Bagaimana Dajjal Masuk Lemariku

 

Pada bulan Februari 2013 silam (Pikiran Rakyat, 20/02/2013) Gubernur terpilih Jawa Barat membicarakan rencana Sungai Citarum dapat diminum airnya pada tahun 2018. Kini tahun penuh janji itu sudah akan berganti dengan tahun penuh janji lainnya dan hasil investigasi Greenpeace telah mengungkap bagaimana watak politisi kita sesungguhnya. Mereka selalu istiqamah membuat janji-janji yang tidak sanggup mereka penuhi.

Dalam laporan Greenpeace ditemukan beragam kimiawi berbahaya dari pembuangan industri di Sungai Citarum. Mulai dari logam berat seperti Merkuri dan Kromium Heksavalen hingga bahan kimia organik seperti Nonylphenol dan Phthalate yang dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan jangka panjang. Mulai dari kanker hingga gangguan sistem reproduksi. Gebleg.

Salah satu sumber pencemar yang signifikan di sungai Citarum adalah limbah industri. Dengan 2.700 industri sedang dan besar yang membuang limbah ke badan airnya, terlebih 53% tidak terkelola (Kompas, 04/01/18). Industri tekstil (68% dari total seluruh industri di hulu Citarum ) adalah salah satu pelaku utama polusi air tersebut.

Citarum seperti seekor keledai dengan beban puluhan kali lipat dari berat tubuhnya. Hanya menunggu waktu saja sampai beban itu membunuh keledai malang itu.

Jadi aku menghitung jumlah pakaianku. Sekadar ingin tahu seberapa besar andilku dalam perusakan lingkungan. Aku tahu kalau sebagian besar hasil produksi textil kita adalah untuk kebutuhan ekspor. Tapi ya tetap saja angka-angka tadi itu bikin baper.

Sudah sejak lama aku cemas soal berpakaian ini. Aku pernah hampir terpaksa membeli batik baru karena beberapa kali disindir kerap memakai batik yang sama untuk kondangan. Padahal sebulan sekali kondangan pun belum tentu. Belum lagi kalau bicara budaya beli baju menjelang lebaran.

Kita tahu kerusakaan lingkungan ternyata tidak terbatas pada perusakan hutan demi kebutuhan kita yang gila-gilaan pada produk olahan minyak sawit dan kayu. Dalam film dokumenter Citarum Harum kemarin setidaknya aku dapatkan informasi tambahan soal kebutuhan pokok manusia yang sudah tidak pokok lagi. Kebutuhan sandang kita.

Dalam film dokumenter tersebut kulihat bagaimana pabrik-pabrik textil lihai mencemari ekosistem kehidupan sungai dan merongrong usia pembangkit listrik yang tersebar di Jawa Barat. Air dan listrik, hal yang jauh lebih penting dari sekadar keinginan memosting foto instagram bertagar outfit of the day setiap hari.

Citarum menopang 20% output industri Indonesia dan di tepiannya ribuan pabrik mengeluarkan limbah beracun. Itu belum dihitung berikut sampah dan lain-lain. Tapi di saat yang sama Citarum adalah pemasok air bersih bagi mayoritas Jawa Barat dan 80% untuk Jakarta. Meski demikian, sungai ini disebut sebagai salah satu sungai terkotor di dunia pada 2007. Penggunaan melebihi kapasitas dan polusi industri yang terus meningkat dari tahun ke tahunnya telah merusak sungai ini.

Dalam laporan Greenpeace dicatat bahwa selama 30 tahun terakhir, berbagai program, gerakan, pinjaman dan lain-lain belum berdampak signifikan untuk Citarum. Sungai malang itu tetap tercemar berat oleh limbah industri, sampah dan limbah rumah tangga.

Semua kerusakan, dari yang mulai tampak ancamannya sedikit demi sedikit sampai yang sudah terasa betul itu tak mungkin terjadi karena salah pabrik-pabrik industri saja. Pabrik-pabrik, seperti yang kita tahu hanya akan berjalan segila dan setidak masuk akal permintaan pasar. Dan permintaan pasar adalah ilustrasi paling menjijikkan tentang cara kita hidup.

Jangan-jangan Dajjal memang sudah ada sejak lama—tolong tahan tawamu dulu. Ia sudah lama membangun dan menebar jaring-jaring yang mengontrol semua keputusan kita setiap hari. Jaring-jaring yang dapat kita rasakan saat berada di dalam toko baju dan mini market, pada bilik pemilihan umum dan baligo-baligo politik, di hadapan media elektronik dan media sosial, sampai ke urusan paling batiniah soal paket ibadah umroh dan pilihan masjid untuk ibadah.

Kita memang belum melihat seorang laki-laki buta satu matanya, bertulikan kaf-fa’-ra’ di keningnya lalu membangkitkan mayat dan menurunkan hujan. Tapi sebagaimana yang Rasul Saw kabarkan, sungai air yang ditawarkannya itu hakikatnya api dapat kita rasakan. Kita menyebutnya kapitalisme dan nafsu-nafsu eksploitatifnya!

Serius memang.

Nah, selesai sudah menghitung baju-baju di lemari. Ada  34 potong kaus dan kemeja, 20 potong celana panjang dan sarung, 4 potong baju hangat, dan 300 potong untuk masing-masing jenis lagi yang masih kuhayalkan dalam kepala. Padahal untuk ukuran orang yang tinggal di negara tropis begini aku tidak akan mati kepanasan atau kedinginan walau pakaianku hanya sepasang untuk setiap kebutuhan.

Tiga ratus potong pakaian yang masih dalam kepalaku itulah yang membuatku gentar. Apa yang kita pandang sebagai kebutuhan, seringkali berlebihan sehingga mengeluarkan kebutuhan pokok dari definisinya. Aku memandang isi lemari sekali lagi dan berpikir, Dajjal sudah sampai ke dalam lemari menjadi baju-baju, dalam kepala menjadi pola pikir, lalu ke dalam hati menjadi semacam iman.

Haruskah aku bertakbir dan meneriakkan blokir produk yahudi kafir?

Sumber:

http://www.pikiran-rakyat.com/node/221919

 

Profil Penulis

Ahmad Farid
Ahmad FaridMuda dan tak berdaya. Hiks~
Ketua kelas Nyimpang, pustakawan di @pustakaki, aktif di Forum Taman Baca Masyarakat, Gusdurian Purwakarta dan Sanggar Sastra Purwakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.