Cerpen

Anak-anak Bawah Tanah

Ketika masih duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar, guru penjaskes mengatakan bahwa tidur yang normal itu delapan jam perhari. Sejak itulah setiap pulang sekolah, setelah salat zuhur dan makan siang aku selalu menolak jika diperintahkan Ibu untuk tidur siang.

Kadang aku beralasan pada ibuku. Bu. Kalau sekarang aku tidur, berarti aku harus bangun jam 9 malam.

Hah, sahut Ibu sembari menatap mataku dengan kedua alisnya yang menukik naik dan mulut menganga heran.

“Terus, nanti malamnya aku ngapain, Bu, masa bergadang?” Tanyaku, tidak memberikan kesempatan untuknya mengatakan apapun, bahkan bertanya dari mana aku tahu hal semacam itu. Seperti baru saja sadar bahwa anaknya baru bicara aneh. Ibu bertanya balik soal apa yang kukatakan tadi.

“Ah, Ibu mah gak akan ngerti,” jawabku sambil berlalu ke luar rumah. Ibu tentu saja memanggil-manggil memintaku untuk kembali ke dalam. Tapi aku tetap meleos, berjalan menjauhi rumah mencari teman bermainku. Kukira menjadi keras kepala adalah kelebihanku.

Begitu sampai jauh dari rumah. Aku mulai mengajak teman-teman di komplekku yang terbiasa tidur siang untuk tidak melakukan rutinitas itu. Semacam aksi anti mainstream. Perekrutan dimulai dari teman terdekat, sebut saja Toni. Awalnya ia sempat menolak.

“Kalau Ibuku tahu aku gak tidur siang, nanti aku bisa dimarahi, Gus.”

“Ya jangan sampai ketahuan Ibumu lah, Ton!” Seruku meyakinkannya.

“Memangnya kenapa sih kamu gak tidur siang? Tumben banget.” Tanya Toni heran.

“Aku gak mau jadi orang gila,” jawabku singkat.

Toni belum mengerti dan bertanya apa maksudku. Aku pun mencoba menjelaskan keyakinan baruku:
“Kata Bu Nadia, orang normal itu tidurnya delapan jam perhari.”

Toni memang mengenal Bu Nadia, tapi beliau tidak mengajar di kelasnya. Karena Toni satu tingkat di bawahku, dan guru penjaskesnya berbeda.

“Terus?” Toni masih juga belum mengerti.

“Coba kamu lihat sekarang jam berapa?” Pintaku agar ia mulai mengorek sesuatu dalam kepalanya. Seolah itu tak cukup, kutunjuk juga jam dinding di belakangnya. Toni membalikkan punggungnya dan menjawab.

“Jam setengah dua, Gus.”

“Nah, kalau kamu sekarang tidur berarti kamu harus bangun lagi jam setengah sepuluh malam. Tapi gak mungkin kan, soalnya nanti jam setengah empat kamu pasti dibangunkan Ibumu untuk salat ashar. Akhirnya, tidur kamu jadi kurang dari delapan jam.” Jelasku sedikit lebih panjang.

“Lha, memangnya kenapa kalau tidurku kurang dari 8 jam?” Tanya Toni dengan wajah polosnya. Ia memang bodoh. Lemot. Pantas saja kalau tahun kemarin ia tidak naik kelas.

“Kan tadi aku sudah bilang, Ton,” jawabku sedikit kesal. Aku pun mengulangi lagi penjelasan di awal, “Kata Bu Nadia, orang normal itu tidurnya 8 jam perhari. Nah, kalau tidur kamu kurang dari 8 jam, bisa gila nanti.””

“Tapi selama ini kita tidur siang dan bangun ashar, masih normal-normal saja kok.” Toni membela diri. Aku merasa ia tidak paham di mana pentingnya tidur delapan jam ini.

“Mungkin sekarang belum, tapi kalau kita sudah dewasa pasti terjadi, Ton.” Aku berusaha meyakinkannya. Aku juga menambahkan argumenku “Lihat saja di jalan-jalan, gak ada tuh anak-anak yang jadi orang gila. Semua orang gila itu kalau tidak bapak-bapak, ya ibu-ibu.”

“Oh iya, betul juga.” Toni mulai membuka jalan untuk isi kepalanya yang sempit. “Jangan-jangan, mereka gila karena tidurnya selalu kurang dari delapan jam.”

Aku mengangguk penuh semangat, puas rasanya membuat Toni paham sesuatu. Cukup lama memang untuk meyakinkan Toni, tapi ternyata usahaku tak sia-sia.

***

Kini aku sudah tidak sendiri lagi. Toni adalah anggota pertamaku. Kaderisasi harus diteruskan. Kini giliran yang lain, anggap saja Iwan. Ia tidak satu sekolah denganku, juga Toni. Tapi ia tetap teman bermain kami.

Mulanya Iwan juga agak sulit untuk diajak bergabung, “kalaupun kita cuma tidur satu jam, nanti malam kan bisa disambung lagi, Gus.”

“Gak bisa begitu, Wan. Gak boleh disambung-sambung. Karena guruku gak bilang tujuh jam ditambah satu jam, atau enam jam ditambah dua jam. Tapi harus delapan jam berturut-turut.” Aku meyakinkannya.

Iwan masih ragu. “Tapi masa iya sih, Gus, kita bisa gila kalau tidur kurang dari delapan jam?”

“Ya sudah kalau kamu gak percaya. Tapi kalau nanti kamu jadi orang gila, tolong jangan sebut-sebut kami temanmu, ya!” Tukasku sambil berlalu merangkul Toni pergi dari hadapan Iwan. Tentu saja ini trik, sampai—

“Eh, tunggu dulu, Gus, Ton…” teriak Iwan. Ia menghampiri kami lalu menarik lenganku.

“Apa?” Tanyaku dengan muka masam.

“Kenapa tidak kita tanyakan dulu saja ke Ibu kita. Benar atau tidak ucapan gurumu itu.”

“Aduh… kamu ini gimana sih, Wan. Ibu kita kan bukan guru, jadi mana paham mereka urusan penting begini.” Celetuk Toni. Bagus, Ton! Batinku.

“Oh iya, ya,” timpal Iwan. Lagi-lagi sepertinya  aku berhasil. Tidak, kali ini bukan hanya aku tapi kami. Karena Toni juga turut serta dalam tim ini. Ia juga ikut meyakinkan Iwan. Kecerdasanku ternyata cepat sekali menular ke Toni.

Sekarang, anggota kami bertambah. Aku, Toni, dan Iwan.

Hari demi hari anggota kami semakin bertambah. Dari satu, dua, tiga, hingga belasan. Tapi kami tidak berhenti sampai di sini. Masih banyak masa depan anak-anak yang harus kami selamatkan. Kami mulai menyisir dari gang ke gang, RT ke RT, hingga ke RW sebelah. Sampai saat ini orangtua kami tidak pernah tahu gerakan ini. Karena kami melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Kami menyebut diri kami “Anak-anak Bawah Tanah”.

Profil Penulis

Agus Diki Saputra
Agus Diki Saputra
Pelajar
Tulisan yang Lain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *