Esai

Denni JA (Mungkin) Bukan Urusan Aing!

Seminggu lalu  aku ikutan tandatangan Petisi Menolak Program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional Denny JA. Petisi yang kubicarakan tersebut kiranya berangkat dari empat poin yang kuringkas sebagai berikut:

  1. Klaim puisi esai sebagai genre baru merupakan penggelapan sejarah sastra.
  2. Mendukung program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional DJA sama artinya dengan mendukung tindak perusakan sastra sebagai kajian keilmuan.
  3. Program Penulisan Buku Puisi Esai Nasional adalah rekayasa politis DJA untuk mendapat pengakuan sebagai tokoh sastra dengan menggunakan kekuatan uang.
  4. DJA diduga memanipulasi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa serta Balai Bahasa/Kantor Bahasa untuk menyukseskan program Penulisan Buku Puisi Esai Nasionalnya.

Reaksiku sepintas untuk keempatnya sebenarnya berubah-ubah. Awalnya, wah apaan nih? Duitnya oke juga! Kemudian, sue! Lalu, bodo amat. Kemudian, bukan urusan aing; dan sekarang: Eh bentar dulu deh!

Tak lama setelah aku turut tandatangan aku agak menyesal. Karena jika kupikir-pikir banyak orang yang juga melakukan hal tidak bijaksana seperti Denny JA. Ya, biasa ajalah.

Sekitar satu tahun sejak penerbitan buku “33 Tokoh Sastra yang Berpengaruh” yang mencatut namanya itu, aku juga menemukan hal yang agak mirip. Aku baca istilah Haiku-Sonian dicetuskan oleh Soni Farid Maulana, nama yang tidak asing di antara pemerhati sastra koran. Juga melihat langsung (dua kali!) bagaimana Sutardji membicarakan puisinya seolah-olah ia baru saja menemukan solusi untuk semua masalah di Indonesia. Juga membaca esai-esai Narudin Pituin yang—Astaga! Aku tidak syanggup mengomentari “Sang Begawan” ini.

Semua orang medioker dengan cara masing-masing, ujar Eka Kurniawan suatu waktu. Aku tidak bilang bahwa yang Kang Soni, Bang Tardji, dan Om Narudin lakukan itu salah. Atau sama aduhaynya dengan yang Denni JA lakukan. Tapi jika kau tahu apa yang sedang kubicarakan, kukira kamu akan mengerti apa maksudnya semua orang, medioker dengan caranya masing-masing.

Dalam hal ini, kemediokeranku adalah ikut-ikutan menandatangani petisi yang sebenarnya sama sekali tidak aku pedulikan isunya. Sungguh.

Semua orang pernah menulis puisi buruk (syukurnya aku sering melihat ini kerap terjadi dalam puisi esai) atau membaca puisi dengan cara yang juga buruk (dengan mengimitasi habis-habisan cara Rendra membaca puisi), atau menikmati puisi dengan tidak kalah buruknya. Tapi apakah itu semua hal yang salah untuk dilakukan, atau, bukankah itu semua seharusnya bukan urusan besar?

Aku mungkin tidak peduli pada Denni JA, tapi apakah aku bisa tenang?

Di antara semua hal buruk itu, kami di Purwakarta tetap melakukan apa yang kami bisa dan kami perlukan untuk habitat kesastraan di Purwakarta. Pembicaraan kami masih pada “bagaimana cara menulis puisi?” selama tujuh tahun lebih!

Tapi, ini yang sebenarnya mulai menganggu. Salah satu temanku di perguruan tinggi di Purwakarta jurusan bahasa Indonesia mendapat tugas menulis “puisi esai”. Begitu kutanya siapa nama dosen degil itu, dia bilang: juara puisi esai tahun lalu. Barulah aku pikir: sikap tidak peduli itu benar-benar menyebalkan dan aku ngeliat sesuatu yang tidak menyengkan.

Di tengah masyarakat yang awam pada sastra (dan ini terjadi di semua lapisan masyarakatnya) seorang pengusaha melihat peluang di tengah-tengahnya. Bagi seseorang seperti Bang Den, tidak ada hal yang salah dilakukan. Nadhimpun juga melakukan hal yang sama dengan Gojek. Dia melihat peluang (atau celah?) dalam bisnis transportasi ojek di Indonesia dan berinvestasi besaar-besarsan di sana. Apkah dia bisa diterima semua orang? Kamu tahu jawabannya.

Melihat Denni JA pada dasarnya membuatku bingung. Duit, duit dia. Karya, karya dia (menutupi kualitasnya dengan embel-embel genre baru). Ya kalau banyak yang tetap miskin meski sanggup menulis dengan bagus, memangnya siapa yang bisa disalahkan?

Ya dia lah! Wqwq.

Aku mungkin terbaca naif atau malah plin-plan buatmu. Apalagi aku sudah cerita soal temanku yang dapat tugas puisi esai itu. Tapi jujur saja, setelah aku menulis sampai ke paragraf ini, aku merasa menandatangani petisi itu adalah selemah-lemah iman yang sanggup aku lakukan.

Pada akhirnya kita tidak perlu sebegitu kzl pada Bang Den. Toh dia cuma seseorang yang mengira dirinya penyair. Saranku, ambil minuman hangatmu. Mari kita lihat sejauh mana kesanggupan Bang Den mempertahankan (atau membiayai?) status kepenyairannya di jagat puisi-esai yang jika sudah tiba saatnya bakal sirna juga.

Lagipula mereka yang percaya bahwa Bang Den adalah seorang mujaddid kesusastraan kita toh tetap akan kekeuh dengan hal tersebut.

Ngomong-ngomong ada yang bisa ditertawakan selain itu, misalnya teman dekat saya haqqulyaqin 100%, bahwa bumi ini datar. Meski itu bukanlah jenis bahan tertawaan yang membuatku senang.

 

 

Profil Penulis

Ahmad Farid
Ahmad Farid
Muda dan tak berdaya. Pustakawan di @pustakaki dan aktif di @gusdurianpwk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *