Aku Radio Bagi Mamaku dan Sepotong Kisah Nabi Musa

Tak ada yang lebih marah dari Umar bin Khattab demi mendengar bahwa adik terkasihnya Fatimah telah menjadi pengikut Muhammad Saw. Ia berjalan tergesa ke arah rumah Fatimah dan suaminya dengan tangan mengepal, langkah-langkah panjang yang berat, dan isi dada yang panas. Tidak ada yang mau tahu apa yang sedang menggelegak dalam diri jagoannya orang-orang suku Quraisy ini.

Sebelum menggapai pintu rumah Fathimah ia sempat menguping dua orang sedang belajar al-Quran. Sebenarnya-lah Ia penasaran pada apa yang baru saja ia dengarkan, tapi rasa penasarannya tidak cukup memadamkan isi dadanya. Itulah yang kemudian menyulut perdebatan singkat dan berujung pada perkelahian yang timpang. Fathimah dan suaminya tersungkur dan berdarah.

Melihat Fathimah, adiknya sendiri berdarah, seketika itu ia merasa menyesal dan malu. Barangkali demi menebus rasa malunya ia bertanya apa yang tadi sempat didengarnya sebelum mencapai gagang pintu rumah mereka. Ia ingin tahu apa yang sedang mereka baca.

Singkat cerita Umar sendiri membacanya. Ia membuka mushaf dan membaca surat Thaha 1-19. Sekonyong-konyong janggutnya basah oleh air matanya sendiri. Laki-laki dengan perawakan besar dan watak keras itu kini gantian tersungkur. Sesuatu baru saja menusuk jauh ke dalam dadanya.

Agaknya menarik memperhatikan beberapa bagian dari QS. Thoha ayat 1-16 yang membuat Umar bin Khattab jatuh tersungkur. Terutama bagian akhirnya, yakni ayat 9-12, yang semoga saja bisa menautkannya dengan topik dasar diskusi kali ini: kumpulan cerpen “Aku Radio Bagi Mamaku” karya kedua Abinaya Ghina Nurjameela.

Berikut terjemah dari surat Thaahaa, ayat 9-12: Apakah telah sampai kepadamu (wahai Muhammad) kisah Musa? Ketika ia (Musa) melihat api, lalu berkatalah kepada keluarganya: “Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu”. Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: “Hai Musa. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa.

Ini adalah sebagian dari kisah Musa As, nabi yang paling populer dan riwayatnya penuh dengan kisah-kisah menakjubkan; dilarung di sungai saat bayi, diadopsi oleh Firaun, mengalahkan para penyihir Firaun, dan membelah lautan. Belum lagi jika musti menyebut bagaimana Al-Quran mencatat namanya 136 kali dan mengisahkannya secara berurutan sebanyak empat kali dalam-surat surat yang berbeda. Dengan begini bukankah seharusnya ada ‘sesuatu’ pada kejadian Umar bin Khottob yang tersungkur dan menangis setelah membacanya?

Naya dan Cerita-ceritanya

Dalam lima tahun terakhir, karena satu atau dua ratus tiga puluh delapan alasan kita dibuat jengah oleh nama-nama seperti Narudin Pituin, Denny JA, dan Hanung Bramantyo–dengan alasan yang sedikit berbeda untuk masing-masingnya. Tapi tidak ada yang menampik bahwa nama Abinaya Ghina Jameela yang akrab dipangggil Naya ini adalah salah satu dari sepuluh kabar baik dalam dunia sastra kita kiwari.

Kali ini di usianya yang sembilan tahun Naya menerbitakan bukunya yang baru dengan judul Aku Radio Bagi Mamaku, sebuah kumpulan cerita pendek. Ini buku keduanya setelah kumpulan puisi Resep Membuat Jagat Raya tahun lalu.

Sejak buku pertamanya, “Resep Membuat Jagat Raya” para narator (atau aku lirik dalam puisinya) yang ditampilkan Naya terasa seperti anak usia sekolahan yang gemar fotografi. Di awal ia diberikan sebuah kamera polaroid. Ia diperbolehkan membawa dan menggunaknanya di mana dan kapan saja. Maka si anak benar-benar menggunakannya untuk memotret apa saja. Sekali dua ia bahkan memotret ibunya tanpa sepengetahuannya. Tak cukup di situ ia memotret semua yang ada di lingkungan-lingkungan yang bersinggungan langsung dengannya. Orang-orang yang ia kenal, tempat-tempat yang ia kunjungi, kegiatan yang ia lakukan, bahkan apa saja yang baru ia tonton di film atau baca di buku-buku ensiklopedia.

Hasil foto dari kamera polaroidnya benar-benar menakjubkan. Objeknya kecil dan spesifik, warna-warnanya cerah, kesan-kesan yang ditampilkannya terasa polos dan jujur. Ia tidak peduli pada teknik fotografi dasar atau apa saja yang sedang trend di dunia fotografi. Dia tahu dunianya dipenuhi hal-hal yang mengagumkan dan membangkitkan rasa penasarannya. itulah yang kita nikmati dalam kumpulan puisinya Resep Membuat Jagat Raya. Seperti puisinya yang ia tulis saat usianya tujuh tahun berikut ini:

 

MENULIS PUISI

Di buku tulisku ada pensil
ujung pesil seakan menyentuh
ulat-ulat kecil yang sedang tertidur.
Perlahan ulat itu memakan ujung pensil
dan meninggalkan bekas yang bisa aku baca
menjadi Menulis Puisi.
Tanganku terasa pegak
aku meletakkan pensilku.

2016

 

Kemudian sang aku lirik atawa anak ini tumbuh secara mental dan usia, bahkan (dalam artian yang baik) lebih cepat dari usianya. Di sinilah si Anak  mendapat kamera baru (medium bercerita yang berbeda). Dari polaroid ke kamera DSLR. Tentu saja kamera baru ini lebih tinggi kemampuannya dalam menangkap warna maupun fokus dalam jarak yang lebih jauh. Dan sadar atau tidak, berubah pulalah caranya memotret. Ia mulai memilih angle kamera, luas objek yang ia potret, sekali-kali ia juga memperhitungkan jumlah pencahayaan.

Jika anak kecil seusianya lainnya masih suka difoto atau berswafoto bersama binatang-binatang terkurung di dalam kandang sambil tersenyum riang. Ia sendiri hanya akan berdiri tegak memotret binatang-binatang menyedihkan itu dengan tangannya sendiri.

Kali ini Ia tidak di sana untuk bersenang-senang. Ia di sana untuk hal lain.

Dari kameranya yang baru ini ia menangkap gambaran dunia yang lebih lebar, dan barangkali lebih mencemaskan. Mulai tampak olehnya bagaimana cara kerja dunia di sekitarnya—dan barangkali karenanya ia tampak gelisah. Hal itu tampak dari cerita-ceritanya yang sedikit suram (pada cerpen: Aku Suka Menggambar dengan Krayonku) dan punya kedalaman makna (pada cerpen: Benarkah Anak Perempuan Cengeng?) dan protes (Aku Bosan dengan Bekal Makan Siangku) dibanding cara bercerita anak-anak seusianya di kolom di kolom Percil harian Pikiran Rakyat atau buku-buku berlabel  KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya) dari penerbit Mizan.

Ia mulai memotret sesuatu yang membuatnya gelisah. Hal tersebut terlihat dari kejeliannya menulis detil kecil dalam ceritanya. Dan bagaimana simbol-simbol tertentu ditampilkan. Dari sosok yang dipanggil sebagai Mama dan Papa, Kepala Sekolah, Mamanya Bose, Ibu Penjaga Peprustakaan Sekolah. Semua adalah orang dewasa (bagi Alinka) sekaligus simbol yang mereperentasikan Dunia Dewasa tersebut terus diulang-ulang dalam sepuluh judul cerpennya dan menjadi benang merah yang menjahit kesepuluh cerita ini menjadi satu.

Dalam cerpennya “Aku Suka Mewarnai dengan Krayonku” ia menulis: Aku juga pernah melihat orang yang membuang langsung bungkus makanan dari mobil. Sehingga aku bingung dengan warna apa tangan-tangan mereka yang membuang sampah itu harus kuwarnai. Aku takut akan merusak warna krayonku.

Kini foto-foto itu (dalam hal ini berbentuk sepuluh cerpen) berada di depan kita, dari yang tadinya hanya sebuah potret saja, menjadi semacam interupsi. Sebab ada kegelisahan di dalamnya.

Penutup

Al-Quran memiliki banyak pokok kandungan. Di antaranya adalah aqidah (teologi), syariah (hukum), akhlak (moralitas), dan sejarah; yang biasa disebut Qashashul Quran (Cerita-cerita Al-Quran). Nah, pada pokok kandungan terakhir inilah yang menjadikan Al-Quran unik. Bahkan ayat-ayat dengan kandungan yang terakhir ini jauh lebih banyak ketimbang ayat-ayat yang berbicara tentang hukum. Tidak lain karena cerita-cerita tersebut dimaksudkan sebagai ‘ibrah seperti yang disebutkan:

“Sesungguhnya pada cerita-cerita mereka itu terdapat pengajaran (‘ibrah) bagi orang-orang yang mempunyai akal …”(QS. Yusuf 12:111)

Kata ‘ibrah-lah kaitan antara sebagian kisah Musa As dalam QS Thoha yang membuat Umar tersungkur; dengan cerpen-cerpen yang ditulis oleh Naya—maksudku hal ini juga berlaku untuk semua kisah dan cerita.

Sekilas ini tampak agak memaksa. Tapi jika Anda belum tahu, ‘Umar bin Khattab adalah orang yang punya pemahaman tinggi pada tradisi sastra Arab saat itu. Jangan lupakan juga, bahwa keterampilan bersyair dan wawasan kesustraan adalah kebanggan masyarakat arab saat itu. Sehingga siapapun yang menguasainya akan meraih privilege yang tidak main-main di tengah masyarakat.

Maka ketika Umar mendapati bagian kecil dari Al-Quran itu, ia sadar bahwa Al-Quran adalah sesuatu yang lain dan jelas baru dalam khazanah kesusastraan Arab masa itu. Al-Quran sebagai karya sastra telah jauh melampaui zamannya. Entah dari sisi bentuk, seperti kebahasaan, diksi, pengaturan rima/kufiyah; juga intertekstualitasnya dengan literatur-literatur lain yang usianya lebih lampau. Belum lagi jika ditambah dengan keunikan isinya yang berbicara tentang hal-hal yang belum terjadi—beberapa orang Arab yang menolaknya kerap menyebutnya sebagai asathirul awwalin atau dongeng-dongeng baheula, bahkan juga menyebutnya sebagai mantra sihir. Barangkali karena saking bingungnya.

Pendek kalimat. Dengan adanya Al-Quran, yang saat itu bercerita singkat tentang Musa As, wajar jika Umar tiba-tiba saja merasa mendapatkan interupsi. Seperti… Hei, wawasan kesusastraan orang-orang Arab belum ada seupil-upilnya di hadapan Al-Quran. Atau dalam hal yang lebih serius, ada ‘sesuatu’ yang lebih besar dari orang-orang arab dan semua wawasan kebudayaan dan khazanah ilmu pengetahuan mereka saat itu.

Akhirnya, sebagaimana kisah Musa As yang menginterupsi Umar bin Khattab dalam memandang dirinya di hadapan “kekuatan cerita”, Aku Radio Bagi Mamaku adalah sebuah interupsi pada dunia dewasa ini. Dunia yang kita jalankan. Dunia yang seperti Alinka bilang: jika sedang bicara tak bisa dihentikan, dan yang gemar melanggar aturannya sendiri.

Masalahnya di masa-masa banyak orang dewasa lebih suka melakukan keduanya, seperti apakah respon kita pada interupsi-interupsi yang terdengar imut-imut nyelepet dalam “Aku Radio Bagi Mamaku” ini?

 

 

*Catatan ini merupakan pengantar dari  diskusi buku “Aku Radio Bagi Mamaku” dalam helatan TALK MIND (yang digelar leh Semesta Literasi Karawang) di Das Kopi Karawang.

Profil Penulis

Ahmad Farid
Ahmad FaridMuda dan tak berdaya. Hiks~
Ketua kelas Nyimpang, pustakawan di @pustakaki, aktif di Forum Taman Baca Masyarakat, Gusdurian Purwakarta dan Sanggar Sastra Purwakarta.