Cerbung: Aku Ingin Berlari [Bag. 5]

Riko tiba di garis start. Seseorang berpakaian olah raga dan bertopi datang menghampirinya. Di tangan pria itu terdapat sebuah alat mirip pistol, Riko tahu bahwa alat itu akan ditembakkan sebagai aba-aba baginya saat mulai berlari nanti. Lelaki bertopi berwajah ramah itu menjelaskan kepada Riko tentang beberapa hal, termasuk pistol yang berada di tangannya dan sebuah kamera yang telah terpasang roda yang berada di pinggir lintasan. Riko sudah mendapatkan penjelasan perihal kamera yang terpasang roda itu dari seorang bernama Ahmad saat berada di ruangan tadi.

“Saat pistol ini ditembakkan nanti,” Lelaki itu menjelaskan, “… di ujung sana, di garis finish, seseorang akan menekan tombol stopwatch. Saat Anda menyentuh garis finish, ia akan menekan tombolnya lagi untuk mengetahui waktu yang Anda peroleh.”

Riko mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.

Sebelum pergi menuju pinggir arena, lelaki bertopi itu berkata, “Saya tidak tahu apa yang telah Anda lakukan hingga berani mencoba memecahkan rekor ini.” Ia tersenyum ramah saat mengatakan itu. “Semoga berhasil!”

Riko membalas senyumannya, “Terima kasih.” Katanya.

Sekali lagi, Riko mengamati kamera beroda yang berada di pinggir lintasan. Ia mengingat apa yang dikatakan pria berseragam di ruangan tadi, Lagipula, sejauh ini, seorang pelari profesional tidak pernah mengeluhkan keberadaan kamera-kamera itu. Riko menghembuskan nafasnya kuat-kuat.

Lamat-lamat, Riko menyadari kalau rasa gugupnya belum berkurang sejak tadi. Ia berharap dapat menemukan ayahnya di antara ratusan penonton yang duduk berderet-deret di bangku itu. Ia ingin melihatnya, ia menyangka dengan begitu, mungkin saja rasa gugupnya dapat teratasi. Lelaki pendiam dan bersahaja itu rupanya tahu kalau Riko sedang mengalih-alihkan pandangannya ke arah penonton, maka ia melambai-lambaikan tangannya. Riko menemukannya, dan tersenyum padanya. Ayahnya duduk di bangku paling depan.

Sebagaimana ketika latihan dulu, Riko menghimpun segenap konsentrasinya, mendengar detak jantungnya sendiri, dan setelah ia cukup yakin, ia menganggukkan kepala pada lelaki bertopi di pinggir lintasan, mengisyaratkan bahwa ia telah siap untuk berlari.

Melihat Riko telah bersiap-siap, penonton bertepuk tangan, sebagian membunyikan siul-siulan. Dari sudut matanya, Riko melihat lelaki bertopi mengarahkan pistolnya ke langit, dan …

Dooorr

Suara tembakan itu serta merta membuat Riko menghentakkan kakinya, melaju dengan kecepatan yang sangat deras … Penonton berdiri. Di tengah tepuk tangan yang semakin riuh, Riko mengingat segala apa yang ia butuhkan sebagaimana yang ia lakukan saat latihan di belakang rumahnya dahulu demi terus mempercepat laju kakinya. Meski tepuk tangan itu kian semarak, konsentrasi Riko membuat semua suara itu menghilang dalam sekejap. Saat itu yang ia dengar hanyalah hembusan nafasnya dan gerakan-gerakan halus ketika seluruh ototnya mulai menegang. Ia memusatkan konsentrasinya kepada pikirannya sendiri, sebab di sanalah kekuatan yang sebenarnya terletak, kecepatan luar biasa itu ada di dalam pikirannya sendiri.

Semua orang yang berada di depan televisi di desa itu menahan nafasnya, tegang menyaksikan Riko melesat-lesat dengan kecepatan yang tak biasa. Seperti ketika latihan bersamanya dahulu, Angga kecil berteriak-teriak kegirangan. Naluri kekanak-kanakannya membuat ia memutar kembali rekaman-rekaman atas apa yang ia lakukan setiap kali melihat abangnya itu berlari, yaitu memberikan semangat.

“Abaaaaaang … Ayo abaaang … Cepat lalliiii abaaaang. Lalliiiiii” Ia berteriak-teriak sembari terus menerus melompat-lompat kecil. Sesekali ia menunjuk-nunjuk layar televisi itu lagi.

