Cerbung: Aku Ingin Berlari [Bag. 2]

source : The New York Times

“Berapaahh? Hah huhhh … Ber … berapa waktunyahhh?”  Riko terengah-engah, dadanya naik turun. Keringatnya bercucuran di sekujur tubuh. Karena terlalu lelah, ia tertunduk, mencengkeram kedua lututnya.

Riko baru saja menyelesaikan larinya, dan itu adalah usaha yang kelima kalinya di hari itu. Genta yang tadinya berdiri agak jauh, menghampiri Riko dan menyerahkan alat penghitung waktu itu padanya sembari menggeleng-gelengkan kepala.

Riko melihat angka pada alat tersebut: 7 menit 43 detik. Ia ‘pun tersenyum.

“Kita sudah lebih cepat dari sebelumnya ‘kan?” Katanya.

Genta mengamati temannya yang basah karena keringat itu, “Berapa kali lagi kau ingin mencobanya?”

Riko mengalihkan pandangannya dari alat di tangannya, memandang Genta dan mendapati wajah temannya seakan-akan mengekspresikan keraguan, tampaknya ia tak yakin kalau Riko akan berhasil. “Aku akan berlatih sampai menembus waktu kurang dari 4 menit.” Jelasnya.

“Begini, Riko … Aku yakin kalau di desa ini tidak ada yang bisa berlari lebih cepat darimu, bahkan seumur hidupku, aku belum pernah melihat orang yang bisa berlari secepat kau berlari. Tapi 4 menit … aku merasa itu mustahil, kawan! Aku sudah tidak bisa menghitung berapa kali kau sudah mencobanya sampai hari ini. Tetap saja … lihatlah waktu yang kau dapatkan itu.”

“Kau ingat berapa waktu yang kudapat saat pertama kali mencobanya dulu?”

“Ya … 9 menit 21 detik.” Setengah hati Genta menjawab.

“Lihat! Aku sudah lebih cepat sekarang.”

“Tapi itu sudah satu tahun yang lalu, Riko. Bayangkan, dalam waktu satu tahun—“

“Aku pernah mendengar orang berkata…” Riko memotong, “…Tahun pertama adalah yang tersulit.”

Genta menghela nafasnya, “Kau tahu apa yang dikatakan orang-orang desa tentangmu? Kau tahu ‘kan bagaimana ibu dan kakakmu menyikapi ambisimu ini?”

Riko memalingkan wajahnya, mengamati rimbunan pepohonan yang berada di sisi kanan mereka. Ia tak menjawab.

“Riko … aku … aku—“ Genta berusaha menjelaskan sesuatu, namun mulutnya yang terbuka kembali tertutup. Ia sedang menimbang-nimbang kembali apa yang akan ia katakan pada Riko.

“Baiklah …” Riko langsung menimpali, ia tahu bahwa Genta akan mengatakan bahwa ia tidak bisa lagi menemaninya untuk menekan tombol stopwatch saat ia berlari. Ini bukan pertama kalinya Genta membicarakannya dengan Riko.

“Aku tahu maksudmu, Genta. Aku bisa meminta adikku untuk menemaniku, kukira dia pasti mengerti jika hanya untuk menekan tombol pada alat ini.”

“Maaf, Riko… Orang-orang desa juga sudah mulai membicarakanku sekarang. Aku ti—“

“Aku paham. Tidak masalah.”

“Maaf …” Genta sekali lagi berkata. Ia mengamati wajah Riko yang tengah menatap alat penghitung di tangannya sebelum akhirnya ia berlalu, pergi meninggalkan Riko.

Sebelum Genta berjalan terlalu jauh, Riko sempat mengucapkan terima kasih padanya karena telah menemaninya selama satu tahun ini. Genta melambaikan tangannya.

Tentu tak mengherankan bagi Riko mengapa Genta memutuskan untuk bersikap seperti yang ia tunjukkan barusan. Lagipula, memang, sejauh ini ambisinya untuk menjadi seorang pelari cepat tidak menunjukkan bahwa ia akan berhasil, setidaknya tidak dalam waktu yang dekat. Ia masih harus terus berlatih menambah kecepatan larinya. Bagaimanapun caranya ia harus bisa menembus jarak 1 mil kurang dari 4 menit. Atau tepatnya 1 mil kurang dari 3 menit 59.4 detik. Itu adalah catatan waktu tercepat di seluruh dunia yang dipecahkan oleh Roger Bannister, seorang pelari berkebangsaan Inggris.

Sebelumnya, selama berabad-abad lamanya para pakar dalam bidang kedokteran, pelatih dan atlet meyakini bahwa seseorang tidak akan sekali-kali mampu melaju sejauh 1 mil dalam waktu kurang dari 4 menit. Secara fisiologis tubuh seseorang tidak dirancang untuk bisa melaju dalam kecepatan sebesar itu, kecuali apabila ia ingin mengalami kerusakan pada struktur tulang dan paru-parunya. Selain itu jantung juga akan mengalami gangguan sebelum menembus waktu 4 menit. Berlari sejauh 1 mil kurang dari 4 menit itu tak ubahnya seperti memaksakan sebuah mesih penggiling benda-benda lunak untuk menggiling benda yang lebih keras. Pada akhirnya mesin itu akan mengalami kerusakan.

