Uncategorized

Cerbung: Aku Ingin Berlari [Bag. 4]

Riko mencoba hingga beberapa kali lagi setelah itu. Hasil yang didapatkan tidak jauh berbeda, tapi tetap bisa mengalahkan catatan waktu Roger: 3 menit 59.4 detik.

Ayah Riko juga berada di sana menyaksikan anaknya ketika Riko berhasil mendapatkan catatan waktu tercepatnya saat itu. Lelaki pendiam itu memang tidak banyak berkata-kata, ia hanya mengucapkan selamat pada Riko dan Angga yang saat itu tengah berteriak-teriak kegirangan. Atas ucapan selamat itu, Riko membalasnya dengan tersenyum lebar-lebar. Matanya mengabur. Kali ini bukan karena kelelahan, melainkan setitik air menggenang di bagian bawah mata itu.

Beberapa hari setelah itu, tanpa ingin berlama-lama, Riko mengirim surat kepada Departemen Olah Raga yang terletak jauh di ibukota. Dalam surat itu Riko menyampaikan bahwa ia ingin berlari sejauh 1 mil dan mengalahkan catatan waktu tercepat terakhir yang dimiliki oleh Roger Bannister. Surat itu baru mendapatkan balasan beberapa minggu setelahnya. Dalam surat yang diterimanya tersebut mereka mengatakan bahwa jika ia ingin berlari, ia harus pergi menuju ibukota, di sebuah lintasan dengan standard internasional. Yang, tentu saja, sebuah lintasan yang lebih memadai dibandingkan lintasan berpasir yang selama ini ia gunakan untuk berlatih di belakang rumahnya.

Untuk bisa sampai ke ibukota yang jauh, Riko tentu membutuhkan biaya untuk sampai ke sana. Maka dari itu ia membawa surat balasan tersebut kepada ibunya dengan harapan bahwa ibunya akan memberikannya biaya agar ia bisa sampai di ibukota. Tapi, amat disayangkan, belum sempat Riko menjelaskan maksudnya, ibunya telah lebih dulu menolak, dan penolakan yang lebih keras lagi datang dari kakaknya.

“Ibu sudah berjanji kalau semua uang tabungan itu akan digunakan kalau kamu mau melanjutkan pendidikanmu.” Jelas ibunya, “Ibu tidak tabung uang itu untuk kamu berlari.”

“Percuma, Riko … Kamu tidak akan berhasil! Kerjamu cuma menghabis-habiskan uang!” Kakaknya menimpali.

“Tapi aku sudah berlatih. Aku pasti berhasil!” Riko menjelaskan.

“Biar ayah yang mengantarkanmu ke sana.”

Mereka bertiga berpaling bersamaan, melihat lelaki pendiam itu di mulut pintu.

“Ayah akan menemanimu …”

Demi mendengar perkataan ayahnya itu, Riko langsung menghambur kepada ayahnya, memeluknya erat-erat. “Terima kasih, ayah… Terima kasih.” Katanya.

Sementara itu, di tempat lain, karena beberapa alasan Departemen Olah Raga mengabarkan hal ini kepada salah satu stasiun televisi swasta terkenal. Mereka ingin saat Riko berlari dan mencoba memecahkan rekor nanti, disiarkan secara langsung.

“Siapa anak ini?” Kata salah seorang dari stasiun televisi itu.

“Seorang anak kampung.” Jawab salah seorang dari Departemen Olah Raga.

Pria berseragam dari stasiun televisi itu semringah, “Ini menarik!” Katanya.

Tak berapa lama berita tentang Riko mulai tersebar ke seluruh pelosok negeri melalui beberapa iklan yang ditayangkan di televisi. Demi meningkatkan rating, setiap stasiun televisi sering kali memandang dan menyajikan segala sesuatu dengan amat dramatis. Maka dari itu, setiap iklan yang mereka tayangkan itu sengaja di beri judul yang dramatis pula: Anak Kampung dan Impiannya: Memecahkan Rekor Lari Dunia!

Beberapa hari setelah itu, Riko yang ditemani ayahnya berangkat menuju ibukota.


Kamera-kamera yang berada di setiap pundak beberapa orang di pinggir arena itu sudah siap untuk merekam, mereka menanti seseorang keluar dari ruangan yang terletak persis di samping arena lintasan. Rupanya iklan yang ditayangkan hingga beberapa kali di televisi itu berhasil mengundang setidaknya tidak kurang dari 300 orang yang saat ini duduk berderet-deret di bangku penonton. Mereka ingin menyaksikan bagaimana kecepatan lari anak kampung itu saat berusaha memecahkan catatan waktu seorang pelari dunia Roger Bannister.

