Ayat-Ayat Cinta 2 dan Umat yang Haus Dakwah

source google

Bila kamu bertanya mengapa mahasiswa Indonesia di Mesir saat ini jumlahnya mencapai 5100 orang, sementara negara Timur Tengah lainnya masih dalam hitungan di bawah 300 orang, Ayat-Ayat Cinta adalah jawabannya.

Bila kamu bertanya mengapa dalam satu dasawarsa terakhir banyak akhwat-akhwat berhijrah, follow-follow akun Instagram mahasiswa-mahasiswa yang set lokasinya di Timur Tengah, lalu memimpikan dapat suami alumni Timur Tengah, maka ada pengaruh Ayat-Ayat Cinta di sana.

Bila kamu bertanya mengapa saat ini banyak perempuan yang mendambakan sosok suami idaman yang salih sekaligus romantis, maka ada pengaruh nonton Dilan setelah Ayat-Ayat Cinta di sana.

Fyuukh… belum selesai aku jadi Fahri, kau memintaku jadi Dilan. Kriteria ganteng jadi makin sempit aja ya.

Sejak kemunculan AAC dari novel sampai jadi film di 2008 lalu, antusias masyarakat akan kemunculan lanjutan kisah Fahri itu cukup tinggi. Saya yang selama empat tahun terakhir hidup di Mesir pun, masih sering menemukan guyonan-guyonan garing yang bersangkut paut dengan film AAC 1, atau Ketika Cinta Bertasbih (KCB) yang lahir setelah AAC.

Sebegitu kuatkah pengaruh AAC terhadap kehidupan millennial muslim Indonesia saat ini?

Bahkan saat saya kenalan dengan orang baru di Indonesia dan ia tahu saya tinggal di Mesir, seakan-akan di belakang saya muncul Rossa nyanyi lagu desir pasir.

Kalau kata Soni Triantoro, fenomena ini merupakan cerminan dari konsep pos-islamisasi, yaitu gejala bertemunya kebutuhan menjadi religius dan modern sekaligus bagi masyarakat Islam di berbagai wilayah. AAC hadir di saat industri film nasional yang mengangkat teman-tema seputar Islam tidak lagi menyoal perjuangan dan ekspansi dakwah ulama yang sarat politik dan konflik. Representasi Islam yang dihadirkan dalam film pos-islamisasi, sebutlah Ayat-Ayat Cinta, menemukan momentum dan mampu menangkap semangat pos-islamisasi itu. AAC hadir di hadapan jutaan penonton muslim menawarkan kisah tentang tokoh-tokohnya yang tetap bisa salih, beriman, tapi juga tetap mengusung gaya hidup modern.

Saya punya banyak ekspektasi di dunia nyata gara-gara kisah Ayat-Ayat Cinta. Misalnya di novel AAC 1 dikisahkan bahwa tetangganya Fahri yang tinggal di lantai atas punya masalah dengan saluran air. Salurannya bocor sehingga merembes ke rumah Fahri yang tepat berada di bawahnya. Tetangganya itu adalah Maria, yang dari persoalan pipa bocor itu, salah satunya, menjadi faktor kedekatan mereka berdua satu sama lain dan berujung pada pernikahan.

Ini yang bocor aer atau perasaan? Eeaa….

Kebetulan waktu saya tinggal di daerah Bawabah, kejadian serupa juga saya alami. Rumah di atas rumah saya salurannya bocor dan sering menetes dari langit-langit dapur rumah yang saya tempati. Berharap di lantai atas ada Maria, eh ternyata sebuah keluarga yang aduh tidak ramahnya. Suami istri dengan lima anak kecil. Marianya di mana? Ekspektasinya dapat asmara, kenyataannya malah dapat keributan. Anak-anaknya sering lari-larian di dalam rumah, sehingga banyak suara hentakan tiap malam. Atau Emak Bapaknya ya yang main lari-larian?

