Bualan Ajo Sidi dalam Bukan Perawan Maria

Saya ceritakan lagi kisah tentang Ajo Sidi, seorang pembual yang membuat seorang marbut masjid meninggal dengan tragis. Ajo Sidi tidak bersalah, tangannya bersih dari darah marbut itu. Hanya saja kata-kata Ajo Sidi berhasil menggerakan tangan seorang marbut tua untuk mengiris lehernya sendiri dengan pisau cukur. Bagaimana bisa, seorang marbut yang taat beribadah bisa melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama, atau tepatnya bunuh diri?

Mungkin beberapa orang menganggap Ajo Sidi adalah tokoh antagonis yang kejam, jahat, dan tidak berperikemanusiaan, hal ini dikarenakan ia adalah orang yang patut disalahkan atas kematian marbut tua itu. Hal yang Ajo Sidi lakukan hanyalah bercerita, tidak lebih, beberapa orang menganggapnya sebagai bualan, memang bualan adalah kata yang pantas saat kita mendengar ceritanya. Ajo Sidi tidak benar-benar tahu bahkan mengalami apa yang ia ceritakan. Entah apakah ia hanya iseng untuk menakut-nakuti pendengar ceritanya? Tidak, tidak ada yang tahu persis motif Ajo Sidi membual.

Saya coba ringkas cerita yang disampaikan oleh Ajo Sidi kepada marbut tua itu, kurang lebih seperti ini. Di akhirat kelak, hadirlah seorang alim bernama Haji Saleh. Semasa hidupnya, ia rajin sembahyang, mengaji, dan memuji Tuhan. Namun ternyata Haji Saleh dijewer oleh malaikat dan dimasukkan ke neraka. Di neraka, Haji Saleh beserta para alim yang kebetulan berada di sana melakukan demonstrasi sebagai rasa ketidakadilan kepada Tuhan. Atas protes tersebut, Tuhan menjawabnya dengan mutlak bahwa Ia sama sekali tidak gila pujian, Ia memberikan kekayaan alam agar mereka bekerja dan membantu sesama, terlebih untuk keluarga dan keturunan-keturunannya. Bersembahyang adalah perkara mudah karena tidak harus mengeluarkan peluh. Mendengar jawaban Tuhan, Haji Saleh menjadi pucat pasi dan tidak bisa berkata-kata.

Sampai sini kita bisa melihat benang merah persoalan antara Ajo Sidi dan marbut tua. Bahwa marbut tua resah karena merasa cerita yang disampaikan Ajo Sidi bisa jadi benar. Semasa hidupnya, pekerjaan marbut itu memang hanya bersembahyang saja.

Lalu bagaimana dengan cerita yang Ajo Sidi sampaikan? Ia tidak pernah mengetahui bagaimana kondisi akhirat. Ia tidak benar-benar tahu apa yang sebenarnya Tuhan inginkan. Namun setidaknya ada kebenaran yang dapat dijadikan bahan perenungan dari kisah tersebut. Hal inilah yang membuat marbut mengiris lehernya sendiri.

Kisah tentang Ajo Sidi dan marbut itu terangkum dalam sebuah cerpen. Sebagai pegiat sastra, cerpen karya A.A. Navis berjudul “Robohnya Surau Kami” pasti sudah tidak asing lagi. Saat saya membaca cerpen-cerpen dalam antologi Bukan Perawan Maria, saya membayangkan bahwa inilah buku yang akan ditulis oleh Ajo Sidi jika ia benar hidup dalam dunia nyata.

Tema yang diangkat dalam buku Bukan Perawan Maria karya Feby Indirani adalah seputar isu keagamaan, khususnya agama Islam. Bukan hanya mengkritisi kehidupan beragama yang terjadi di Indonesia, buku ini juga mengkritisi konsep keagamaan.

Seperti yang dilakukan oleh Ajo Sidi, Feby secara langsung menghadirkan realitas mistik dalam beberapa cerpennya. Hal ini dibuktikan dengan penghadiran tokoh-tokoh Peri, Malaikat, dan Iblis dalam cerpen “Malaikat Cuti”, “Iblis Pensiun Dini”, “Poligami dengan Peri”, dan lainnya. Selain itu cerpen ini mengangkat gambaran dari kehidupan setelah mati dalam cerpen “Tiba di Surga”, “Ruang Tunggu”, dan “Pertanyaan Malaikat”. Kejadian yang tidak bisa dijelaskan dalam “Tanda Bekas Sujud (1)”, “Tanda Bekas Sujud (2)”, dan “Perempuan yang Kehilangan Wajahnya”. Beberapa cerpen lain hadir dalam bentuk realis, atau sebut saja membatasi hal mistik, misalnya dalam cerpen “Cemburu pada Bidadari”, “Typo”, dan “Tragedi Jumat Siang”. Pembangunan cerpen umumnya didasarkan pada teks keagamaan atau presuposisi seputar keagamaan yang ada dalam masyarakat.

Mari kita kesampingkan dulu konotasi negatif pada diksi pembual yang disandang oleh Ajo Sidi. Cerita tentang Haji Saleh akhirnya memiliki sebuah kebenaran yang dapat menjadi bahan perenungan, meski disampaikan dalam realitas mistik atau terkesan memutar-balikkan teks keagamaan. Begitu juga cerpen-cerpen yang terhimpun dalam buku Bukan Perawan Maria. Maka narasi mistik itu dapat kita cerna lagi lebih dalam, bukan hanya membaca bentuk permukaannya saja. Maka sebelum mengumpat atau mengorganisasi massa untuk demo berjilid, lebih baik tahan dan renungkan apa sebenarnya hal yang dikritisi oleh Feby.

