Celoteh Hidup ala Bon Jovi, Chairil Anwar, Nurcholish Madjid, dan Peterpan

 

Mereka memang bukan sanak famili atau bahkan mungkin tidak pernah saling kenal sama sekali. Tapi bila kita sedikit berpikir dan membaca beberapa keterangan, ternyata ada kaitan dan hubungan antara pemikiran mereka. Tentunya Bon Jovi dan Peterpan melalui lagu, Chairil Anwar dengan Puisi, dan Nurcholish melalui buku-bukunya.

 

Persoalan tentang hidup manusia, lebih tepatnya makna dan tujuan dalam hidup memunculkan banyak suara dan gagasan. Apakah sebenarnya tujuan hidup manusia itu sendiri. Apakah hidup ini berguna atau bila tidak apakah mati adalah satu-satunya solusi? Banyak nama-nama filsuf yang turut menyuarakan kontemplasinya. Sejak zaman yunani bahkan sampai sekarang manusia terus saja mencoba memutuskan dan merumuskan seperti apa tepatnya tujuan dan makna hidupnya sendiri.

 

Nah, kebetulan sekali mereka yang saya telah sebutkan tadi turut andil dan menyuarakan prespektif tentang hidup. Dalam sebuah lagu yang cukup poluler Bon Jovi meneriakan kata “But i ain’t gonna live forever” yang berarti bahwa Bon Jovi menyadari sepenuhnya dia tidak akan hidup selamanya. Menariknya lagi, lirik selanjutnya dalam lagu It’s My Live adalah “I just wanna live while i’m alive” bahwa Bon Jovi berkomitmen dan meneguhkan hati untuk hanya hidup ketika dia hidup saja. Artinya dia tidak mengharapkan hidup lagi atau bahkan sangat pasrah atas berapapun umur yang akan diberikan padanya.

 

Berbeda dengan Chairil Anwar yang dalam sebuah puisi yang juga cukup tersohor, dia menuliskan kalimat “Aku mau hidup seribu tahun lagi”. Hal ini sangat bertolak belakang dengan apa yang Bon Jovi ungkapkan dalam lagunya. Chairil seolah masih mengharapkan akan diberikan jatah tambahan hidup atau bisa diberi kesempatan ke dua untuk hidup.

 

Meski memang keduanya tak pernah secara langsung memperdebatkan masalah hidup tapi ini adalah sebuah realita yang mudah kita temui bahwa masing-masing orang akan mempunyai pandangan sendiri tentang tujuan dan makna hidup, atau bahkan mempunyai konsepsi sendiri tentang apakah sesungguhnya hidup itu berguna. Seorang penyair dan penyanyi yang bisa kita katakan sama-sama suka merenungkan sesuatu memiliki ujung kesimpulan yang berbeda. Yang satu memilih hanya ingin hidup ketika dia hidup saja dan yang satu lagi menginginkan tambahan jatah atau kesempatan hidup lagi.

 

Sebenarnya, bila kita melihat pangalaman sehari-hari, mungkin akan banyak yang merasakan semacam frustasi kecil-kecilan memikirkan hidupnya. Ketika banyak masalah merundung dan tak kunjung menemukan jalan keluar, terkadang kita akan berpikir betapa menyeramkan dan membingungkannya hidup ini sampai-sampai muncul pikiran sepertinya mati atau tidak pernah hidup sama sekali akan menjadi lebih baik daripada hidup yang seperti itu.

 

Dalam bukunya, Nurcholish sedikit menyinggung tentang pandangan dan tujuan hidup yang bisa kita jadikan rujukam kategorisasi. Selain itu, kita akan bisa menggolongkan dua tokoh tadi (Bon Jovi dan Chairil) ke dalam 2 kelompok yang sudah Nurcholish paparkan.

 

Setidaknya, akan ada dua kelompok yang berbeda pandangan tentang makna dan tujuan hidup. Pertama adalah kaum pesimis yang berpegang teguh bahwa hidup itu tidak memiliki makna dan tujuan. Sebab menurut mereka hidup hanya serangkaian kejadian yang pada akhirnya akan berujung mati. “Hidup hanya proses pasti menuju mati” tulis Nurcholish mengambil pandangan dari beberapa filsuf. Kata kaum pesimis buat apa hidup kalau pada ujungnya akan mati. Tidak ada kebahagiaan pasti dalam hidup ini sebab akan berujung ketiadaan (mati). Lalu bukankah lebih baik tidak pernah hidup sama sekali daripada harus hidup dan pada akhirnya mati!? Manusia hanya menjalani serangkaian kenikmatan yang semu.