Sementara di dalam ruangan, setelah ayahnya meninggalkannya tadi, Riko mulai melangkahkan kakinya menuju hamparan cahaya matahari di ujung ruangan, ia akan keluar melalui pintu itu menuju lintasan, tempat dimana ia akan berjuang selama kurang dari 4 menit. Begitulah rencananya. Sembari terus melangkahkan kaki, beberapa kali Riko terlihat mengendur-ngendurkan otot-otot tubuhnya dengan cara mengayun-ayunkan kedua tangannya, sesekali ia juga menyentakkannya, masih dengan harapan bahwa perbuatan itu bisa menghilangkan rasa sesak akibat kegugupan dan kecanggungan yang ia rasakan.

Lampu-lampu kecil pada kamera-kamera itu berubah menjadi merah, proses merekam telah diaktifkan. Riko mulai melangkahkan kakinya keluar ruangan diiringi tepuk tangan penonton yang sejak tadi sudah menantikan kedatangannya. Riko membutuhkan sedikit waktu untuk membiarkan matanya beradaptasi terhadap cahaya matahari yang menyilaukan. Ia mengangkat sebelah tangannya, menadahkannya di atas mata demi menghalangi cahaya matahari itu langsung menghunjam pada matanya. Segera setelah kesilauan itu tidak lagi mengganggu, Riko mendapati beberapa pria berseragam serupa dengan pria bernama Ahmad Zainuddin yang tadi ia temui di dalam ruangan. Pria-pria berseragam itu membawa kamera dipundaknya, dan ia sangat menyadari kalau kamera itu saat ini sedang mengarah padanya. Riko sempat menduga-duga apakah ia harus melambaikan tangan pada kamera atau hanya harus tersenyum, namun ia lebih memilih menundukkan pandangannya, melihat langkah kakinya sendiri yang mengantarkannya menuju lintasan bergaris putih itu.

Di sebuah tempat yang jauh dari tempat Riko berdiri saat ini, seseorang tengah berlari kencang menuju sebuah rumah dan langsung menggedor-gedor pintu rumah itu saat ia tiba. Seorang wanita membukakan pintunya, alisnya mengernyit melihat orang yang tadi menggedor-gedor sedang terengah-engah, ia meremas-remas perutnya karena kelelahan.

“Riko, Kak … Riko …” Serunya. Nafasnya tersengal-sengal, satu-satu.

“Ada apa dengan Riko? Dia tidak sedang di rumah sekarang. Dia pe—“

“Riko ada di tipi, Kak.”

Perempuan itu memundurkan tubuhnya kebelakang, tersentak. Masih berusaha mencerna apa maksud perkataan anak tetangganya itu.

“Ayo, Kak … Kita lihat dia.”

Sejurus kemudian anak tetangga itu sudah memboyong ibu dan kakak Riko menuju satu-satunya rumah di desa itu yang memiliki televisi. Mereka berdua berjalan tergopoh-gopoh mengimbangi langkahnya yang cepat. Di belakang mereka, adik Riko, Angga, juga berusaha mengimbangi dengan berlari-lari kecil, langkahnya terkelencot-kelencot.

Sesampainya di rumah itu, ternyata sebagian besar penduduk desa telah berada di sana. Tampak Genta, orang yang menjadi teman Riko saat pertama kali ia berlatih dulu, juga berada di antara kerumunan itu. Ibu, kakak dan adik Riko langsung dibantu oleh beberapa orang untuk menerobos menuju ke depan televisi. Mereka terperangah saat menyaksikan layar televisi tengah menampilkan seseorang yang berjalan pelan sembari menunduk-nundukkan kepala.

“Abang …” Angga spontan memekik saat menyadari siapa orang yang ia lihat di televisi. Ia menunjuk-nunjuk layar sembari celingukan kepada siapa saja yang berada di situ, berharap seseorang bisa memberikan penjelasan padanya.

Profil Penulis

Gilang Mutahari
Gilang Mutahari
Penulis LENSA (sebuah novel) yang diterbitkan oleh penerbit Giatmedia (Divisi Sastra Penerbit Rayhan Intermedia), Makassar, Sulawesi Selatan pada tahun dan bulan yang sama dengan diterbitkannya karya yang pertama, Maret 2016;

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *