Cerbung: Aku Ingin Berlari [Bag. 6]

Sebuah meja dan beberapa kursi telah disiapkan oleh para wartawan di depan ruangan di mana Riko mendapatkan penanganan medis. Sebentar lagi Riko akan diminta untuk duduk di belakang meja itu dan mereka akan mengajukan beberapa pertanyaan padanya. Beberapa kamera telah terpasang, siap kapan saja untuk merekam.

Saat Riko keluar dari ruangan, seseorang dengan sigap membantunya duduk di kursi yang telah disiapkan tadi. Kening Riko telah tertambal perban yang hampir menutupi sebagian matanya, wajahnya tampak pucat dan letih. Para penduduk desa masih di depan televisi menyaksikannya.

Beberapa saat setelah ia duduk, seorang wartawan langsung berkata, “Terima kasih telah menyuguhkan kepada kami pemandangan yang luar biasa. Peristiwa ini sungguh sangat menginspirasi bagi banyak orang ketika Anda memutuskan untuk tetap berlari, padahal Anda sendiri tahu bahwa ketika itu Anda telah gagal.”

Semua orang yang berada di situ memberikan tepuk tangan. Riko tampak menunduk-nundukkan kepalanya, ia terlihat tengah menyapu-nyapu ujung bajunya.

“Tapi, bisakah Anda jelaskan pada kami mengapa Anda tadi tidak memilih untuk berhenti saja?”

Riko menimbang-nimbang, ia berhenti menyapu-nyapu bajunya lalu mengangkat kepalanya, melihat kepada orang yang memberikannya pertanyaan itu. Ia tersenyum, ramah.

“Saya telah melakukan banyak hal untuk bisa sampai ke sini,” Riko memulai penjelasannya, “Seperti yang Anda tahu, saya tinggal di sebuah kampung yang jauh, sebuah kampung tempat dimana saya berlatih setiap hari untuk bisa menambah kecepatan saya.” Riko mengusap-usap hidungnya dengan jari jempol dan telunjuknya. “Tidak seorangpun di kampung saya yang percaya kalau saya bisa mengalahkan catatan waktu tercepat yang dimiliki oleh Roger Bannister, mereka mengatakan bahwa saya pasti akan gagal.”

Semua yang menyaksikannya ketika itu diam mendengarkan. Sebelum melanjutkan perkataannya, air mata Riko berlinang, seakan-akan sedang memberitahu bahwa apa yang akan ia katakan selanjutnya adalah sesuatu yang mengharukan baginya.

“Ibu dan kakak saya tidak pernah percaya bahwa saya bisa menghasilkan sesuatu jika saya memutuskan untuk berlari … Seperti semua orang, mereka juga mengatakan bahwa saya pasti akan gagal. Dan sekarang saya tahu bahwa mereka berkata benar, saya memang gagal, baru saja saya membuktikan bahwa saya memang gagal memecahkan rekor itu.” Riko mengusap-usap kedua matanya, ia menangis.

Mendengar itu, air mata ibu dan kakaknya yang menyaksikan di depan televisi mengalir begitu saja.

“Mereka sebenarnya lebih menginginkan saya untuk melanjutkan pendidikan sebagaimana yang dilakukan anak-anak seumuran saya di kampung itu, tapi saya menolaknya, saya lebih memilih untuk berlari.”

Lelaki pendiam yang berdiri di belakangnya itu menepuk-nepuk pundak anaknya, sebuah tepukan hangat yang membesarkan hati. Sepintas, air mata lelaki itu juga berlinang-linang.

“Jika saya mau, saya bisa saja melanjutkan pendidikan seperti yang diminta oleh ibu dan kakak saya, tapi saya tidak tahu apakah saya bisa mendapatkan nilai yang baik atau tidak nantinya. Setiap orang memiliki bakat alami yang ia bawa bersama dirinya sejak ia lahir. Dan saya mengetahui bakat alami yang ada di dalam diri saya … adalah berlari.

“Maka sejak saya memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan, setiap hari selama bertahun-tahun lamanya saya melatih kaki saya untuk bisa berlari lebih cepat. Saya mengingat setiap senti usaha yang saya lakukan untuk bisa sampai di tempat ini, dan tujuan saya datang ke sini tidak lain dan tidak bukan adalah untuk bisa menembus garis finish, hanya itu. Saya hanya ingin melewati garis finish dan memperoleh catatan waktu. Seperti yang Anda semua lihat, saya dan ayah saya setidaknya berhasil memenuhinya, kami berdua berhasil melewati garis finish …”

Riko melihat ayahnya yang berdiri di belakangnya. Ayahnya tersenyum. Mata lelaki itu berkaca-kaca.

“Walau catatan waktu yang diperoleh tidak seperti yang diharapkan, setidaknya saya telah mencapai garis finish. Garis ­finish … itulah alasan saya tidak ingin berhenti walau saya tahu bahwa saya telah gagal.” Pungkas Riko sembari memberikan senyuman kepada siapa saja yang berdiri di depannya saat itu.

“Lalu …” Orang yang tadi mengajukan pertanyaan melanjutkan, “Apa yang akan Anda lakukan setelah ini?”

“Seseorang pernah berkata pada saya bahwa di dunia ini banyak orang yang tahu apa yang mereka lakukan, tapi mereka tidak melakukan apa yang mereka tahu. Saya tidak ingin menjadi orang yang seperti itu. Untuk itu, saya hanya akan melakukan apa yang saya ketahui. Saya akan tetap berlari. Sampai kapanpun, saya akan berlari! Setelah nantinya saya sembuh dari sakit ini, saya akan mencoba untuk memecahkan rekor itu lagi …”

Akhir dari penjelasan itu diiringi dengan tepuk tangan yang meriah hingga beberapa menit. Sementara di kejauhan, ibunya tengah membekapkan tangannya menutupi wajah, beliau menangis, bahunya berguncang-guncang,

“Anakku …” Lirihnya melalui sebuah bisikan dalam dekapan tangannya.

Peristiwa itu disaksikan oleh banyak orang dari seluruh pelosok negeri, mereka menyaksikan perjuangan yang telah dilakukan Riko dan ayahnya saat mereka bergandengan terpincang-pincang menuju garis finish. Maka di tahun itu, di beberapa majalah-majalah olah raga Riko disebut-sebut sebagai The Most Inspiration Of The Year,bahkan berita tentang Riko ini juga sampai kepada Roger Bannister. Katanya, di tahun yang sama Roger tergerak untuk mendatangi Riko, bertemu dengannya secara langsung.

Aku hanya ingin berlari … Sampai kapanpun, aku akan terus berlari.

— Tamat —

Profil Penulis

Gilang Mutahari
Gilang Mutahari
Penulis LENSA (sebuah novel) yang diterbitkan oleh penerbit Giatmedia (Divisi Sastra Penerbit Rayhan Intermedia), Makassar, Sulawesi Selatan pada tahun dan bulan yang sama dengan diterbitkannya karya yang pertama, Maret 2016;