Dari Kopel ke “Couple”: Obrolan Menyimpang Bareng Hadi Al-Bulaqi

Hadi Ibnu Sabilillah a.k.a Hadi Al-Bulaqi (Karawang 13 april 1996) Bergiat di Kopel Purwakarta, PC IPNU Purwakarta, @pustakaki, @gusdurianpwk, Aliansi BEM Purwakarta.

“Dia muda dan penuh energi. Dia besar dan pemberani. Dia adalah gayung di kamar mandi.”

Hanya tiga kalimat itulah yang bisa menggambarkan semua kebesaran dan peran-peran aktifnya di dunia jurnalistik maupun aktivisme pemuda di Purwakarta. Ini serius.

Sebagai mahasiswa paruh waktu, aktivis di beberapa UKM kampus, ia juga meliput untuk beberapa media online lokal. Seolah-olah energinya tidak cukup terkuras, ia dan teman-temannya juga membangun sebuah komunitas kreatif (yang baru saja berulang tahun pertama bulan April ini) di Purwakarta, namanya Komunitas Pena dan Lensa Purwakarta (KOPEL).

Berikut obrolan menyimpang bareng Hadi Al-Bulaqi (Koordinator KOPEL Purwakarta) yang berenergi besar itu.

 

Cerita dong gimana awal mula dan sebab-sebab yang membuatmu dan teman-teman membangun komunitas seperti KOPEL ini?

Hmm~. Bakal panjang nih, tuan. Siap-siap ya..

 

Yea~

Akhir tahun 2016 aku dan teman-teman membentuk Komunitas Jurnalistik Purwakarta (KJP), menggabungkan semua orang di UKM Jurnalis kampus, dan ekstrakulikuler sekolah-sekolah yang kami kenal.

Tujuan awal mulanya KJP sendiri adalah melahirkan jurnalis yangg jujur dan baik dan kaya. Saya terpilih menjadi koordinator saat itu. Tapi gagal menjadi kaya, sih.

Nah, tak lama, saya menemukan semacam masalah. Ada banyak sekali pelajar dan anak muda yang memiliki macam-macam bakat tapi kebingungan harus bagaimana mengekspresikan kemampuannya. Saya berpikir KJP sebenarnya bisa berkembang lebih besar jika bisa mewadahi bakat dan potensi-potensi lain di luar jurnalistik.

Tak lama di awal April 2017 bersama teman-teman KJP, kami menggelar Mubes untuk mengubah haluan KJP. Salah satu hasil Mubes tersebut ya termasuk mengganti nama, dari Komunitas Jurnalistik Purwakarta (KJP) menjadi Komunitas Pena dan Lensa Purwakarta (Kopel Purwakarta).

Kegiatan produksi film pendek para anggota Kopel Purwakarta

Jadi lebih luas, ya. Apa saja isi Kopel itu?

Iya, tuanku. Nah Kopel ini memiliki lima  bidang ruang kreatif. 1. Jurnalistik, 2. Sastra, 3. Desain Grafis, 4. Film, dan 5. Fotografi

Jadi tujuannya biar setiap anggota bisa mengasah bakat, belajar bakat baru, dan mengasuh orang lain yang ingin mengasah bakatnya juga. Jadinya saling belajar gitu, tuan.

Harapan lain semoga dari link yang kami punya bakat-bakat tersebut bisa dipulas untuk keperluan komersil. Sehingga para pemuda tidak kebingungan mencari mata pencaharian dan bakat-bakat kreatif di Purwakarta tetap tersalurkan dari generasi ke generasi.

 

Kenapa kamu membangun komunitas jurnalistik (di awal)? Seberapa banyak jumlah jurnalis di Purwakarta sehingga perlu bikin komunitas segala?

Pertama, mungkin karena pas sekolah saya aktif di eskul jurnalistik. jadi begitu lepas sekolah, saya masih ingin menggelutinya secara profesional, dan saya terbayang bagaimana jika ada anak-anak yang lepas sekolah seperti saya? Bingung mencari ruang yang bakal mengasah bakat lebih baik, dan inilah yang mengantar pada masalah kedua.