Realitas dihadirkan oleh Feby dalam sebuah dimensi cerpen yang utuh. Tokoh-tokoh dalam cerpen bertindak dengan semestinya, sesuai dengan latar belakang mereka. Kelogisan kausalitas seakan dijaga oleh penulis dalam gerak alur, maka saat membacanya, kita akan menemukan keluguan tokoh menghadapi realitas yang hadir dalam dimensi cerpen.

Sindiran dalam beberapa cerpen dibalut dengan humor-humor yang terkesan gelap, saya sendiri agak ragu-ragu sebelum memutuskan untuk tertawa setelah membacanya. Pada beberapa cerpen lain bahkan tidak terlintas pemikiran untuk tertawa. Hampir keseluruhan cerpennya, Feby menggunakan akhir cerita yang terbuka, membiarkan pembaca dalam kebingungan untuk memaknai sendiri isi cerita. Hanya saja dengan akhir cerita yang terbuka, saya merasa beberapa cerpen terkesan terburu-buru. Hal ini karena narasi dibangun penulis dengan cara manasuka.

Selain itu dalam cerpen berjudul “Tanda Bekas Sujud (1)” dan “Tanda Bekas Sujud (2)”, saya merasa terdapat ketidakfokusan isu yang diangkat. Sebut saja isu tentang ormas yang dengan seenak udel melakukan penggusuran, anggapan tentang tanda hitam sebagai orang yang alim, kasih sayang terhadap sesama makhluk Tuhan. Pembagian cerpen ini menjadi dua, membuat “Tanda Bekas Sujud (1)” tidak selesai, banyak motif yang tidak terkesan tiba-tiba.

Dalam karya sastra, sindiran terhadap kehidupan beragama atau interteks berdasarkan teks keagamaan telah banyak diangkat oleh penulis Indonesia, misalnya A.A. Navis, Joni Ariadinata, Hamsad Rangkuti, Ayu Utami, dan lain-lain. Beberapa lainnya menjadi perdebatan publik, karena dinilai telah menista agama.

Kita bahas lagi cerpen Kipanjikusmin yang akhirnya memidanakan H.B. Jassin. “Langit Makin Mendung” mengisahkan Nabi Muhammad yang bosan berada di surga, lalu setelah mendapat izin, ia ditemani malaikat Jibril turun ke Bumi untuk melihat atau tepatnya riset tentang kehidupan kaumnya. Buroq yang ditunggangi oleh Muhammad tertembak oleh rudal dan melempar Muhammad ke Indonesia. Ia dan Jibril menjelma sebagai elang dan melihat kebusukan kehidupan masyarakat Indonesia yang notabenenya didominasi oleh pemeluk agama islam.

Cerpen “Langit Makin Mendung” menggunakan tokoh yang dianggap sakral oleh kaum muslim, yaitu Nabi Muhammad. Hal inilah yang membuat publik merasa Kipanjikusmin sedang memperolok agama islam. H.B. Jassin sebagai pemangku majalah Sastra yang memuat  cerpen ini akhirnya berdiri paling depan untuk mempertanggungjawabkan kasus ini.

Dapat kita lihat fenomena di atas terjadi berdasarkan kekhawatiran masyarakat akan teks yang dinilai menghina agama. Hal ini menurut saya sangat mungkin terjadi pada masa kini. Di saat agama yang secara langsung dapat menjadi alat untuk kepentingan beberapa orang. Mirisnya mereka bangga akan hal tersebut.

Salam kasus persidangan atas karya Kipanjikusmin, H.B. Jassin menyatakan bahwa sastra masih dianggap penting oleh masyarakat. Meskipun hadir dalam bentuk penyidangan yang akhirnya menempatkan Jassin dalam posisi bersalah.

Pembelaan Jassin dalam persidangan menyebut bahwa pengadilan ini berusaha menuntut kebebasan imajinasi pengarang. Hal ini dapat membelenggu imajinasi kreatif demi kemajuan seni dan pemikiran di Indonesia. Karena itu seniman senantiasa terancam bahaya rongrongan sebagai penjahat-penjahat yang selalu mau merusak hukum-hukum positif dengan dunianya yang imajiner.

Pentingnya penerimaan karya sastra yang mengangkat isu keagamaan adalah untuk memaknai ulang soal kebenaran yang selama ini diyakini oleh masyarakat. Saat membaca karya sastra kita diminta untuk menempatkan diri pada tokoh dan peristiwa tertentu, hingga akhirnya kita dapat berempati pada tokoh-tokoh dalam cerpen. Fiksi kurang-lebih merupakan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi pada kehidupan, dan kita selalu dapat mengambil nilai darinya.

Maka sebelum kita menempatkan Ajo Sidi sebagai pembual yang serba salah, ada baiknya kita renungkan lagi bualan yang ia sampaikan!

2018

 

 

 

Detail Buku

Judul Buku: Bukan Perawan Maria

Penulis: Feby Indirani

Penerbit: Penerbit Pabrikultur

Cetakan: II, Mei 2017

Halaman: 205 hlm 13x19cm

ISBN: 978-979-15460-9-6

 

Profil Penulis

Adhimas Prasetyo
Adhimas Prasetyo
Saya Adhimas dalam tulisan ini http://nyimpang.com/khayalan-baik-untuk-hari-puisi-nasional/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.