Tak seorangpun yang berada di situ berkomentar. Semuanya terdiam dengan nafas yang masih saja tertahan. Genta juga mengalami hal yang sama, ia kesulitan bernafas akibat terlalu tegang. Namun apa yang membedakan ketegangan yang ia rasakan dengan siapapun yang berada di depan layar televisi itu, adalah ia mengalami ketegangan yang berselimutkan semacam rasa sesal. Segala perasaan itu, lambat laun benar-benar menyesakkan dadanya, matanya mulai tampak berlinang-linang menyaksikan Riko tengah berlari kencang di layar televisi itu.

Ketegangan yang sama juga dirasakan oleh ibu dan kakak Riko. Ibunya membekapkan kedua tangannya di dada, hampir tanpa kedip ia terus mengamati anaknya yang tengah berpeluh-peluh berlari di sebuah lintasan yang jauh dari tempat ia berada saat ini. Memenuhi ambisinya. Memenuhi mimpinya. Sementara kakaknya tercenung-cenung, ia menyandarkan kepalanya di pundak ibunya. Entah bagaimana, ia merasa telah melakukan kesalahan saat mengatakan bahwa Riko terlalu bodoh saat memutuskan untuk berlari dulu. Rasa yang penuh penyesalan itu, sebagaimana yang juga dirasakan oleh Genta, terasa kontras menusuk-nusuk dadanya yang kian sesak. Tak seorangpun penduduk desa yang berada di depan televisi itu menyangka kalau Riko telah berjuang sampai sejauh itu.

Riko telah melewati separuh lintasan. Sejauh ini ia tahu bahwa kecepatannya tidak berkurang sama sekali. Usaha selanjutnya yang harus ia lakukan setelah melewati separuh lintasan adalah mempercepat hentakan kakinya. Ia mengingat semua proses saat memunculkan keajaiban untuk menambah kecepatannya: Pikiran. Maka dari itu, demi mendapatkan ketenangan atas rasa sesak pada dadanya yang serasa hampir meledak, ia mulai membatin-batinkan beberapa kata agar dikirimkan dalam sebuah tafsiran yang positif di dalam pikirannya. Hanya tiga langkah pada hentakan kakinya, ia menemukannya. Ketenangan itu, langsung terhubung pada aturan nafasnya yang perlahan-lahan mulai teratur. Baru saja ia ingin meningkatkan usaha untuk menambahkan kecepatan, tiba-tiba …

Brukk

Semua penonton yang berada di sana berdiri, terkejut menyaksikan sebuah pemandangan yang tak terduga-duga. Satu persatu dari mereka tampak panik dan melongokkan kepala. Riko terpelanting, keningnya menghantam lintasan semen itu dengan keras sebelum akhirnya tubuhnya terhempas berguling-guling. Dalam hitungan sepersekian detik saat ia mulai meningkatkan kecepatannya tadi, ia merasa sesuatu di paha bagian kanannya tertarik dengan kuatnya dan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya, semuanya terjadi begitu cepat sehingga tanpa sempat ia mengantisipasi, keningnya telah lebih dulu menghantam lintasan semen di bawahnya. Di tengah hembusan angin yang berlalu di atas lintasan itu, untuk beberapa saat tubuh Riko tidak menunjukkan pergerakan apapun.

Di tengah kepanikan yang terjadi di bangku penonton, tampak ayahnya adalah orang yang paling tidak keruan, wajahnya menunjukkan ketakutan yang tak tergambarkan. Lelaki itu langsung berlari menuju pagar pembatas, berusaha masuk ke dalam lintasan. Ia ingin menghampiri anaknya.

Wajah yang tak kalah pucatnya juga ditunjukkan oleh ibu dan kakak Riko. Menyaksikan Riko terlepanting dengan kerasnya, tak seorangpun disana berani berkata-kata, mereka semua dilanda rasa bingung bercampur takut. Bahkan tak seorangpun di sana tampak ingin bertanya tentang apa yang baru saja terjadi. Suara Angga yang sejak tadi berteriak-teriak seketika berubah menjadi bisikan-bisikan kecil.

“Abang …” Bisiknya. Lalu karena alasan yang ia sendiri juga tidak mengetahuinya, ia menangis menyaksikan layar televisi yang menayangkan sesosok tubuh tergeletak tak bergerak di tengah-tengah lintasan lari itu.

