Dermaga [Puisi-Puisi Ade Riani]

 

Dermaga

 

Seorang gadis dengan sepotong hati paling koyak

datang membawa rana

di punggungnya ada rindu yang mengalir sungai

dari matanya meluap. Merendam senyum manisnya

membanjiri tanah

 

tanah dipijaknya ditenggelamkan air matanya sendiri

Si gadis menjadi diam paling geming

mematung di ujung dermaga

 

Adalah laut di hadapnya terlalu asing untuk diajak bicara

Dikepung bisu yang sesak

Didesak lara yang tiba-tiba menjadi samudera

 

Di dermaga itu

Si gadis membiarkan dirinya

Menjadi pelampiasan samudera yang diundang ritual tangisnya

 

 

Juli 2017

 

Mayang

 

Ada temaram yang tak terucap kotaku

mungkinkah kita memiliki kegelisahan yang sama?

yang tak kusangka ‘kan terjadi

di lembah keterasingan

adakah jalan yang bisa kukenang

dari masa lalumu?

di sebuah tempat yang paling pencil

di dadamu, gugusan mimpi menjelma jentik-jentik

apakah semua ‘kan sama ‘tuk kukenang di lain waktu?

 

 

 

Sepi

 

Bisuku ini

Tak semata hanya padamu

juga pada dinding

Pada pintu

Pada cermin

Pun pada bayanganku sendiri

tak lagi kusapa

 

sepikul kenangan nadir

lara dan nanar

segala terkulum dalam mata

 

malam memuncak

mata tak dapat kupejam

berkumul nestapa mendekap duka

segala tiada

di sini sesak akan sepi

 

 

15 Februari 2018

 

 

 

SUATU PAGI

 

Suatu pagi berjalan memburu embun

Setetes embun di ujung telunjuk mengintip matahari malumalu

Lihat! Rumput berkabut terhampar  di balik  embun

Suatu pagi sebelum semangkuk soto

Jalan merayapi mobil mobil yang terjebak kemacetan

Klakson mulai mengupat saling selip di suatu pagi

Ini kabut. bukan embun yang dilerai matahari

Ini kabut

Dari knalpot

 

 

Juli dua ribu enam belas

 

 

 

HUJAN DAN AROMA KOPI

 

Di kedalaman matamu

Ada temaram yang lesap

Tempias gerimis mendesak resah ke sudut matamu

Lalu mencipta genangan yang menampung hujan

Tak mampu kuhitung rintiknya

Kau lebih tau banyak basah yang tumpah ke tanah

Katamu, hujan selalu butuh kehangatan

Kutawarkan secangkir kopi hangat

kau teguk aromanya

mengingatkanmu pada sesak kenangan yang selalu berulang, katamu

Hujan semakin deras di pipimu membawa rindu mendidihkan kenangan

Menyeduh keterasingan

Sedang cangkirmu tetap tak kurang

Kau hanya hirup bau kenangan dari seduhan kopimu

entah pada riwayat yang mana

masih kau lanjutkan mengenang hujan, sebanyak tempias yang menempa wajah ayumu, kekasih

sering kali kau datang hanya untuk melihat hujan

seperti sebelumnya, aku hanya mampu mendengarkan gerakan bibirmu

Ini perihal ketersediaan tempat untuk kembali

Pada masa yang telah kelam

jauh sebelum aku mengenal puisi juga senyummu

yang membuat lesung di pipimu lebih kentara

kau selalu bisa menikmati hujan

 

2017

Profil Penulis

Ade Riani Fujiah
Lahir di Purwakarta pada November1994.
Bergiat di Sanggar Sastra Purwakarta,Pustakaki, dan kelompok baca rintis.