Bumi Manusia Milik Anak Semua Bangsa

Beberapa waktu yang lalu seseorang membagi screenshoot yang tulisannya begini: “Pramoedya itu siapa sih? Cuman penulis baru terkenal, kayaknya. Masih untung dijadiin film dan si Iqbaal mau meranin karakternya, biar laku bukunya.”

Beberapa mengirim emoji tertawa menangis, beberapa bilang anak tiktok. Lainnya bilang anak micin.

Entah kenapa dibanding screenshoot tadi, komentar terakhirlah yang bikin ngebathin “eh sebentar deh… kayaknya aku musti buka aplikasi words dulu.”

***

Meski bukan satu-satunya, Bumi Manusia adalah novel yang luar biasa. Hampir empat dekade berlalu karya ini masih tetap dibicarakan dan mengakar kuat dalam hati para pembacanya. Kutipan-kutipan darinya dijadikan pembuka berbagai tulisan, bahkan jadi sablonan kaos dan stiker. Beberapa malah sudah menjadikannya plesetan dan meme untuk lucu-lucuan. Tidak lain karena saking akrabnya Bumi Manusia bagi banyak orang.

Dari sejak Bumi Manusia diceritakan secara lisan di antara para tahanan pulau Buru; diselundupkan dan diedarkan di belakang punggung rezim Soeharto; sampai akhirnya ia tampil gagah (seolah-olah tak pernah menjadi buku yang pernah dilarang peredarannya) di rak-rak toko buku mainstream.

Awal pertemuan saya dengan buku ini adalah melalui seseorang saat SMA dulu. Ia menggosob buku ini dari kakaknya untuk dipinjamkan pada saya. Sampai sekarang saya tidak tahu apa sebab tindakannya tersebut. Barangkali ada hubungannya dengan kegelisahan yang sesungguhnya tentang novel ini—seperti, buku ini nyatanya tidak pernah diperkenalkan di sekolah-sekolah.  Tapi saya tidak sanggup menguraikan dugaan sejauh itu.

Sudah hampir enam tahun berlalu, ternyata topik obrolan ini menghubungkan kami berdua kemarin. Dia pasti terkenang saat kita sama-sama SMA. Kini ia sudah menggendong anak satu, sementara saya masih sendiri.

Tapi buku ini sudah melewati masa yang lebih panjang dari kami berdua. Dalam kurun waktu itu Bumi Manusia lebih dari sekadar mengantar sebagian orang punya anak satu, sementara yang lain masih sendiri.

Hampir 38 tahun buku ini beredar. Setiap hari ia membersamai, meninggalkan, sekaligus menemui pembaca-pembaca yang baru. Di waktu yang bersamaan para pembaca ini telah tumbuh dan menghidupkan “Minke-nya” dalam benak masing-masing. Kesan-kesan itu berbeda satu sama lain. Dan seperti semua perbedaan, ia mustahil disamakan.

Mereka yang membacanya di tahun 80-an dengan sembunyi-sembunyi bahkan sampai harus bikin fotokopiannya segala, tentu memiliki pengalaman yang berbeda dengan yang membacanya pada awal 90-an. Apalagi jika dibandingkan dengan yang punya kesempatan membacanya di awal 2000, tentu kesan perbedaannya semakin kontras.

Saya sendiri membacanya di tahun  2012. Bagi saya yang masih SMA saat itu, Bumi Manusia hanyalah novel yang terbit pada tahun 80-an dengan latar waktu yang lebih jadul dari itu. Novel ini tidak ada lucu-lucunya, adegan seksnya biasa saja, kisah cintanya sungguh tidak menyenangkan. Belum lagi ditambah hal lain, seperti tidak ada naga, Hogwarts, apalagi mahasiswa Al-Azhar yang jadi pedagang tempe dan disukai tiga wanita.

Dibanding Ayat-Ayat Cinta, Bumi Manusia adalah novel yang tidak mengundang kenikmatan dan menyuntik semangat untuk rajin ibadah dan menjadi wirausahawan seperti Fahri.

Idrus mungkin benar. Pram, tidak menulis. Tapi buang hajat.

Ya, saya mafhum belaka bahwa kesan di atas sungguh tidak pantas untuk ditulis, apalagi cerdas. Tapi siapa yang berhak menyalahkan penilaian yang bahkan jauh lebih ekstrem dari itu?

Sekarang setiap “Minke” itu keluar dari benak banyak orang. Dari generasi yang berbeda, cara menafsir yang berbeda, dan pemilik kesan yang berbeda. Minke-minke itu dikeluarkan dari dalam tempatnya, dipertontonkan, bahkan diadu-adukan, dan setiap benak berusaha keras menunjukkan versinya sebagai versi yang jauh lebih dekat dengan “aslinya”.

Pointnya adalah setiap orang punya kesan dan pengalaman yang berbeda terhadap Bumi Manusia. Semuanya tidak bisa disalahkan, tapi yang jadi masalah belakangan ini adalah ketika keadaan itu menimbulkan pertanyaan: golongan mana yang berhak merasa paling paham soal Bumi Manusia? Generasi yang mana? Golongan yang mana?

Aneh sekali jika dalam masyarakat yang beragam, kita kerap kesulitan melihat satu fakta sederhana, bahwa setiap orang punya gambaran dan kesannya sendiri-sendiri terhadap sesuatu. Termasuk soal Bumi Manusia ini.

Jika kita kembali pada anak muda yang menulis “siapa sih Pramoedya ini” sepertinya kita bisa melihat satu hal, bahwa inilah sebenarnya gambaran sederhana sistem pendidikan kita yang gagal mengenalkan novel sepenting Bumi Manusia. Juga kita sendiri yang ternyata juga tidak melakukan apa-apa dengan hal tersebut.

Iqbaal, Hanung, dan reaksi yang ‘aneh’ pada proses ekranisasi karya Pram ini sebenarnya soal apa sih?

Filmnya saja belum rilis, juga tidak ada indikasi film ini bakal jadi seperti film Pengkhinatan G30S/PKI yang menontonnya saja sempat diwajibkan. Mengapa tidak tinggal tunggu filmnya muncul—minimal di indoxx1.

Kalau filmnya nanti bagus, ya alhamdulillah. Kalau jelek, ya buat ikhtiar baru saja. Misalnya bareng-bareng buat film remake-nya. Dengan bantuan website-website crowdfunding tinggal kumpulkan orang-orang yang sama kecewanya, lalu patungan, sekalian usulkan siapa sutradara, aktor, dan penulis skripnya. Sulit memang, tapi patut dicoba.

Sebagian kita mungkin sebal dengan “Pramoedya itu siapa sih? Cuman penulis baru terkenal, kayaknya.”

Tapi kita masih bisa berharap dengan “Masih untung dijadiin film, dan si Iqbaal mau meranin karakternya, biar laku bukunya.”

Kita masih bisa berharap buku yang kita cintai ini dapat menemukan pembaca-pembaca baru.

Pada akhirnya Bumi Manusia adalah milik anak semua bangsa. Milik mereka yang mengenalnya sejak pertama kali terbit, membacanya pada sepuluh atau tiga puluh tahun setelahnya, baru kemarin sore mulai membacanya, sampai yang belum kenal sama sekali atau malah baru ingat kalau sudah ikut-ikutan nge-bully Hanung dan Iqbaal, padahal belum baca bukunya.

Suatu ketika dalam sebuah wawancara, Pram ditanya tentang karyanya yang mana yang paling bagus menurutnya. Pram menjawab:

“Oh saya tidak pernah mempersoalkan bagus atau tidak. Tidak pernah. Itu semua anak-anak rohani saya. Mereka punya sejarah sendiri, dilepas dari saya, yang punya sejarahnya sendiri-sendiri. Ada yang mati muda, ada yang mungkin bisa hidup seterusnya. Itu di luar kekuasaan saya.”

Bumi Manusia dan pembicaraannya hari ini telah membuktikan bagaimana karya tersebut telah menjadi milik semua orang. Sebab ia sudah kadung berada dalam sejarah literatur kita, sejarah kita. Sesuatu yang bahkan sudah ada dalam diri kita semua.

Profil Penulis

Ahmad Farid
Ahmad FaridMuda dan tak berdaya. Hiks~
Ketua kelas Nyimpang, pustakawan di @pustakaki, aktif di Forum Taman Baca Masyarakat, Gusdurian Purwakarta dan Sanggar Sastra Purwakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.