Apa sih Sebenarnya Masalah Kita di Purwakarta?

Apa sih yang salah dengan Purwakarta ini, tanyaku iseng pada seorang kawan. Dia bilang, banyak. Tapi ia urung menyebutkannya. Aku mendesaknya untuk menyebutkan satu saja… dan tahu apa yang dia bilang? Yak betul! Biaya menikah.

Tadinya aku sempat meremehkan jawabannya yang dimaksudkan sebagai lucu-lucuan. Tapi kenyataannya itu jawaban yang tidak lucu dan bukan hal yang remeh. Itu—sebagaimana kebiasan kita menggawat-gawatkan persoalan—adalah persoalan serius.

Di usia yang hampir melewati 25 ini kami semakin rentan tergetar dan mudah menggigil dengan pembicaraan seperti itu. Belum lagi jika urusan biaya menikah ini musti disambung dengan urusan-urusan horor setelahnya. Seperti rumah dan seisinya, biaya mengasuh anak, dan lapangan pekerjaan yang layak untuk menopang semua masalah yang anehnya sengaja kita undang dalam kehidupan sendiri.

Dari sini aku bisa bilang, biaya menikah adalah fenomena pucuk gunung es. Gunung es, kita tahu merendam bagian terbesarnya jauh di bawah perairan. Sehingga ia hanya menampakkan pucuknya, bagian terkecilnya  di permukaan air. Biaya menikah adalah persoalan kecil yang merendam banyak persoalan lain yang lebih besar di bawahnya.

Memang mahal itu relatif. Dua puluh lima juta tidak mahal kalau di kantongmu ada lima puluh juta. Begitu juga sebaliknya, dua puluh lima juta sungguh angka hinaan untuk kamu yang bergaji tidak sampai separuh UMR Karawang perbulannya.

Ya, nabung lah! kata si eta mah. Masalahnya kalau kamu berpikir baru saja akan menabung demi pernikahan, maka kamu perlu menabung setidaknya dua tahunan untuk sampai ke angka itu. Dengan asumsi kamu menabung dua puluh lima persen dari gajimu setiap bulannya. Itu pun kalau tempat kerjamu UMR. Kalau gak ya bisa dua sampai tiga kali lipat lebih lama.

Apa yang bisa terjadi dalam dua sampai empat tahun saat kamu menabung itu? Banyak! Kamu bisa saja diputus kontrak, dipecat, jatuh sakit, atau yang paling menguras air mata… ditinggalin. Ya, ada saja kemungkinan baiknya. Misalnya kamu dapat kerjaan yang lebih baik, atau tiba-tiba saja kamu bangun tidur dan mendapati dirimu terdampar di negara yang nilai mata uangnya jauh lebih menyedihkan dari rupiah. He he.

Sebuah laporan dari tirto.id memperpanjang daftar masalah ini. Katanya anak muda saat ini diperkirakan tidak akan punya rumah dan punya kemungkinan sulit untuk menikah sebagaimana standar yang sedang umum. Selain masalah biaya resepsi, jangan lupakan cicilan rumah dan kendaraan, juga kangen mantan.

Saya tidak mau menyisihkan separuh gaji saya yang tidak banyak untuk mempersiapkan hal seperti itu. Bukan saya tidak ingin ada yang nemenin saat bobo, menenangkan di saat pusing, memeluk di saat sedang memerlukan, atau memiliki alasan untuk pulang ke rumah lebih cepat, punya anak lucu yang kadang menghibur dan  kadang merepotkan.

Tapi saya masih merasa pernikahan adalah pintu persoalan jika kita tidak paham duduk persoalannya.

Kita bisa berhitung pahit-pahitan dulu. Alih-alih membaik, kehidupanmu ternyata penuh dengan semua tai kucing tadi itu. Jadi, apa solusinya? Ya cari yang mau menyepekati ongkos pernikahan seminimal mungkin. Apakah kemudian masalah biaya nikah itu selesai? Tentu saja. Begitu juga dengan tulisan ini. Ikut selesai.

