Betapa Merepotkannya Label Partai Syetan dan Partai Tuhan

Tahun pemilu seperti saat ini adalah saat hal aneh  terjadi. Di mana-mana semua orang sibuk bicara politik. Sebagian besar mendadak jadi psikolog dan pakar ilmu jiwa. Mereka bicara tentang perilaku, elektabilitas, bahkan latar belakang bakal calon yang terdengar seperti gosip daripada fakta.

Tetapi tidak ada hal seaneh istilah yang dibikin salah satu tokoh partai, iya semua orang juga tahu siapa dia, kalau belum iya coba deh cari tahu dulu biar gak ketinggalan info. Adapun Istilah yang dia bikin yaitu “partai Allah dan partai setan”.

Memang sih tidak ada pembicaraan politik yang bebas dari penilaian pribadi dan keberpihakan, tapi naiknya narasi partai Allah dan partai setan ini, membuat semua obrolan politik menjadi lebih emosional dan panas.

“Aku gak mau milih dia, partai pengusungnya bukan partai Allah tapi partai setan”. Ucap salah satu temanku. Aku mangap seketika mendengarnya.

Ada banyak obrolan politik yang tadinya santai, ternyata sekarang semakin cepat panas dan membakar ikatan pertemanan. Seolah-olah perbedaaan pilihan partai ini mirip dengan pilihan agama. Obrolan-onrolan ini sepertinya akan menjadi sumber perpecahan. Sebab seringkali ketika obrolan kusudahi pun, teman bicaraku masih tetap ngotot, dan malah memaksakan pandangannnya agar memilih pemimpin dengan melihat partai pengusungnya, yang tentu saja musti berasal dari partai Allah.

Lucu memang melihatnya. Aku bingung, sebenarnya partai Allah itu seperti apa? Partai yang mayoritas diisi orang Islam? Kukira yang dianggap partai setan pun mayoritas pendukungnnya tetaplah orang Islam. Kan di Indonesia mayoritas orangnya muslim.

Atau partai yang selalu melaksanakan program kerjanya untuk kebaikan masyarakat? Aku pikir semua partai juga seperti itu. Apalagi sekarang sosial media menjadi ajang promosi gratis bagi partai politik memperlihatkan program kerjanya, maka sangat mudah melabelkan mereka berlomba dalam kebaikan, iya meskipun terkesan saling pamer.

Lalu mengenai partai setan, aku juga bingung. Di luar dari betapa tidak bijaknya membuat pelabelan partai politik dengan istilah partai Allah dan partai setan, akan ada lebih banyak keanehan nantinya. Terutama ketika pemilu sudah selesai, dan pemimpin terpilih diresmikan. Sebab politik, seperti yang kita tahu, selalu dipenuhi dengan persekutuan-persukutuan yang selalu berubah-ubah.

Mari kita bayangkan kebingungan-kebingungan kecil ini sejak sekarang.

Jika nanti pemilu telah selesai dan pemimpin terpilih diresmikan. Seandainya ada orang saleh yang diusung partai setan naik, apakah kita semua benar-benar akan ditimpa azab? Atau jika pemimpin yang tidak soleh terpilih, sementara partai yang mengusungnya adalah partai Allah, apakah kita akan menjadi Indonesia yang berkah atau malah tetap diazab juga?

Wah, kalau ujung-ujungnya semua  diazab gara-gara pelabelan partai setan dan partai Allah begini, bakal repot juga ya? Pantasan progres demokrasi kita tidak beranjak ke mana-mana.

Profil Penulis

Ayi Nur Hasanah
Ayi Nur Hasanah
Ketua tercantik di @pustakaki dan aktif di beberapa komunitas literasi di Purwakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.