Kamera beralih menuju sebuah pemandangan lain, merekam seorang lelaki yang tampak tergesa-gesa berusaha melompati pagar pembatas. Beberapa petugas berusaha mengamankan lelaki yang tengah berteriak-teriak itu.

Beberapa saat lamanya ayah Riko bergumul bersama dua orang petugas yang berusaha menahan dirinya untuk tidak berlari terlalu jauh ke dalam lintasan. Setelah ayahnya menjelaskan pada kedua petugas itu bahwa yang tergeletak di lintasan itu adalah anaknya, petugas itupun akhirnya melepaskannya. Secepat mungkin, dengan wajah yang penuh kerisauan, lelaki itu berlari menuju tubuh anaknya yang masih tak bergerak.

Tak berapa lama, tubuh Riko mulai menunjukkan pergerakan ketika ayahnya masih berlari di kejauan. Ia terbatuk-batuk sembari menyentuh keningnya yang sobek dan mengeluarkan darah segar. Saat ia berusaha untuk bangkit, urat pada pahanya masih tertarik sehingga rasa sakit luar biasa itu muncul lagi, Riko kembali berdebam ke lintasan semen itu.

Aku harus menyelesaikannya … Aku harus sampai di garis finish. Riko berkata dalam hati, seakan-akan itu akan memberikannya kekuatan untuk bangkit kembali. Namun, berapa kalipun usahanya untuk mencoba bangkit, rasa sakit pada paha kanannya itu membuatnya tergeletak kembali. Ia bangkit, terjatuh, bangkit dan terjatuh lagi. Hal ini terus terjadi berulang kali, hingga akhirnya, dengan segenap tenaganya menahan rasa sakit, ia benar-benar bangkit diiringi pandangan penonton yang terhenyak. Sebagian dari mereka menutup mulutnya melihat darah segar di kening Riko mulai mengalir menutupi sebelah matanya. Kiranya Riko tak peduli pada darah ataupun rasa sakit pada urat pahanya yang membuat sekujur tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Hanya satu yang melintas di dalam pikirannya ketika itu, yaitu menyelesaikan apa yang telah ia mulai: menyentuh garis Finish.

Baru saja ia akan berlari walau dengan terpincang-pincang, seseorang datang merangkulnya dari belakang. Riko menyadari bahwa orang yang merangkulnya itu adalah ayahnya, saat itulah benaknya terlintas tentang perjuangan semacam apa yang telah ia lalui sehingga dirinya bisa sampai di lintasan yang berada jauh dari kampung halamannya ini. Latihannya, segala usaha yang pernah di lakukannya, Riko menyadari bahwa semua itu telah menuai kegagalan. Seketika itu juga tangisannya pecah di pundak lelaki itu.

“Aku bisa, Ayah … Aku bisa.” Riko terisak-isak, “Aku bisa pecahkan rekornya.”

“Kau sudah berusaha, nak. Kau sudah berusaha,” Ayahnya berkata sembari membenarkan rangkulannya, “Mari kita selesaikan ini bersama-sama.”

Maka, Riko memberikan sebuah pemandangan pada semua orang yang melihatnya di lintasan itu. Seorang anak kampung yang tengah tertatih-tatih mencengkeram paha kanannya, separuh wajahnya tertutupi oleh darah, dirangkul oleh seorang lelaki, masih terus berusaha sekuat tenaga mengalahkan catatan waktu tercepat pelari tingkat dunia. Ironisnya, anak kampung itu berlari dengan terpincang-pincang.

Pemandangan yang mengharukan itu sontak membuat siapa saja yang berada di sana memberikan tepuk tangan dengan meriahnya melihat anak beranak itu masih terus berjuang terseok-seok menuju garis finish. Sebagaimana ibu, kakak, Genta dan beberapa penduduk desa yang berderai-derai air matanya di depan layar televisi, sebagian penonton juga menangis dan bertepuk tangan lebih keras lagi.

Catatan waktu yang mereka peroleh ketika melewati garis finish adalah: 37 menit 54 detik!

Profil Penulis

Gilang Mutahari
Gilang Mutahari
Penulis LENSA (sebuah novel) yang diterbitkan oleh penerbit Giatmedia (Divisi Sastra Penerbit Rayhan Intermedia), Makassar, Sulawesi Selatan pada tahun dan bulan yang sama dengan diterbitkannya karya yang pertama, Maret 2016;