Konon, pada masa Yunani kuno dahulu, orang-orang di sana sengaja melepaskan beberapa ekor singa untuk mengejar para pelari, dengan harapan bahwa mereka bisa berlari lebih cepat. Namun, hingga beberapa abad setelahnya, berlari sejauh 1 mil kurang dari 4 menit tetap menjadi “mimpi” bagi pelari di seluruh dunia. Sampai pada akhirnya, pada tahun 1954, seorang bernama Roger Bannister menggemparkan dunia, ia adalah orang pertama di planet bumi yang meruntuhkan anggapan batas kemampuan manusia dalam berlari secepat mungkin. Ia adalah orang pertama yang berhasil berlari sejauh 1 mil dalam waktu 3 menit 59.4 detik. Dan sejak saat itu, sampai beberapa tahun setelahnya, belum ada yang berhasil mengalahkan rekor Roger Bannister dalam berlari cepat. Bahkan Roger sendiri mengaku tidak bisa mengalahkan rekornya sendiri. Untuk itulah Riko, seorang anak yang berasal dari kampung, memutuskan melatih kecepatan kakinya. Ia ingin mengalahkan catatan waktu milik si Roger!

Riko tinggal di sebuah desa yang kecil. Maka, ketika pertama kali ia memutuskan untuk berlatih berlari, orang-orang desa langsung mengetahui ambisinya tersebut, lantas mengolok-oloknya. Sekali waktu ia secara tak sengaja pernah mendengar beberapa orang desa sedang bercakap-cakap, berbicara tentang dirinya.

“Lihat anak dungu itu. Dia masih berlari. Mungkin dia ingin menjadi secepat pesawat terbang!” Kata salah seorang sembari terkekeh-kekeh. Ia mengusap-usap keningnya seakan-akan apa yang dikatakannya barusan adalah hal yang tak masuk akal.

“Memangnya mau makan apa dia dengan berlari? Dasar bodoh!” Temannya yang lain menimpali sembari ikutan tertawa, meremehkan.

“Aku pernah dengar. Katanya dia ingin memecahkan rekor.” Kali ini seorang yang lain lagi berkata. “Siapa namanya? Orang Inggris itu? Roger?” Ia tergelak memegangi perutnya. “Anak kampung ingin memecahkan rekor seorang atlit? Dasar tolol.”

Mereka semua terbahak-bahak.

Memang, sejak pertama kali Riko mengutarakan ambisinya untuk mengalahkan catatan waktu yang dimiliki Roger, ia pernah menceritakannya pada beberapa orang. Hanya beberapa orang. Tapi entah bagaimana ambisinya itu kemudian terdengar oleh semua penduduk desa. Yang menjadi masalah sesungguhnya tidak terletak pada ambisinya itu, tapi lebih kepada ketika penduduk desa mengetahui bahwa Riko, demi memenuhi ambisinya, memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya setelah ia lulus dari SMA setahun yang lalu sebagaimana yang dilakukan anak-anak desa seumuran dirinya. Hal inilah yang membuat penduduk desa menjadikannya bahan lelucon, dan karena hal ini pula Riko menerima pertentangan keras dari ibu dan kakaknya.

“Kenapa? Apa yang akan kamu lakukan? Mau jadi apa kamu nanti?” Ibunya memberondong ketika pertama kali Riko mengutarakan maksudnya untuk tidak melanjutkan pendidikan.

“Aku ingin berlari.”

“Apa maksudmu?” Ibunya memekik, tak mengerti.

“Aku ingin berlatih berlari.”

“Riko …” Ibunya masih belum sepenuhnya mengerti, “Apa yang bisa kamu dapatkan dari berlari, Riko?”

Riko menundukkan kepalanya, menyapu-nyapu ujung bajunya yang tidak kotor. Saat itu ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan pada ibunya. Tentang ambisinya. Tentang waktu yang akan ia targetkan untuk bisa ia pecahkan. Bagaimanapun penjelasan yang akan ia berikan nantinya, ia sudah terlanjur percaya bahwa ibunya tidak akan pernah memahami.

“Aku tidak tahu. Yang aku tahu, aku ingin berlatih berlari.” Hanya itu yang mampu ia katakan pada akhirnya.

“Kakak sudah dengar dari orang-orang desa yang berbicara tentang dirimu, Riko!” Terdengar penekanan yang kuat dari perkataan itu. Riko tahu, seperti ibunya, kakaknya juga pasti tidak setuju dengan keinginannya. “Kamu ingin memecahkan rekor?”

