Dari Kota Perantauan ke Kota Kelahiran

Sudah lama saya meninggalkan Purwakarta, kota kelahiran yang selama 11 tahun telah memanjakan saya, dengan seribu permainan anak-anak yang entah dari mana muasalnya, buah-buahan yang menggelantung di kebun tetangga, hingga jahilnya anak kecil yang bikin geram orang tua.

Kini saya telah tumbuh sebagai seorang pemuda. Kota ini tiba-tiba saja menjadi sarang-sarang pemodal yang menghancurkan sistem ekologi, dan penuh dengan ormas-ormas fundamentalis.

Saya meninggalkan kota ini selama sepuluh tahun untuk kuliah, hanya bisa mengamati kota ini dari bungkusan indah yang disajikan pemimpin pembangunan, menjadikan kota ini terkenal, mulai dari konstruksi wisata, bencong selebgram, sepasang kekasih si buruk rupa dan si tampan, hingga Perda (Peraturan Daerah) yang menggelitik nan viral.

 

Jika ditanya mengapa saya harus pergi dari kota ini untuk kuliah, jelas saya tak punya alasan khusus! Saya hanya ingin pergi dari kota ini, tak lebih.

 

Ketika masa-masa libur kuliah tiba saya selalu pulang kampung dan merasa kesepian. Teman-teman rumah dan sekolah dulu sudah hilang layak di telan bumi. Untuk menghilangkan sepi saya hanya jalan-jalan mengamati kota ini. Kagum dengan insfrastuktur kota, mereka tampak rapi dan tertata. Jalan-jalan diaspal dari kota hingga pelosok desa, dan air mancur fenomenal yang menggiurkan wisatawan untuk mulai melirik kota ini menjadikan list di tour liburannya. Rasanya tak malu untuk disombongkan kepada orang di perantauan

Tapi di balik itu semua saya merasa ada ganjalan. Misalnya pemasangan pot besar di tengah trotoar, alun-alun yang dijadikan taman seakan-akan mengikis ruang publik masyarakat, dan juga masyarakat yang tidak bisa bersama-sama menjaga keindahan kota.

Setelah masa transisi SMA ke kuliah saya mulai mencari kegiatan penghilang kejenuhan, bergabung dengan komunitas photography, lalu mundur dari komunitas tersebut tak lama kemudian.

Menjadi mahasiswa artinya menerakan istilah agent of change di jidat sendiri. Semua keheroikan ala mahasiswa jika dipikir-pikir adalah tamparan kencang untuk saya. Akhirnya saya memaksakan diri untuk membaca agar bisa memantaskan diri.

Di perantauan saya membentuk perpustakaan terbuka di lingkungan kampus, ikut menghidupkan budaya membaca yang hari ini sangat asing, bahkan di lingkungan orang berpendidikan. Perpus terbuka ini adalah salah satu sikap perlawanan kami terhadap perpus kampus yang terlihat kaku dan membosankan, tak ada diskusi hasil bacaan karena memang aturan yang melarang untuk membuat keributan, dan juga tidak bisa sambil merokok santai karena di dalam ruangan ber-AC yang sebenarnya lebih nyaman untuk bermalas-malasan.

Setelah berjalan satu tahun mengurus perpustakaan terbuka, saya merasa ini perlu diterapkan di kota saya agar manjadi pemantik supaya anak muda mau membaca, saya berambisi bahwa 10% dari anak muda kota saya pasti ada yang hobinya membaca, ya kalau tidak ada sama sekali saya mengonsepkan untuk menjejelkan budaya membaca di kalangan anak muda desa, sekalian mengabdikan diri terhadap masyarakat desa juga.

Wacana ini pun saya diskusikan dengan teman-teman organ ekstra yang berada di kota saya dan untungnya mereka pun menyetujui karena memang ada senior organnya kala itu, saya tak peduli apabila kegiatan ini akan dimasukan oleh mereka di dalam kepentingan program kerja, yang penting bergerak bersama. Hasilnya ternyata nihil. Kami bubar begitu saja.

Kok bisa? Mengapa mahasiswa-mahasiswa ini hilang? Ke mana mereka? Padahal mereka organ ekstra, yang notabene organ ekstra itu sangat massif bergerak ke arah perkembangan insan. Pertanyaan-pertanyaan ini muncul dengan liar di kepala saya.

Inilah salah satu contoh anehnya anak muda di kota saya. Selalu mengoarkan eksistensi diri tanpa memperkuat esensi, berani aksi karena kalah permainan politik kampus dengan alasan demokrasi, mengabdi kepada masyarakat yang padahal dimotori politisi, bergosip di kedai kopi sampai mama ribut mencari, bikin macet kota setiap malam dengan kolompoknya agar terlihat menyeramkan dan siap perang kalau ada yang nantang. Hebat!

Pemodal (pabrik-pabrik industri) masuk ke kota saya, merebut lahan-lahan sawah, perkebunan, dan gunung-gunung. Itu semua sah dan tak dosa karena alasan membuka lapangan pekerjaan. Masyarakat pun tergiring opininya agar bekerja sesuai dengan tayangan televisi, memakai seragam itu derajatnya lebih walau pabriknya merusak ekosistem alam, dan meninggalkan kebudayaan.

Masyarakat banyak yang merasa rugi. Pabrik-pabrik berdiri, dan mereka merasa menjadi tamu di rumah sendiri.

Saat ini pilkada sudah dekat. Semoga saja bupati yang mengganti bisa memperbaiki permasalah ini, walau saya pribadi berpikir ini akan menjadi hal yang utopis, menjadikan masyarakat hanya menelan janji tanpa bukti.

Profil Penulis

Rangga Maheza
Rangga Maheza
Pemuda 21 tahun yang agamanya sama seperti kalian, yang penting punya Tuhan; dan bekerja sebagai penikmat hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.