Ekspektasi lainnya adalah membayangkan AAC 2 yang hadir dalam versi film akan tak kalah seru dengan ‘film’ imajinasi saya ketika menikmati novelnya, meskipun saya baca loncat-loncat tidak kaffah. Tapi nyatanya, saya sejujurnya tidak tertarik untuk menonton filmnya lagi, malah lebih tertarik untuk memutar ulang lagu-lagu pengiringnya yang dinyanyikan Rossa dan Isyana. Krisdayanti? Enggak ah… nyari yang single aja.

Sama seperti AAC 1, tokoh Fahri digambarkan sebagai sosok ideal yang terlalu ideal untuk ditemukan di dunia nyata. Too good to be true. Orang Indonesia yang cerdas, berpendidikan tinggi, dosen Oxford, harta melimpah, salih, rajin ibadah, suka menolong, pandai berpoligami, ganteng dan modis, disukai banyak perempuan cantik. Pokoknya pas jadi karakter yang bablas jadi playboy, hobi ke Alexis, dan masuk teve karena ikut amnesti pajak.

Tokoh Fahri (Fedi Nuril) digambarkan sebagai sosok yang hampir tanpa cela. Saya berpikir mungkin akan seperti itulah jika seluruh karakter Rasulullah hadir utuh di manusia zaman sekarang. Jadi pria yang baik kepada siapapun, dan bikin banyak perempuan menjadi baperan seakan-akan menjadi sosok yang paling diperhatikan. Ketika gak dinikahin, pria ini akan disebut pemberi harapan palsu. Ugh.

Pikiran saya itu tidak cocok ketika dihadapkan pada Fahri dan kebutuhan penonton akan tokoh Fahri dalam sebuah film. Ada jurang pemisah yang membuat Fahri menjadi terasa tidak begitu dekat dengan penonton. Mungkin karena memang sulit mencari persamaan karakter tokoh tersebut dengan realitas kehidupan sehari-hari. Apalagi karakter itu difasilitasi oleh kisah-kisah yang abnormal seperti kemampuan finansial di luar nalar. Rumah pribadi yang mewah, mampu menolong banyak imigran sampai bisa punya dokumen resmi, beliin rumah buat tetangga, bayarin guru les biola terbaik, bahkan bila perlu dia mampu membeli Meikarta untuk menampung seluruh fakir miskin di Skotlandia.

Penggambaran tokoh itu memang diamini oleh penulis novelnya sendiri, Habiburrahman El Shirazy. Dalam suatu wawancara ia mengatakan bahwa Fahri dalam novelnya memang diciptakan sebagai sosok paling ideal. Kang Abik menjadikan Fahri ini sebagai idealisasi tentang islam yang diharapkan, bukan yang sesungguhnya terjadi. Sosok Fahri tidak diposisikan sebagai potret pemuda islam, melainkan teladan fiksi untuk pemuda islam.

Sayangnya, ada banyak fragmen yang hilang yang padahal itu krusial untuk dihadirkan. Misalnya di adegan Aisyah melakukan operasi transfer wajah. Udah gitu proses transfernya diliatin kaya proses perakitan badan Ironman. Jika tujuannya ingin menyampaikan pesan, barangkali adegan transfer wajah ini bisa dibuat lebih panjang sebagaimana di novelnya. Fahri silaturahmi dulu ke Syekh Utsman, meminta pendapat ulama soal operasi plastik, yang menurut hemat saya akan membawa pencerahan segar bagi penonton, karena saya yakin tidak semua penonton akan dengan sendirinya punya keinginan untuk mencari tahu hukum operasi plastik demi tujuan kecantikan.

Gara-gara fragmen yang hilang ini, seakan-akan ingin mengatakan bahwa film ini punya ending yang bahagia. Fahri bertemu kembali dengan Aisyah tapi dalam kemasan kecantikan Hulya. Iyyuh…  Enak kali hidupmu, Ri, balikan sama yang lama dengan rasa pacar baru.