Riko diam saja, menatap wajah kakaknya yang berada tak jauh dari ibunya. Lalu kembali menundukkan pandangannya, melihat kakinya sendiri.

“Ingat, Riko. Memecahkan rekor itu artinya kamu harus mengalahkan para atlit. Mereka adalah orang-orang yang terlatih. Mustahil! Mustahil seorang anak kampung seperti kamu bisa mengalahkannya!”

“Itulah alasan aku mau berlatih.”

“Riko …” Ibunya kembali berkata, “Ibu sudah kumpulkan uang untuk kebutuhanmu kalau kamu mau melanjutkan pendidikan. Teman-temanmu semua juga melakukannya. Ibu tidak mau melihat kamu menjadi satu-satunya anak yang tak berpendidikan nantinya.”

“Aku sudah membaca banyak buku. Aku bisa membaca dan menghitung.” Riko menjawab walau ia tahu itu pasti tak akan membantu.

“Biarkan saja, Bu …” Kakaknya berkata dengan nada yang tak menyenangkan, “Biarkan saja anak ini. Biarkan saja dia memenuhi ambisi bodohnya itu. Tapi ingat, Riko …” Kakaknya mengacung-acungkan telunjuknya pada Riko yang masih terus menundukkan kepala, “Jangan salahkan siapa-siapa kalau kamu menyesal. Aku tidak peduli! Biarkan saja dia, biarkan saja!”

Biarkan saja … Riko mengira bahwa membiarkannya mungkin jauh lebih baik. Sebab, bagaimanapun, ia sudah terlanjur memaktubkan ambisi besarnya ini dalam-dalam di sanubarinya. Butuh lebih dari sekedar ancaman atau kata-kata menyesal seperti yang dikatakannya kakaknya tadi untuk bisa menghentikannya. Ia tahu benar soal itu. Maka, membiarkannya saja jauh lebih baik, meski tak sepenuhnya baik.

Saat ayahnya pulang ke rumah, dari dalam kamar Riko mendengar ibunya menyampaikan percakapan mereka tadi pada ayahnya. Ibunya menyampaikan bahwa Riko tidak ingin melanjutkan pendidikannya. Ibunya juga menyampaikan bahwa, walau ia masih dalam keadaan belum sepenuhnya mengerti, Riko ingin berlatih berlari. Tidak berapa lama setelah itu ayahnya datang menemui Riko di dalam kamar. Namun, sebagaimana biasanya, ia mengetahui bahwa ayahnya tidak akan berkata apapun padanya.

Ayah Riko adalah seorang pria bersahaja dan pendiam. Ia adalah lelaki yang tidak banyak bicara. Sering kali, ketika ingin menyampaikan beberapa hal kepada anak-anaknya, termasuk Riko, entah itu merupakan perkara yang penting atau tidak, ayahnya hanya diam sambil menatapnya dalam sebuah tatapan yang penuh makna. Hal semacam ini sudah terlampau sering terjadi, sehingga Riko hampir lantas memahami apa yang sedang ayahnya coba sampaikan dalam tatapannya. Sebagaimana pula yang dilakukan ayahnya kali ini.

Ayahnya memasuki kamar itu lalu duduk di samping Riko yang juga sedang duduk di pinggir ranjangnya. Untuk beberapa saat lamanya, yang terdengar di dalam kamar itu hanyalah suara tetesan air yang berasal dari bak kamar mandi belakang dan kicau-kicau burung di belakang rumah. Ayah dan anak itu diam dalam keheningan. Riko menekan kedua tangannya di pinggiran ranjang beberapa kali, memandangi kakinya yang keras dan sengaja ia ayun-ayunkan sebelum akhirnya ia mengangkat kedua tangannya dari pinggiran ranjang itu, lalu memainkan jari-jemarinya. Tak berapa lama, Riko merasakan sesuatu menyentuh ubun-ubun kepalanya. Tangan ayahnya yang kekar namun lembut diletakkan di situ. Dan saat itulah Riko mengalihkan pandangannya menatap wajah ayahnya, ia menemukan makna yang dalam dari mata lelah ayahnya yang penyayang itu. Tak butuh waktu lama, hanya beberapa detik ia langsung mengetahui apa yang sedang disampaikan oleh mata lelaki yang dipandangnya dengan penuh kekaguman itu.

“Apapun yang ingin engkau lakukan, berjuanglah, nak!” Demikian kira-kira yang disampaikan oleh ayahnya melalui matanya yang sebening kaca.

Riko tersenyum, ayahnya berlalu.

Profil Penulis

Gilang Mutahari
Gilang Mutahari
Penulis LENSA (sebuah novel) yang diterbitkan oleh penerbit Giatmedia (Divisi Sastra Penerbit Rayhan Intermedia), Makassar, Sulawesi Selatan pada tahun dan bulan yang sama dengan diterbitkannya karya yang pertama, Maret 2016;

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.