Enaknya Hidup di Negeri Sadyana

Betapa nikmatnya hidup di era digital. Ke mana-mana tak perlu berat-berat membawa apa-apa. Mau ini itu sudah terhubung—tinggal pencet langsung ada. Transaksi tanpa perantara, tanpa melihat benda, semuanya menjadi sederhana. Mengurus persyaratan seperti tak usah diurus lagi, keperluan administrasi seolah tak lagi diperlukan. Semuanya sudah terfasilitasi oleh sistem digital chip 165; yg melekat tepat-ditempelkan di dalam ujung jari telunjukku. Tinggal aku meletakan telunjukku saja pada alat digital yang tersedia dalam setiap layanan, beres semua perkara, terpenuhi semua kebutuhan, tanpa kendala, tanpa masalah. Chip 165 benar-benar memudahkan kehidupan. Meringankan beban semuanya tanpa melihat golongan. Mengalahkan chip-chip lain yang sebenarnya sudah beredar.

Betapa sejahteranya hidupku di Negara Sadyana ini. Presidenku begitu berwibawa, bijaksana, solutif, meskipun pidato suka panjang, mbulet,  dan lama. Tapi tak apa, sebagai seorang yang tak pernah lupa untuk mengenakan jas merah, dia memang terkagum benar kepada sosok Tjokroaminoto yang pernah berkata: Menulislah seperti wartawan, dan berbicaralah seperti orator; yang notabene merupakan cikal bakal sampai adanya jas merah itu. Dan memang kepiawaiannya beretorika itu bukanlah sebuah masalah malah itu adalah anugerah sampai akhirnya itulah yang menyebabkan bangsaku melalui wakil-wakilnya mendapatkan hasil mufakat dari sebuah permusyawaratan dalam kepentingan kerakyatan yaitu pemilihan presiden, pemangku kebijakan tertinggi di negaraku, memutuskan memilih beliau menjadi presiden.

Menteri-menteri begitu ideal mengerjakan tugasnya untuk kepentingan rakyat, bukan sekadar memenuhi pesanan konglomerat. Setiap pemimpin daerah di negaraku pun begitu luar biasa dalam mengambil kebijakan-kebijakan dalam rangka mensyukuri otonomi daerah. Sampai di pemerintahan tingkat desa, mereka melakukan pekerjaan pelayanan kepada masyarakat dengan etos kerja yang ideal pula, tanpa sempat-sempatnya ada upaya untuk korupsi atau kolusi, apalagi nepotisme. Sejahtera benar hidup di era ini, di mana orang-orang begitu sangat dewasa.

Di sisi digitalisasi serta kedewasaan sumber daya manusianya sendiri, tak dipungkiri bahwa kestabilan kesejahteraan negeriku ini tak terlepas dari optimalnya peran fungsi para mahasiswa; yang senantiasa menjadi pengontrol, menjadi agen perubahan/ pembaharuan, sebagai generasi bermoral, penerus tongkat estafet kepemimpinan dalam hidup berbangsa dan bernegara. Elok betul menyaksikan betapa sistematisnya hidup di sini, baik dalam pengadaan sistem digitalnya, dalam pengolahan sumber daya alamnya sampai pemberdayaan sumber daya manusianya.

Konon, sistem manajemen sumber daya manusia adalah paling sulit daripada yang lain. Ya, itu memang sulit selama egosentris selalu dikedepankan. Tapi tidak di negeriku. Bahkan sampai soal kaderisasi pada organisasi mahasiswa pun berhasil tersistematis, dan  efeknya jelas, betapa idealnya sebuah peradaban yang tercipta.

Di sini, organisasi mahasiswa itu ada yang sifatnya internal dan eksternal kampus. Pandangan tujuan terhadapnya disatu-padukan. Karena tidak mungkin harmonisasi itu terjadi tanpa persatuan. Pada pokoknya, organisasi internal dibentuk untuk mewadahi mahasiswa, menumbuh-kembangkan tiap-tiap potensi yang dimilikinya, untuk merealisasikan sebuah program kerja yang mengutamakan tri darma perguruan tinggi, untuk menunjang kebutuhan administrasi setiap program studi, serta tentu untuk memantau kebijakan-kebijakan kampus. Sedangkan organisasi eksternal dibentuk untuk menjadi sebuah jaringan komunikasi antar mahasiswa dari kampus yang berbeda, mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintahan untuk kemudian mengambil langkah konkret demi kemajuan bangsa. Betapa perbedaan di antara keduanya harus diperhatikan.

