Esai

Anti Hoax dan Politik Wacana Konstruksionisme

meinbezirk.at

Bagi manusia, kekuasaan atas segala hal lebih-lebih harta dan pangkat sangatlah dicari-cari dan didamba-dambakan. Bahkan kerap memicu sejumlah sikap dan tindakan yang tidak benar. Perkara itu semata hanya ditujukan untuk dapat menjadi yang tertinggi dan lebih tinggi di antara manusia lain. Praktek seperti itu biasanya sering terjadi pada proses pemilu dan hal-hal politik praktis lainnya. Lantas bagaimana bila persaingan ‘kuasa-menguasai’ juga terjadi pada ranah pemahaman, informasi, dan pengetahuan masyarakat? Bisa diperkirakan bahwa ini akan lebih bedampak negatif dari pada perebutan suara dan pangkat. Sebab sangat menyangkut aspek primordial manusia. Di mana otak yang digunakan untuk berpikir, menentukan sikap, dan pusat dari berbagai hal kegiatan manusia sudah teracuni dan tak berdaya.

Seperti fenomena yang belakangan ini terjadi terkait dengan isu berita palsu atau hoax. Ini menjadi bukti kongkrit bahwa otak dan pemahaman dalam diri manusia dapat dikendalikan dan dikebiri. Dimasuki informasi yang sebenarnya salah. Bahkan bukan hanya satu dua orang yang terkena, secara masif pun dapat dipastikan khalayak umum terbohongi secara bersamaan dan di waktu yang sama. Upaya jahat ini bisa dianggap sebagai tindakan keji. Sebab bila dibayangkan, otak yang digunakan untuk berpikir mendapat informasi yang tidak benar dan hal itu akan termanifestasi dalam sejumlah perilaku. Contoh jelas saja seperti fitnah dan hasut yang akan berdampak pada kebencian dan akan berujung permusuhan, bahkan lebih parah lagi akan mendasari perbuatan pembunuhan dan konflik.

Ini yang barangkali ingin disampaikan oleh Peter Berger dan pandangan konstruksionismenya yang mengatakan bahwa realitas objektif yang hakiki itu sebenarnya tidak ada. Juga bahwa realitas sebenarnya tak lebih dari sekedar realitas yang dibangun dari realitas simbolik. Realitas simbolik di sini bisa berupa teks media, interaksi antar masyarakat atau hal lain. Seolah Berger melakukan skeptisme dan tindakan apatis terhadap dunia nyata. Hampir sama dengan pemikiran Rene Descrater yang lebih condong mengatakan bahwa tidak ada dunia nyata. Sebab dunia nyata tak lebih dari sekedar gambaran yang ada dalam pikiran. Dengan kata lain, secara sederhana maksud Berger adalah bahwa realitas yang alami dan hakiki tidak lebih dari hanya sekedar realitas konstruktif atau yang dibangun, diproyeksikan, dan direkayasa.

Sebelum melangkah lebih jauh, istilah objektif dan subjektif lebih sering akan kita dengar dalam sejumlah forum akademis atau diskusi-diskusi ilmiah. Objektif sebagai ungkapan yang mewakili pandangan umum dari orang banyak. Sementara subjektif dikatakan sebagai pandangan pribadi dari perorangan atau individu. Titik tolak antara individu dan khalayak umum ini yang juga kemudian dikritisi oleh Berger bahwa objektif tidak lebih dari sekedar kesubjektifan yang majemuk dan di waktu yang sama. Maksudnya adalah bahwa pandangan objektif adalah campuran dari beberapa pandangan subjektif perorangan yang memang kebetulan sama. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa objektif yang hakiki itu tidak ada, semua berakar pada subjektifisme.

Dengan yang demikian tadi, pandangan ini kemudian disebut sebagai ‘konstruksionisme’ (Zen, 2004) dengan menitik beratkan pada ontologis segala sesuatu secara ekstrim dan berlebihan. Dalam istilah, karena pandangan ini lahir dari studi ilmu sosial, maka Berger menggunakan istilah ‘Realitas Objektif’ dan ‘Realitas Simbolik’. Secara sederhana, pandangan ini bisa digambarkan dengan sapu lidi. Sebagaimana mafhum, disebut sapu lidi karena terdiri dari banyak lidi yang diikat. Maka konsekuensi negatifnya adalah jika hanya terdapat satu lidi maka tidak bisa dikatakan sapu lidi. Dalam arti sapu lidi pada hakikatnya adalah lidi (secara satuan).