Fragmen lain yang kurang greget adalah ketika Fahri meminang Hulya. Cepet banget move-onnya ya… Sejak awal film ini dimulai, penonton disuguhi rentetan adegan yang menggambarkan rasa kehilangan Fahri akan Aisyah. Fahri sebagai sosok yang kesepian dan melakukan pencarian, dan dalam proses kesepian itulah ia menjalani hari-hari sebagai dosen dan sebagai tetangga yang dimusuhi. Tapi konsep kesepian yang tidak jadi klimaks itu jadi runtuh oleh adegan Fahri meminang Hulya. Transisinya terlalu cepat. Saya aja butuh waktu untuk mengatasi kesepian ditinggal perempuan, ini si Fahri udah cepet-cepet ngelamar lagi aja. Jadinya saya mikir, Fahri ini beneran ikhlas atau nafsu gak nahan ya?

Manajemen Konflik

Kekurangan terbesar yang mencolok dari AAC 2 ini adalah terlalu banyak konflik dan isu yang hendak dimunculkan, tapi tidak ada satupun yang tuntas dengan cara yang nikmat. Jika kita kembali pada film AAC pertama, permasalahan fokus pada urusan poligami. Adapun konflik lainnya, benar-benar menjadi skema pendukung yang menguatkan karakter setiap tokohnya. Sementara di AAC 2 ini, ada usaha untuk mengangkat hal-hal yang lebih universal tapi dalam wacana penokohan yang terlalu ekslusif. Isu terorisme, islamophobia, konflik Palestina-Israel, dan poligami itu sendiri,  adalah sederet tambahan beban yang harus sama-sama dituntaskan di luar kewajiban menyelesaikan kisah Aisyah yang menghilang, dan kemunculan tokoh-tokoh baru dan kisah asmara baru. Fahri dalam pemeranannya tidak hadir mewakili Islam, tapi lebih sebagai dirinya sendiri yang galau ditinggal istri.

Cerita dari setiap konflik menjadi tidak menemukan antiklimaksnya karena di waktu bersamaan ada banyak tokoh yang harus diperkuat karakternya, sekaligus diklimakskan ceritanya. Kisah Fahri dengan Hulusi (Pandji Pragiwaksono), kisah dengan tetangga Yahudinya Nenek Catarina (Dewi Irawan), kisah dengan Keira (Chelsea Islan), adalah serangkaian yang polanya sama: dimusuhi, dibaiki, jadi orang baik. Sangat ketebak dan tidak mengandung unsur kejutan. Kecuali jika peran Aisyah yang berpura-pura sebagai pembantu rumah tangga adalah bagian dari unsur kejutan itu, rasa-rasanya menjadi kejutan yang gagal juga. Kenapa bisa ketebak, karena sejak kehadiran Aisyah di rumah Fahri, sang sutradara membuat celah yang mengizinkan penonton untuk menebak-nebak, yang mana sekaligus menutup kesempatan efek tak terduganya.

Semua konflik itu sebenarnya punya potensi yang baik untuk menjadi nilai lebih dari film ini. Tapi karena konfliknya terlalu banyak dan ‘harus’ selesai semua hanya dalam durasi film 2 jam 5 menit saja. Menurut saya semuanya memang selesai, tapi dengan cara yang tergesa-gesa.

Misalnya dalam adegan di ruang perkuliahan tentang peran perempuan dalam Islam. Transisi naskah dan adegannya terlalu kasar dan tidak dramatis, sehingga pesan yang hendak disampaikan soal perempuan dan Islam itu harus terkalahkan oleh kepentingan kisah asmara. Kenapa Hulya tiba-tiba muncul dengan cara yang seperti itu? Kenapa juga harus ada ekspresi Fahri jatuh cinta di pandangan pertama? Kenapa harus gitu ekspresinya?