Sistem kaderisasinya adalah setiap mahasiswa baru atau mahasiswa tingkat I (satu) hanya difokuskan untuk aktif di organisasi internal, himpunan mahasiswa jurusan. Kemudian mahasiswa tingkat II (dua), baru boleh aktif berorganisasi di luar himpunan jurusan seperti di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) atau di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), yang notabene organisasi tersebut masih tetap organisasi internal. Setelah menginjak tingkat III (tiga), selanjutnya mahasiswa didorong untuk turut serta aktif di organisasi eksternal. Maka pada tingkat akhir, yaitu tingkat IV (empat), dengan kematangannya, setiap mahasiswa dapat melakukan pergerakan yang dinamis berdasarkan idealisme yang telah terbentuk kuat. Sistem kaderisasi ini awalnya dianggap kaku, tetapi setelah dijalankan, kenyataannya justru signifikan daripada sistem kuno yang sembarang,  asal open rekrutmen saja semaunya untuk memasukan mahasiswa ke dalam organisasi.

Bangsaku di negara ini sadar betul betapa pentingnya peranan organisasi eksternal, yaitu salah-satu yang paling penting adalah mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintahan untuk kemudian mengambil langkah konkret demi sebuah kemajuan. Takkan ideal apabila mahasiswa baru yang masih dalam masa transisi dari siswa menjadi mahasiswa, dari iklim sekolah ke iklim kampus, harus dibenturkan kepada persoalan-persoalan negara serta pergerakan-pergerakan advokasi politis. Begitu pun sebaliknya, tak etis apabila mahasiswa tingkat atas, dari tingkat tiga sampai akhir, tak mampu berkontribusi nyata untuk memperjuangkan kepentingan bangsa. Maka jelas begitu idealnya sistem kaderisasi organisasi mahasiswa yang ada di negaraku.

Betapa pentingnya mahasiswa tingkat satu hanya difokuskan di himpunan mahasiswa jurusan. Itu momen untuk mengenalkan bagaimana seorang organisatoris beraksi. Dimulai dari mendalami makna mahasiswa, organisasi, dan organisatoris itu sendiri sampai dapat terhayati. Mengenalkan apa itu administrasi dan bagaimana itu birokrasi. Lalu menanamkan nilai-nilai kepemimpinan yang kemudian mempelajari betapa pentingnya pandai dalam retorika. Itu semua digembleng di himpunan mahasiswa jurusan supaya tekanannya tidak terlalu besar, skalanya tidak terlalu lebar, supaya mempermudah melewati masa transisi itu tadi, supaya intelektualitasnya lahir terlebih dulu.

Selanjutnya, di tingkat dua, setiap mahasiswa mulai belajar berorganisasi bersama rekan lintas jurusan di dalam UKM atau pun BEM, untuk menikmati bagaimana dinamika berorganisasi, serta mulai beraksi bagaimana mengurusi persoalan yang lebih luas dari sekadar tingkat jurusan, yakni tingkat kampus. Barulah setelah memiliki pengalaman tersebut, selanjutnya ketika menginjak tingkat tiga, para mahasiswa didorong untuk merangsek masuk ke organisasi eksternal, untuk ambil bagian, bagaimana bisa berkontribusi kepada bangsa dan negara, implementasi tri darma perguruan tinggi serta realisasi peran fungsi mahasiswa itu sendiri. Benar-benar sistem kaderisasi yang konkret.

Tetapi hidup sejahtera di negara Sadyana ini tak lantas membuatku mustahil untuk mendapati kesedihan. Aku teringat lirihnya Guntur kemarin yang masih terngiang sampai hari ini. “Aku rindu Ayah,” katanya, menyedihkan. Betapa tak membuatku sedih, ia dan beliau adalah bagian dari keluargaku. Tentu dukanya adalah dukaku. Terlebih lagi tak dapat dipungkiri betapa tragisnya kematiannya. Beliau adalah korban chip 63X. Beliau dilenyapkan oleh sistem chip itu sebab terang-terangan menyembah Tuhan. Beruntungnya aku, kita, berhasil keluar dari kehidupan di bawah sistem biadab itu.

Profil Penulis

Budi Hikmah
Pegiat Literasi Kopel Purwakarta dan aktivis PERMATA cabang Purwakarta