Buku yang Penting dan Tidak Penting

Pada dasarnya, membaca buku itu adalah kegiatan yang biasa-biasa saja, sama seperti kegiatan lain. Urusan lebih akademis atau tidak kan tergantung persepsi orang. Toh yang lebih akademis belum tentu lebih baik daripada yang tidak akademis sama sekali. Namun yang perlu dipikir kembali adalah seberapa penting membaca buku itu. Untuk menjawab ini maka juga harus melihat seberapa penting suatu buku untuk dibaca.

Pada dasarnya, penting dan tidak penting tergantung alasan dan keadaan. Makan akan jadi penting bila kita lapar dan akan menjadi gak penting bila sudah kenyang dan akan menjadi penting lagi bila kita punya alasan tertentu untuk makan. Begitu juga dengan buku. Ada buku yang penting dibaca karena memang itu penting, ada juga yang dikatakan penting sebab idealisme dan alasan-aslasan tertentu.

Buku yang penting untuk dibaca adalah semua buku yang bisa menuntun kita untuk memberikan manfaat, baik itu pada orang lain ataupun pada diri sendiri. Misal ketika ada tugas kuliah keuangan, maka membaca buku keuangan itu memang penting bagi kita. Bila kita tidak tahu tata cara shalat maka membaca buku tuntunan shalat itu akan sangatlah penting dan bahkan lebih penting daripada membaca buku lain. Persoalannya tinggal mau apa tidak kita untuk membacanya.
Seringkali orang terbuai oleh keinginan dan mengabaikan kebutuhan. Begitu juga dalam hal membaca buku. Karena terlalu meyakini bahwa baca buku itu baik kemudian banyak orang yang membabi buta dengan cara membaca semua buku yang dia temui. Tak tahu kalau ada yang lebih baik didahulukan dan ada yang mending dibaca sebagai selingan.

Prinsip pertama untuk mengukur seberapa penting buku itu adalah bermanfaat atau tidak, seperti yang dijelaskan tadi. Manfaat atau tidak itu tentunya akan kembali pada pikiran kita masing-masing. Tinggal bagaimana kita mengontrol idealisme dan realita. Manfaat dan tidaknya suatu buku dilihat dengan cara adanya perubahan ke arah yang positif, baik yang berupa perubahan sikap ataupun perubahan pemahaman (pikiran).

Perlu diperhatikan lagi, menimbang manfaat dan tidak manfaat harus dengan kebijaksanaan diri. Ada buku yang memang bermanfaat sebab kita membutuhkannya dan ada yang akan terkesan bermanfaat karena kita beri alasan agar buku itu jadi mafaat di mata orang lain. Nah, perbandingannya bagaikan buah yang matang di pohon dan buah yang matang karena karbitan. Sama-sama matang tapi kan rasanya pasti beda. Membaca al-Quran bermanfaat sebab memang akan memberi tambahan berupa pahala bagi kita. Sementara membaca buku Republik-nya Plato akan menjadi bermanfaat sebab kita sendiri yang memberikan alasan. Entah itu karena ada sesuatu yang besar di buku tersebut atau memang bukunya sangat menarik sehingga dianggap bermanfaat. Pada intinya ada manfaat yang subjektif dan ada yang objektif.

Lantas apa buku yang bermanfaat secara objektif akan juga bermanfaat bagi orang lain? Jawabannya tidak mesti. Misal ketika kamu ada tugas mata kuliah sosiologi maka buku sosiologi akan menjadi bermanfaat bagimu dan orang lain juga akan menganggap bahwa itu bermanfaat meski tidak terlalu bermanfaat bagi mereka. Nah, seperti ini juga juga dapat dikatakan manfaat secara objektif. Ada juga yang orang-orang menganggap buku itu mafaat dan buku itu memang bermanfaat bagi semua orang. Contohnya adalah al-Quran bagi umat Islam. Membacanya akan dianggap bermanfaat dan itu memang juga bermanfaat bagi semua umat Islam. Lain lagi bila kita membaca buku sastra ketika kita tahu bahwa ada tugas mata kuliah lain yang juga mengharuskan baca buku. Maka itu akan menjadi bermanfaat hanya pada benak kita pribadi saja dan tidak pada pikiran orang lain.
Lalu bagaimana bila ada buku yang menurut kita tidak bermanfaat tapi menurut orang lain bermanfaat? Maka yang harus dilakukan adalah kita mencari tahu dulu apa memang iya buku itu bermanfaat bagi diri kita seperti yang orang lain katakan. Bila tidak itu akan tetap jadi tidak bermanfaat. Sebab yang lebih tahu kebutuhan pribadi adalah diri kita sendiri.

So, sudah bermanfaatkah buku yang anda baca?
Prinsip yang ke dua untuk mengukur seberapa penting sebuah buku adalah mau kita baca atau tidak. Bila tidak mau dibaca ya sama saja tidak ada hasilnya. Bahkan betapa pun penting isi buku itu kalau tidak mau dibaca akan menjadi percuma. Tapi jangan keliru, mau dan tidak mau adalah prinsip yang nomer dua, jangan dibalik. Yang pertama tetap bermanfaat atau tidak. Bila mau dan tidak mau lebih didahulukan tanpa mempertimbangkan manfaat atau tidak maka membaca buku akan hanya menjadi kegiatan sambil lalu yang tak membawa dampak apa-apa. Mau dan tidak belum tentu karena keinginan saja, bisa jadi karena keadaan yang mendesak maka terpaksa kita mau membaca buku. Terpaksa mau dan mau-mau saja itu sama-sama mau, intinya juga mau. Dan mau itu beda dengan ingin. Bila hanya ingin itu belum membacanya, tapi bila sudah mau itu berarti telah memulai untuk membaca. Perkara di pertengahan halaman sudah tidak mau lagi dibaca, ya wallahua’lam.

Terkadang, ada buku yang menurut kita akan bermanfaat bila dibaca tapi karena entah terlaku tebal atau bahasanya yang sulit kita jadi tidak mau membacanya. Maka buku itu memang penting tapi penting yang kurang seberapa. Begitu juga bila kita mau dan bergairah membaca suatu buku tapi menurut kita itu tidak akan begitu bermanfaat maka itu juga penting yang tidak seberapa. Nah, akan menjadi sangat penting bila buku itu memang bermanfaat dan kita mau membacanya.
Kedua prinsip tadi akan bekerja dan membuahkan sesuatu yang baik hanya bila kita tidak malas membaca buku. Namun bila kita malas, membaca saja, buku apapun, maka itu akan menjadi penting bagi kita. Selebihnya kembali pada alasan dan keadaan masing-masing.
Wallahua’lam.

 

Profil Penulis

Ozik Ole-olang
Ozik Ole-olang
Lahir di Lamongan, 21 Desember 1998. Penulis adalah mahasiswa rantau asal Madura. Kerap menulis di sejumlah web. Sekarang sedang mukim di kota Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.