Adegan gagal lainnya yang menjadikan film bioskop terasa FTV ini ketika debat ilmiah bertajuk “Konflik Timur Tengah Palestina dan Israel.” Debat ilmiah yang tidak ilmiah, di mana dibuka dengan pengantar yang serius tapi berjalan dengan ketidak-gregetan yang nyata. Persiapan Fahri untuk debat tersebut dilakukan sampai begadang dengan buku bertumpuk-tumpuk, tapi hanya menghasilkan pepatah singkat soal pentingnya mencintai. Di mana ilmiahnya? Gak harus baca buku sampai begadang, saya juga tahu kalau mencintai mantan lebih baik daripada membenci mantan. Padahal kan bisa Fahri memandang konflik itu dari sudut pandang keilmuannya sebagai Doktor Filologi, atau sebagai alumni Al-Azhar yang pernah tinggal bertahun-tahun di Mesir, atau apalah apalah…

 

Pemilihan Tokoh

Saya kecewa kenapa Sutradara Guntur Soehardjanto mengamini Dewi Sandra sebagai Aisyah, bukan Rianti sebagaimana diperankan di AAC pertama. Gak tahu alasannya apa, pokoknya kecewa aja. Untung ada Chelsea Islan, jadi gak kecewa-kecewa banget. Sosok Aisyah dalam novelnya digambarkan menjadi perempuan yang wajahnya benar-benar rusak, sehingga sangat wajar jika Fahri tidak mengenalinya meskipun ia berpura-pura menjadi Sabina sebagai pembantu di rumah Fahri selama berbulan-bulan. Tapi Aisyah versi film, penggambarannya masih setengah-setengah untuk menerjemahkan sosok Aisyah versi novel. Dengan permainan make up zaman now, setidaknya ada inisiatif untuk memodif wajah Aisyah menjadi lebih buruk lagi, atau mengubah gestur berjalannya menjadi lebih terlihat cacat sehingga Fahri benar-benar tidak mengenali istrinya itu. Gara-gara kekurangan ini, saya jadi mikir kok ini si Fahri bego juga, masa iya gak kenal sama istrinya sendiri meski tertutup cadar. Ya minimal kalo suami, kenal lah sama bentuk tubuhnya, atau gerak geriknya, atau apalah-apalah.

Hal lainnya yang membuat film ini tidak terasa utuh adalah pengisahan tokoh-tokoh luar negeri yang diperankan oleh orang-orang Indonesia. Dipaksakan untuk jadi bule tapi gak pas. Hulusi yang dikisahkan sebagai pria keturunan Turki, rasa-rasanya tidak cukup terwakili oleh Pandji. Begitupun dengan sosok Catarina, dan pemeran pembantu lainnya. Apalagi dengan ditambah dialog mereka semua yang banyak menggunakan Bahasa Indonesia. Penonton jadi ambigu, tokoh-tokoh ini adalah orang Indo yang tinggal di luar negeri, atau gimana? Padahal kalaupun semuanya ngomong Bahasa Inggris atau Skotland, bukan masalah. Malah akan jadi nilai lebih sehingga nuansa shooting di luar negerinya lebih terasa.

Setelah menonton film ini dengan seksama, saya jadi kepikiran untuk ganti nama jadi Fahri. Oh enggak. Saya jadi punya pandangan bahwa tidak ada novel yang difilmkan, atau film yang dinovelkan. Alih konteks dan alih media selamanya tidak akan selalu sama. Lebih tepat disebut sebagai karya baru yang disadur atau terinspirasi dari karya sebelumnya.

Terakhir, jika kamu ingin mencari inspirasi karena bingung mau jadi apa di masa depan, tontonlah Ayat-Ayat Cinta 2. Barangkali kamu terinspirasi untuk jadi dosen di Edinburg dan Oxford, atau jadi orang kaya, atau punya istri dua, atau minimal bisa nolak Chelsea Islan yang memohon-mohon minta dinikahi.

Meski secara keseluruhan film ini agak mengecewakan. Namun jika kau sedang haus-hausnya didakwahi dan dimotivasi, film ini layak tonton. Karena kamu tak harus percaya bahwa semua adegannya adalah kejadian yang (benar-benar) nyata.

Profil Penulis

Maulana Abdul Aziz
Maulana Abdul Aziz
Orang rumahan yang tidak betah di rumah. Penyuka teh tanpa gula, penikmat jalan sore, dan sedang mencari yang cantik tanpa bedak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.