Secara tatanan politik, posisi realitas simbolik atau realitas yang sebenarnya menjadi suatu yang ingin dicapai, atau bisa dikatakan tujuan utama layaknya kursi DPR. Realitas objektif menjadi realitas yang dimiliki secara majemuk dan umum. Dari sanalah akan ada realitas-realitas subjektif yang akan membangun kekuatan untuk merebut realitas objektif dengan sebuah alat yaitu realitas simbolik. Karena realitas objektif menjadi sasaran utama, maka sekumpulan orang yang mempunyai realitas subjektif tentu akan sangat memungkinkan untuk membangun sebuah realitas simbolik untuk dapat merebut dan menguasai reaitas objektif yang ada.

Sebagai contoh dalam hal ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang, pandangan objektif yang disetujui adalah bahwa bumi itu bulat dan konsekuensinya bila ada pandangan bumi tidak bulat itu adalah subjektif. Flash back lagi ke zaman dahulu ternyata pandangan objektif yang ada sangat jauh berbeda dengan yang sekarang. Orang zaman dahulu menyatakan bumi itu datar sampai suatu ketika ada seorang tokoh berani melawan realitas objektif itu dengan realitas atau pandangan subjektifnya sehingga dapat membalikkan realitas objektif yang ada di masanya menjadi 180 derajat seperti pada saat ini. Hal ini pastilah tidak luput dari konstruksi atau politik wacana yang menggunakan rekayasa realitas simbolik agar dapat menarik tujuan utama, yaitu merubah pandangan objektif yang ada.

Inilah yang barangkali mendorong sejumlah filsuf rasionalis idealis untuk mengapatis dan menskeptiskan diri sendiri terhadap kebenaran. Kebenaran tak lebih dari hanya sekedar persepsi dan prespektif yang dirancang secara terselubung. Untuk membangun realitas simbolik ada banyak hal yang dapat dilakukan seperti dengan menggunakan penyebaran media, sosialisasi praktek interaksi yang pada intinya dapat diketahui secara masif oleh khalayak umum.

Dalam proses terjadinya realitas objektif, Berger membaginya terhadap tiga proses. Pertama melalui pemunculan ide atau penyebaran. Ini yang biasa dia sebut sebagai eksternalisasi. Artinya mengusahakan orang untuk dapat mengetahui suatu gagasan yang akan dijadikan pandangan objektif. Ini hanya sampai pada tataran mengetahui. Menuju tingkat yang ke dua ada yang namanya objektifasi. Istilah ini sedikit lebih tinggi dari posisi eksternalisasi yang diidentikkan dengan tindakan dan sikap. Setelah orang mengetahuinya, maka sebisa mungkin khalayak diarahkan untuk bersikap dan bertindak sesuai dengan gagasan yang ingin dijadikan objektif. Baru setelah tataran ini dilalui maka akan timbul yang namanya internalisasi atau menyatu dengan kebiasaan. Setelah mengetahui dan diarahkan untuk mengambil sikap, maka secara terus menerus dan mengalami proses habituasi maka pandangan atau gagasan tadi akan terinternalisasi dan mengkristal dalam kepribadian dan keseharian.

Setelah semua itu, maka jadilah realitas objektif yang mulanya hanya sebuah subjektifitas yang direncanakan. Baik secara sadar atau tidak pun kita sering bahkan selalu mengalami dan terlibat dalam porses yang seperti itu. Awalnya kita tidak tahu, mencari tahu, kemudian menganggapnya benar dan akan berujung pada perbuatan kongkrit seperti sikap dan tindakan.

Untung saja bila realitas objektif yang dikonstruksikan itu tidak berbahaya, namun jika tidak dan mengandung konten negatif maka akan sangat bedampak fatal. Sama seperti kasus hoax sebagai upaya konstruktif perekayasaan realitas objektif yang banyak memanfaatkan media. Bahkan bisa jadi bukan lagi konstrustif melainkan destruktif. Pandangan masyarakat dibuat kabur dan diarahkan pada hal yang tidak benar. Media sebagai pemegang realitas simbolik yang menjadi alat bagi penyebar hoax. Salah satu jalan untuk melawan dan memberantas hoax ala pandangan konstruksionisme Peter Berger adalah dengan membuat kekuatan realitas simbolik tandingan yang akan bersaing dalam ranah politik wacana bersama kabar-kabar sesat hoax tadi. Tidak cukup hanya mengingatkan dan mewanti-wanti masyarakat luas, toh mereka juga tidak akan pasti tahu semua tentang hoax. Segelintir masyarakat pastilah ada yang awam dan mudah terserang realitas simbolik dari hoax tersebut. Maka upaya ampuh satu-satunya adalah menyaingi dengan cara menyebarkan konten-konten positif di jagat media baik itu online maupun ofline. Selebihnya tergantung kita apakah akan menjadi korban ataukah akan melawan.

Sekian.

Profil Penulis

Ozik Ole-olang
Ozik Ole-olang
Lahir di Lamongan, 21 Desember 1998. Penulis adalah mahasiswa rantau asal Madura. Kerap menulis di sejumlah web. Sekarang sedang mukim di kota Malang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *