Cerbung: Aku Ingin Berlari [Bag. 1]

source : The New York Times

Seseorang pria berseragam kemeja bersaku banyak baru saja memberitahu kepada Riko bahwa saat ia keluar dari ruangan itu beberapa kamera akan mulai menyorotinya. Dari sudut matanya, Riko bisa membaca sebuah plat kecil keemasan yang tertempel di bagian dada sebelah kanan pria tersebut, persis di atas sakunya: Ahmad Zainuddin, nama pria itu. Sementara di bagian dada sebelah kiri, masih di atas saku, Riko mendapati sebuah logo stasiun televisi swasta yang, meski terkenal, namun ia tidak cukup akrab dengan logo tersebut. Tapi ia pernah melihatnya saat berada di rumah salah satu tetangganya yang memiliki televisi. Tidak banyak orang yang memiliki televisi di desa tempat Riko tinggal, kecuali hanya bagi mereka yang cukup kaya untuk bisa membelinya, dan orang kaya itu, satu-satunya, adalah tetangga Riko, seorang pemilik peternakan dan perkebunan yang luas di desa tersebut.

“Anda akan disiarkan secara langsung … “ Pria itu menambahkan.

Riko meletakkan kepalan kedua tangannya di pinggang seraya menundukkan kepala, mengamati sepatunya yang jelek. Siapa saja yang mengamati sepatu tersebut pasti tahu bahwa sepatu itu telah dijahit lebih dari satu kali. Riko sudah menggunakan sepatu itu sejak pertama kali ia melatih kecepatan larinya beberapa tahun yang lalu. Meski seseorang pernah menyarankan untuk menggantinya, setidaknya hanya ketika ia berlari di lintasan yang sebentar lagi ia masuki, Riko dengan santun menolaknya. Masalahnya, ada terlalu banyak hal yang telah ia lewati bersama sepatu usangnya. Lagipula kakinya pasti akan merasa tak nyaman dan perlu beradaptasi jika ia menggunakan sepatu baru. Ia mengira, mungkin saja, sepatu baru pasti akan mengurangi kecepatan larinya.

“Saya tahu Anda mungkin belum terbiasa dengan kamera …” Pria berkemeja yang bernama Ahmad itu masih menjelaskan. Dari gerak-gerik Riko, termasuk ketika mengamati sepatu jelek itu, ia lantas mengetahui bahwa tak tertutup kemungkinan keberadaan kamera-kamera yang merekamnya nanti akan sedikit mengganggu konsentrasinya. “Sebuah kamera juga telah dipasangi dudukan beroda.” Lanjut pria itu, “Anda akan menemukan kamera itu berada di pinggir arena. Saat Anda berlari nanti, kamera yang telah dipasangi roda itu akan mengimbangi kecepatan lari Anda. Saya tahu mungkin itu akan mengganggu, tapi sudah menjadi tugas kami untuk mendapatkan gambar. Lagipula, sejauh ini, seorang pelari profesional tidak pernah mengeluhkan keberadaan kamera-kamera itu.” Ahmad mengakhiri sembari tersenyum, bermaksud membesarkan hati Riko.

Riko membalas senyuman ramah itu dan mengucapkan terima kasih.

“Silakan. Semua orang telah menunggu Anda. Semoga berhasil.” Ahmad mengayunkan tangan kanannya, menunjuk ujung ruangan, mempersilakan Riko untuk berjalan ke sana.

Setelah menganggukkan kepala kepada pria tersebut, Riko menarik dan menghembuskan nafasnya sampai beberapa kali, seakan-akan berharap bahwa perbuatan itu akan menghilangkan rasa sesak akibat canggung dan gugup yang ia rasakan. Namun, kenyataannya hembusan nafas itu belum cukup membantunya menghadapi hari besar ini. Ini adalah hari yang telah lama ia tunggu kedatangannya, sebuah hari dimana akan menjadi satu titik bersejarah di dalam hidupnya. 1 mil kurang dari 4 menit! Hanya itu yang ia butuhkan. Kurang dari 4 menit.

Sebelum benar-benar melangkahkan kaki, ia mengingat pesan ayahnya sesaat sebelum meninggalkannya tadi.

“Ayah tahu tidak mudah bagimu untuk bisa sampai ke sini…” Kata ayahnya, “Jadi, jangan berpikir yang tidak-tidak. Tugasmu hanya berlari. Seperti yang dulu pernah kau katakan pada ayah, kau hanya ingin berlari ‘kan? Berapa waktunya? Kurang dari 4 menit, benar? Maka singkirkan pikiranmu dari hal lain selama 4 menit itu. Berlarilah secepat yang kau bisa. Ayah percaya padamu, sejak awal ayah percaya padamu.” Riko merasakan tepukan hangat dari tangan ayahnya yang kekar sebelum akhirnya lelaki itu berlalu meninggalkannya. “Ayah nanti akan berada di bangku penonton. Berjuanglah, Nak!”

Berjuanglah … Berjuanglah … Riko membatin di dalam hati, memantapkan diri. Setelah ia merasa cukup yakin, ia mulai melangkahkan kakinya menuju hamparan cahaya di ujung ruangan, menuju arena lintasan tempat dimana ia akan menghentakkan kakinya secepat mungkin. 1 mil kurang dari 4 menit!

Bagaimanapun juga, hari ini ia harus membuktikan pada semua orang bahwa setiap perkataan yang pernah ditujukan padanya dulu, tentang betapa konyolnya bermimpi menjadi seorang pelari, adalah salah!

Profil Penulis

Gilang Mutahari
Gilang Mutahari
Penulis LENSA (sebuah novel) yang diterbitkan oleh penerbit Giatmedia (Divisi Sastra Penerbit Rayhan Intermedia), Makassar, Sulawesi Selatan pada tahun dan bulan yang sama dengan diterbitkannya karya yang pertama, Maret 2016;