Kedua, di lingkungan profesional ternyata dunia jurnalistik kita benar-benar merisaukan. Saya melihat banyak sekali rekan seprofesi yang hanya memanfaatkan posisinya (sebagai wartawan) untuk memeras  uang–meski tidak semua wartawan seperti itu sih.

Jadi tujuan KJP itu menularkan pemikiran bahwa jurnalistik itu kerja terhormat. Jadi harus serius dan jujur.

Edan, gak sih?

 

Iya, Di, terserah kamu aja deh.

Hehe

Kegiatan bulanan komunitas Kopel Purwakarta, malam puisi.

Nah, Kopel ini kan dibikin untuk anak-anak muda Purwakarta. Secara pribadi, apa yang sebenarnya jadi visi kamu untuk Purwakarta?

Hmm… berat sekali ya..

Baiklah. Visi saya pribadi hanya ingin pemuda-pemuda menjadi peka dan kritis, kemudian dapat merespon isu-isu yang terjadi, melalui bakat yang dimilikinya. Baik itu tulisan, video, musik maupun karya-karya seni lainnya.

 

Edas. Hmm… udah punya pacar?

Pertanyaan apa iniiih?

 

Hehe. Cuma mau tahu ada hubungannya gak nama kopel dengan kata “couple”?

Ha ha, ya, engga ada, tuanku. Nama Kopel juga pernah jadi perselisihan dulu, antara PENA (Pena Lensa) dan Kopel (komunitas pena lensa). Lalu kami nyari nama yang lebih unik dan ngepas di kuping aja. Maka terpilihlah Kopel ini.

Jadi tidak ada hubungan antara kopel dengan couple.

 

Yaudaa. Selama ini menurut kamu apa sih masalah paling besar di Purwakarta?

Masalah paling besar di Purwakarta menurutku sih ya itu tadi. Banyak potensi dan bakat anak muda di Purwakarta yang bingung. Terus masih banyak pelajar dan mahasiswanya yang tidak tahu sejarah, potensi wisata, dan kearifan budaya lokal tempatnya tinggal, Purwakarta.

Padahal sebenarnya Purwakarta ini tempat paling romantis setelah Jogja dan Bandung, karena Purwakarta bukan hanya mempunyai karakter kebudayaan, tapi juga spot-spot wisata yang wow.

 

Jadi kopel juga sebenernya berusaha mengatasi ini lah yaaa

Iyah salah satu ikhtiyar kecil lah, tuankuh.

 

Jadi. Apa saja kegiatan Kopel ini ?

Diskusi mingguan perbidang, malam puisi, dan apa saja untuk mengasah keahlian perbidangnya masing-masing dengan praktek langsung membuat karya.

Kita juga akan melakukan kegiatan (BBM) belajar bareng masyarakat, dengan menggelar kegiatan pentas seni di aula desa yang akan kita kunjungi nanti

Malam Keakraban dan Perayaan Ulang Tahun Pertama Kopel Purwakarta

Kalian punya kegiatan rutin tidak?

Kegiatan rutinan kita diskusi perbidang hari jumat-sabtu-minggu, kegiatan bulanan malam puisi dan screening film

 

Btw di mana markas kalian, dan bagaimana kalau ada yang mau gabung?

Jl. Taman Makam Pahlawan, Gg. Mekarsari 2, Maracang. Kalau ada yang mau gabung cukup dengan niat belajar dan mau berbagi skill yang dimiliki.

 

Nah, sepertinya sudah cukup bincang-bincang kita. Ada pesan terakhir tidak, buat pembaca nyimpang yang aduhay. Biar kayak wawancara sungguhan gitu… he he.

Hmm… Mari kita bergerak. Sebab jika kita hanya terus berpikir untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik tanpa melakukan apa-apa, kita akan tertinggal jauh

 

Ahelah, klise! Ya sudah. Satu lagi. Terakhir, apa hal terburuk dari jatuh cinta?

Ditinggal nikah

 

Sepaqat

…..

 

Hikz

…..

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.