Bekal Memasuki Rimba Filsafat

Pertama, apakah kamu benar-benar siap berfilsafat? Mula-mula, kamu mungkin akan menggelisahkan hal-hal yang paling dekat dengan hidupmu. Mulai dari aktivitasmu atau ingatan tentang masa kecilmu. Lalu, ketika jawaban yang kamu peroleh tidak memuaskan dirimu, kamu pun mulai bertanya-tanya tentang berbagai hal yang jauh lebih rumit dan lebih sulit untuk menjawabnya.

Kegelisahanmu mulai meluas dan menyebar pada hampir setiap inci dari hidupmu. Kamu mulai bertanya tentang kelahiranmu, kelahiran ibumu, atau saudara-saudaramu, mengapa kamu, dan mereka lahir ke dunia ini? Apa tujuanmu hidup? Apa yang sebenarnya manusia cari di dunia ini? Mengapa sebagian orang bersedih dan sebagian lain bahagia? Jika kelak kamj mati, kemanakah setelah itu? Dan pertanyaan lain yang jauh lebih rumit, apakah aku benar-benar ada dan nyata? Mungkinkah ini semua hanyalah mimpi dan tubuhku sedang tertidur di suatu tempat? Kalau aku tiada, apa yang akan terus ada?

Selanjutnya, kamu tak bisa melepaskan semua pertanyaan yang muncul dari dirimu. Kamu akan kesulitan untuk tertidur. Pertanyaan-pertanyaan itu selalu hadir seperti menuntut untuk dicarikan jawabannya. Kamu akan hidup dalam kegelisahan, ketidaktahuan, kegalauan yang mungkin saja orang-orang di sekitarmu sama sekali tak peduli. Sehingga pelan-pelan kamu merasakan kesepian, kedinginan, meskipun berada di tengah percakapan manusia. Mungkin saja akan banyak orang berkata, “Kamu aneh!”

Ketahuilah, saat itu kamu sedang berada di level lain. Kamu sedang tumbuh menjadi manusia, meskipun mungkin kamu bertanya-tanya, apa yang menjadikan manusia itu manusia?

Hal lain yang barangkali akan muncul adalah di satu sisi kamu tengah bergelut dengan segala kegelisahan itu, di sisi lain kamu harus tetap bertahan hidup. Perenungan-perenunganmu bukan skill atau keahlian yang dibutuhkan perusahaan. Mereka tak membutuhkan itu, yang mereka butuhkan adalah akuntan, operator, teknisi, adiministrasi perkantoran, supir, penambang, dan jenis keahlian praktis lainnya. Maka kamu terpaksa harus menguasai keahlian praktis agar kamu bisa terus bertahan hidup. Dan itu memang diperlukan sejauh kamu hidup dalam masyarakat. Meskipun, lagi-lagi, mungkin kamu bertanya, adakah yang disebut masyarakat?

Itulah yang bisa saya katakan, sejauh yang saya alami. Bisa jadi apa yang akan kamu hadapi lebih berat dan dahsyat dari itu. Maka aku bertanya, benarkah kamu sungguh ingin memasuki dunia filsafat?

Profil Penulis

Hendra Januar
Hendra Januar
Penulis, pengajar, penggiat filsafat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.