 

Selain itu kaum pesimis akan berkata “Kita hidup hanya merindukan masa lalu, memimpikan masa depan yang semu, sementara masa kini yang kita jalani akan tetap menjadi masa lalu yang akan kita rindu.” Begitulah kata mereka. Manusia adalah makhluk sengsara yang mabuk, sebab bagaimanapun kebahagiaan itu pada akhirnya akan tiada dan manusia akan mati. Bahkan mati pun juga merupakan kesengsaraan utama karena melihat semua orang paling takut dengan mati.

 

Berbeda halnya dengan kaum optimis yang lebih memandang hidup itu bermakna dan mempunyai tujuan. Betapapun berbeda-bedanya tujuan hidup masing-masing orang pada intinya mereka akan mencari kebahagiaan. Bila memang ketiadaan itu lebih baik daripada hidup lantas mengapa membunuh dan “mematikan” orang itu disebut tindakan kejahatan!? Begitulah ucap kaum optimis menyanggah pendapat kaum pesimis. Bila memang hidup tak berguna maka konsekuensi logisnya adalah mati lebih berharga daripada hidup, tapi apa iya semua akan memilih mati!? Ditambah lagi hampir semua orang akan menyatakan bahwa hidupnya bermakna dan bertujuan, juga mereka akan mempertahankan sekuat tenaga bahwa hidupnya bermartabat dan senantiasa meningkatkan kualitas hidupnya. Hanya orang yang putus asa memandang bahwa “ketiadaan” lebih baik daripada hidup. Ucap kaum optimis.

 

Sehubungan dengan lirik lagu It’s My Live-nya Bon Jovi bahwa Bon Jovi lebih condong pada kaum optimis yang memandang hidup itu bermakna meski memang pada akhirnya akan mati. Keteguhan dan kemantapan Bon Jovi dalam mengucapkan bahwa hidupnya sangatlah bermakna ia tunjukkan dalam bait “But i ain’t gonna live forever” (tapi aku tidak akan hidup selamanya), “It’s now or never” (sekarang atau tidak pernah) kemudian dilanjutkan oleh bait “I just wanna live while i’m alive” (aku hanya ingin hidup selama aku masih hidup). Dengan lantang dia berkomitmen bahwa sekuat tenaga dia akan terus memperjuangkan tujuan hidup selama ia masih hidup dan terus akan membuat hidupnya semakin bermakna. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang hanya satu kali itu.

 

Berbeda halnya dengan Chairil Anwar yang melalui salah satu sajaknya ia menuliskan “Aku mau hidup seribu tahun lagi” bahwa ada hal-hal yang menunjukkan seolah-olah hidup ini kurang memuaskan dan menginginkan jatah tambahan. Jelas saja bahwa tujuan hidupnya masih belum tercapai entah itu apa yang membuat pesimisme dalam sajak Chairil terasa sangat kuat. Dalam sajak lain Chairil menuliskan “Hidup hanya menunda kekalahan sebelum pada akhirnya kita menyerah” sama persis seperti pikiran kaum pesimis tadi bahwa hidup hanya berisi kebahagiaan-kebahagiaan semu sebelum pada akhirnya akan berujung mati.

 

Tapi bagaimanapun kawan, mati bukanlah satu-satunya jalan keluar meski persoalan terus melanda hidupmu. Seperti kata Peterpen dalam lagu 2 DSD “Rasa ini tak kan terobati, tetapi mati tak kan mengobati.” Persoalan, masalah, dan kawan-kawannya memang akan terus datang bahkan bertubi-tubi, tapi bagaimanapun, percayalah, mati bukan sebuah solusi.

 

Profil Penulis

Ozik Ole-olang
Ozik Ole-olang
Lahir di Lamongan, 21 Desember 1998. Penulis adalah mahasiswa rantau asal Madura. Kerap menulis di sejumlah web. Sekarang sedang mukim di kota Malang