antara Pingkan dan Sarwono sudah ditayangkan sejak awal film ini dimulai. Sebenarnya masih ada ada satu karakter laki-laki lain yang bernama Tumbelaka (Surya Saputra) yang juga turut mewarnai persaingan cinta dalal film ini, tapi dia kurang mendapat peran banyak.

Konflik percintaan memang sudah menjadi ciri khas dari film-film Indonesia. Lebih tepatnya film cinta yang melankolis. Namun, untuk film Hujan Bulan Juni Ini yang membuat berbeda daripada film-film lain adalah kekuatan puisi dalam menarik hati perempuan. Entah apa memang demikian maksud dari puisi Sapardi yang dijadikan judul film ini atau bukan tapi begitulah yang bisa dipahami pemirsa bila menonton film ini.

Sosok Sarwono selalu mendapat apologi lebih mantap dalam diri Pingkan meski memang akan lebih banyak alasan lain yang lebih logis, jika Pingkan lebih mencintai Benny, Katsuo, atau pun Tumbelaka. Benny adalah keturunan Manado yang dicitrakan erat dengan pernikahan sesama suku. Benny juga beragama Kristen sama seperti Pingkan. Sementara Katsuo memiliki muka yang lebih tampan daripada yang lain. Demikian pula Tumbelaka yang mengandalkan garis keturunan Manadonya. Mungkin memang inilah yang ingin disampaikan sebagai pesan tersirat dari film Hujan Bulan Juni bahwa cinta tidak membutuhkan alasan yang logis.

Film ini juga mencoba mengisahkan dan menggambarkan kehidupan seorang penyair. Penyair digambarkan sebagai orang yang sungkan dan malu-malu untuk menyatakan sesuatu secara langsung. Sarwono Si Tokoh Utama adalah sosok penyair yang hanya akan menulis puisi yang dia kirimkan pada Pingkan kekasihnya baik berupa pesan Whatsapp atau dalam sehelai kertas. Melalui karakter Sarwono penyair juga diproyeksikan sebagai orang yang lugu dan kalem, sesekali juga sering bersikap ayem-ayem saja. Semua yang digambarkan tentang penyair dalam film itu berkesan bahwa penyair adalah orang yang introvert, pribadi yang kurang suka berkomunikasi dengan orang lain. Selain itu yang paling mencolok,  bahwa penyair adalah seorang akademisi. Semua itu terlihat dan tergambar dalam karakter Sarwono yang menjadi dosen salah satu universitas di Indonesia.

Namun begitu, dalam film tersebut penyair selalu dimenangkan dalam hal percintaan. Terbukti bahwa Sarwono dalam perjalanan meneguhkan cintanya pada Pingkan mendapat dua bahkan tiga pesaing yang ketampanannya jauh di atas Sarwono. Namun dengan puisi-puisinya, Pingkan seperti dibuat lengket hanya karena keindahan diksi-diksi yang ditulis Sarwono kepadanya.

Sekilas, bila pemirsa sudah pernah menonton film Dilan maka film Hujan Bulan Juni ini akan bercitra sama dengan film Dilan. Penuh gombalan-gombalan namun bedanya film ini lebih dewasa dan puitis. Bila pun pemirsa sudah pernah menonton Ada Apa dengan Cinta, maka film Hujan Bulan Juni juga hampir mirip dalam beberapa hal. Lebih tepatnya sama-sama menggunakan aspek puisi dan perpisahan ke luar negeri. Secara imajinatif maka dapat saya katakan bahwa bila Dilan dan Rangga jadi satu maka mereka akan menjadi Sarwono dalam film Hujan Bulan Juni ini.

Film yang diangkat dari novel Karya Sapardi Djoko Damono, dengan judul yang sama. Film yang menjadi inovasi baru bagi kesusastraan Indonesia. Walau memang usaha Reni Nur Cahyo dan Hesta Saputra dalam memvisualisasikan novel sastra ini, akan tetapi beberapa adegan akan berkesan kaku dan alay. Nilai sastranya akan terlihat kurang pas dan bahkan film ini menjadi film bergenre romance daripada sastra. Terbukti dengan banyak tayangan pembacaan puisi yang hanya difungsikan sebagai gombalan dan mantra rayuan saja daripada penginternalisasian makna-maknanya.

Namun begitu film ini juga patut dijadikan referensi sebagai upaya membumikan karya sastra agar lebih dikenal khalayak umum. Juga bisa menjadi upaya modernisasi karya-karya tokoh bangsa seperti halnya Sapardi Djoko Damono itu. Kita juga akan diingatkan pada nama Hamka, sebab dia juga merupakan tokoh sastra yang buku-bukunya banyak difilmkan seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk dan Di Bawah Lindungan Ka’bah. Tren-tren seperti ini juga yang sekarang masih menjadi ciri khas perfilman Indonesia.

Meski ada banyak plot yang berkesan melenceng namun film Hujan Bulan Juni juga memiliki nilai-nilai plus. Selain diperankan oleh aktor-aktor ternama, desain dan pengambilan latar belakang filmnya akan memanjakan mata kita. Terlihat dengan banyaknya pengambilan adegan di tempat-tempat dengan pemandangan indah dan menawan seperti di bukit, sungai, dan taman bunga Sakura di Jepang yang akan membuat kita terkagum-kagum.

Pada akhirnya, film ini juga bisa menjadi referensi bagi para pemirsa yang ingin mencari film dengan genre sastra atau yang diangkat dari karya sastra. Selebihnya bisa langsung rujuk ke film yang saya maksud, sekian dan selamat menikmati.

 

 

Judul: Hujan Bulan Juni
Genre: Drama, Romance
Sutradara: Reni Nurcahyo dan Hestu Saputra
Produser: Chand Parwez Servia dan Avesina Soebli
Durasi: 96 Menit
Tanggal Rilis: 02 November 2017
Produksi: PT Kharisma Starvision Plus

 

Profil Penulis

Ozik Ole-olang
Ozik Ole-olang
Lahir di Lamongan, 21 Desember 1998. Penulis adalah mahasiswa rantau asal Madura. Kerap menulis di sejumlah web. Sekarang sedang mukim di kota Malang