Mari kita tinggalkan dulu soal menikah ini. Seperti disinggung tadi, itu cuma pucuknya saja. Masalah sebenarnya (mungkin) adalah bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan yang jauh terendam di bawah pucuk gunung es “biaya menikah” ini.

Bisa, bonus demografi dan bagaimana pemerintah menyikapinya; atau kesempatan kerja yang layak; sampai jaminan dan pelayanan kesehatan yang mengkhawatirkan; kualitas pendidikan; juga situasi ekonomi dan isu keamanan global.

Jika mau lebih mengerucut lagi…

Apakah pemerintah kota Purwakarta, sejauh yang sanggup kita lihat, sudah melakukan pekerjaannya dengan baik. Apakah penyakit pungli di sektor-sektor pelayanan publik sudah sembuh. Apakah pembangunan spot-spot wisata baru tidak menyingkirkan warga setempat. Apakah pembangunan-pembangunan yang ada sudah merata. Apakah sistem pendidikan kita baik-baik saja. Apakah hak-hak dasar kita untuk merasa aman sudah dipenuhi. Apakah akses terhadap ruang-ruang publik semakin mudah. Apakah akses terhadap lapangan pekerjaan mudah. Apakah kegiatan-kegiatan usaha kegiatan mandiri mendapat dukungan penuh. Apakah keberadaan fasilitas publik benar-benar dibangun demi keperluan masyarakat.

Btw, kapan sih kita bisa main futsal dan basketan di GOR-nya Disporaparbud Purwakarta? Kapan nih Taman Film samping Situ Buleud bisa bener-bener dipakai nonton film?

Kamu bisa tambahkan tiga ratus delapan puluh tiga lagi masalah-masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang terendam di bawah “biaya menikah” ini. Kamu bisa sesuaikan juga dengan kota tempatmu tinggal.

Pertanyaan-pertanyaan itu bisa saja mengenai sesuatu yang lebih besar, atau lebih spesifik, dan sekilas tampak bukan urusan kita, tapi nyatanya ada hubungannya.

Saya hanya bisa menulis beberapa saja, dan makin tahu bahwa hidup ini benar-benar tahu cara meledek kita. Dari semua pertanyaan di atas saya pribadi hanya bisa menjawab “Belum. Tapi tidak tahu bagaimana tepatnya”. Atau yang lebih baik: bodo amat ah.  Semoga Anda tidak begitu.

Saat ini saya sedang duduk, ngahuleung tarik (merenung panjang) membayangkan apa saja yang musti dihapus dari list belanja bulan ini. Sebagian besar gaji saya musti dipakai mencicil ini-itu. Sementara pekerjaan sampingan seperti mendesain dan mengedit naskah buku cuma cukup buat rokok dan kopi dan main ke sana- sini, komunitas ini komunitas itu, yang mana ketika ibu saya bertanya soal terakhir ini, jawaban saya sok gagah: jaringan adalah investasi.

Pelan-pelan terasa gigi-gigi geraham saya beradu menggigil. Membayangkan cerita teman “itu (biaya menikah yang 50 jutaan) juga belum semuanya. Masih ada pengeluaran-pengeluaran lain di luar dugaan.” Teringat juga teman yang lain “saya merasa cemas dengan masa depan.” sambil menggendong anaknya yang masih berusia tiga tahun.

Saya tidak tahu mana yang lebih menggetarkan, biaya menikah, atau ketidaktahuan kita terhadap masalah apa yang sesungguhnya terjadi di tempat kita tinggal. Maksudku, sungguh-sungguh tahu dan mengerti. Bukan cuma berlagak pakar.

Rasanya ingin menangys~

Profil Penulis

Ahmad Farid
Ahmad Farid
Muda dan tak berdaya. Pustakawan di @pustakaki dan aktif di @gusdurianpwk