Cantik itu Luka

“Jogging sana, biar kurus!”; “Kulit kamu kok item, ras mana nih?”; “Cantik deh kamu. Sering wudhu ya?”.

Sebagai perempuan sering saya mendengar hal-hal seperti itu. Bahkan tak jarang dari mulut kaum perempuan sendiri. Narasi keindahan memang tak pernah cukup memuaskan hasrat manusia. Definisi cantik menjadi terstandardisasi dan terbatas sehingga, memicu banyak perempuan mengejar standard yang terbatas tadi, dan itu menyiksa.

Salah satu efek dari pandangan tentang kecantikan terstandardisasi adalah bullying dan body shaming atau ringkasnya perisakan fisik. Itu buruk bagi pelaku dan korban perisakan. Terutama bagi korban itu dapat membuat kekuatan mentalnya turun.

Hal seperti itu nampaknya menjadi sesuatu yang biasa saja. Entah karena niatnya sekadar basa-basi atau iseng. Saat bertemu  kawan yang sudah lama tidak berjumpa, atau boleh jadi bisa dilakukan oleh orang asing sekalipun.

Kasus bullying ini pun sempat terjadi pada teman saya yang bertubuh agak besar, sebut saja namanya Nur. Ia adalah anak pendiam dan jarang berbaur dengan teman-teman kelas. Hampir setiap hari Nur ini tidak pernah bergabung dengan kami atau ikut untuk sekadar jajan di kantin. Ia membawa bekal sendiri, dua buah kentang dan satu telur rebus. Sekuat apa pun kami memaksa untuk mengajak, Nur selalu menolak dengan banyak alasan. Sampai pada suatu hari Nur menangis sendiri di kelas, ia memukul-mukul tubuhnya sendiri, dan memaki teman-teman yang bertubuh ramping.

Kepercayaan diri Nur hilang, ia merasa tak layak dapat teman, dan selalu mendapat ejekan kemana pun ia melangkah. Satu minggu Nur tidak masuk sekolah dan harus mendapat konseling rutin dari guru BK.

Begitulah, dampak bullying, lidah memang tidak bertulang, dan mindset seperti ini harus segera dilenyapkan. Sebelum mengakar dan membunuh jiwa percaya diri seseorang.

Disadari atau tidak, selama ini media telah membangun kontruksi sosial dan realitas kita sehingga agak sulit mengurai dari mana muasalnya standard kecantikan dan selanjutnya budaya bulliying (body shaming) ini.

Barangkali karena kita hidup di negara  patriarkis yang hampir semua medianya diurusi oleh laki-laki. Contoh kecil, dalam iklan kosmetik, hampir semua iklan pembersih wajah atau bedak, selalu menggunakan “kulit putih cantik setiap saat”. Seolah kulit putih adalah syarat mutlak untuk masuk kategori kulit yang dimiliki perempuan cantik.

Atau iklan pelangsing, yang menghipnotis masyarakat tentang bentuk tubuh ideal. Sehingga munculah ketimpangan sosial seperti bullying atau body shaming, hal ini disebabkan karena cuci otak media kepada penonton tentang stigma cantik tersebut. Laura mulvey dalam esai-nya yang sangat berpengaruh dalam feminisme berjudul “Visual pleasure and narrative cinema” menjelaskan Sudut pandang lelaki diterapkan dengan memproyeksikan fantasinya terhadap sosok perempuan sehingga dibentuk sedemikian rupa dalam peran tradisional, perempuan secara simultan dipamerkan dengan penekanan penampilan yang merangsang dan menstimulasi, sehingga perempuan akan dianggap memancing perhatian.

Saya jadi teringat statment Sutradara kondang Hanung Bramantyo, ketika diwawancarai tentang kriteria perempuan seperti apa yang bagus untuk industri film, dengan santainya blio menjawab “yang penting cantik, lah.” so, what? Lagi-lagi representasi tentang cantik diagungkan dalam produksi film tanpa diukur seberapa baik skillnya.

Ambil contoh lain, Ajang Ratu sejagat misalnya. Mungkin teman-teman sering melihat tayangan Ratu Sejagat, yang menampilkan banyak perempuan cantik dan cerdas. Tentu saja, untuk bisa berada ajang kompetisi itu harus melalui tahapan-tahapan yang bukan main selain sulit, saingannya pun banyak. Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi adalah Perempuan, Cerdas, Berpendidikan, tinggi badan minimal 165 sentimeter dan tentu tidak ada syarat khusus untuk warna kulit. Tetapi, dari sekian deretan pemenang Ajang Miss Indonesia, hampir semuanya berkulit putih dan berbadan ramping.

Sementara di Amerika, tercatat jumlah perempuan yang menderita anoreksia meningkat karena program diet yang salah. Mengerikan, demi mencapai standard cantik, ide mencintai diri sendiri menjadi tidak relevan.

Budaya seksisme yang diaplikasikan media massa juga dapat menjadi sumber kesalahan ini bermula. Pilot cantik, ojek cantik, bodyguard cantik tak pernah lepas dari headline berita murahan yang gemar clickbait. Semuanya dilabeli cantik, perempuan tak ubahnya selalu menjadi objek visual.

Masih ingat dengan Fika Fawzi? Asisten Menteri Kelautan dan Perikanan yang cerdas dan jujur menjadi sorot perhatian karena parasnya yang cantik jelita. Namun, media tak pernah melihat sisi kecerdasan dalam Fika, kecantikan tetap jadi modal utama untuk dijadikan judul headline. Teteup!

Memang, ini semua bukan terletak pada salah media. Bagaimanapun media dituntut oleh pasar. Masih ada masyarakat yang waras. Namun jika hal seperti ini dibiarkan berlarut-larut akan semakin mengukuhkan objektifikasi perempuan di mata masyarakat. Seolah perempuan harus cantik duhulu baru usahanya diapresiasi.

Bagaimana bisa kepercayaan diri harus terkikis hanya karena tubuh, atau bentuk tubuh yang tidak ideal, warna kulit, suara, tinggi tubuh. Masyarakat mengilustrasikan definisi cantik seperti apa yang diciptakan dalam pikirannya masing-masing.

Jika begini standard kecantikan telah menjadikan obyek, dan itu bagaimanapun adalah suatu bentuk kejahatan. Dan para perempuan adalah korban, mungkin karena tunduk pada narasi tunggal ‘cantik’ itu. Mungkin juga kerena berada di tengah masyarakat yang pandangannya terstruktur sedemikian rupanya.

Sudah saatnya kita melawan ini sejak dalam pikiran. Pandangan klasifikasi perempuan dan laki-laki harus diubah, dari yang tadinya cantik itu musti begini-begitu menjadi, selama kita berbuat baik, tak ada yang berhak mengatur hidup perempuan. Terlebih dalam mengatur bentuk tubuhnya.

Profil Penulis

Yayu NH
Yayu NHHehe~
Mahasiswi hukum. Founder Komunitas Swara Saudari. Meyakini bahwa Running Man adalah salah satu alasan untuk berahan hidup, bisa dijumpai di instagram @owyay ~