13 Reasons Why: Sebuah Refleksi Kritis terhadap Realitas

Even the most basic social interaction help keep us alive –13 Reasons Why

Menceritakan Clay Jensen (17), seorang pemuda kutu buku yang bertemu dengan Hannah Baker, remaja yang baru saja pindah ke kotanya. Mereka merajut hubungan pertemanan yang baik dan manis layaknya remaja pada umumnya. Namun, kisah manis itu tidak berlangsung lama karena suatu hari Hanna Baker memutuskan bunuh diri.

Dua minggu kemudian Clay memperoleh paket misterius yang berisi 7 kaset tape. Kaset-kaset tersebut merekam suara Hannah Baker yang mengungkapkan 13 alasannya memutuskan bunuh diri. Di dalam rekaman, ada beberapa nama sekaligus peristiwa yang melibatkan Hannah, hal ini memicu Clay melakukan napak tilas kehidupan Hannah dan mengikuti semua intruksinya.

Jelas sekali Hannah mengalami kekerasan seksual, perundungan siber (cyber-bulliying), dan intimidasi-intimidasi lainnya. Rangkaian perlakuan yang ia dapatkan tersebut menjadi pemicu depresi yang membuahkan gagasan Hannah bunuh diri.

Kisah Hannah Baker mungkin gambaran kecil dari banyak kasus yang terjadi di luar sana. Mallory Grossman remaja berusia 12 tahun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri pada 14 Juni 2017. Dia mengalami perundungan melalui aplikasi Snapchat sejak oktober 2016 yang menyebabkan dirinya tidak memiliki teman. Ketika orang tua Mallory membuat keluhan kepada beberapa orang tua pelaku. Salah satu Ibu dari pelaku mengatakan bahwa yang dilakukan oleh anaknya itu hanya lelucon.

Dalam serial yang diadaptasi dari buku karya Jay Asher dengan judul yang sama itu, hubungan Hannah dan orang tuanya cenderung tidak memiliki komunikasi dua arah meskipun keduanya hampir tidak pernah bertengkar. Hal ini dihadirkan dalam beberapa cuplikan ketika sidang berlangsung. Di sana digambarkan ketika Hannah kerap kali menceritakan kecemasannya, namun Ibunya selalu menganggap itu bukan persoalan besar yang harus segera diwaspadai.

Para orang tua memang jarang dilibatkan oleh anak-anaknya dalam masalah mereka. Remaja lebih suka menyimpannya sendiri. Kenapa begitu? Barangkali karena orang tua dan remaja tidak mampu mengerti satu sama lain karena perbedaan usianya. Anak-anak sering dibebankan oleh harapan-harapan dan keinginan orang tua yang serius untuk masa depan mereka, sedangkan remaja selalu riang dan santai. Ketika sesuatu terjadi kepada mereka, mereka akan memiliki keengganan untuk berterus terang, karena remaja berpikir bahwa orang tua mereka tidak akan mengerti dan malah akan kecewa.

Peran sekolah sebagai rumah kedua bagi para siswa pun dikritik keras melalui drama serial ini. Bagaimana sekolah tidak mampu menangani masalah-masalah yang melibatkan para siswa-siswi di dalamnya dengan cepat dan tepat. Para korban perundungan dan kekerasan seksual tidak dilindungi dengan serius.

Audrie Pott gadis berusia 15 tahun diserang secara seksual oleh tiga teman laki-laki setelah menyuruhnya meminum alkohol hingga mabuk. Para pelaku mengambil gambar korban dalam keadaan tidak sadarkan diri dan menyebarkan gambar tersebut kepada teman-teman mereka di sekolah. Setelah kejadian itu, Audrie dipermalukan dan diolok-olok oleh teman-temannya. Satu minggu setelah kejadian, Audrie bunuh diri.

Penyerangan secara seksual itu juga yang menjadi alasan ke-12 Hannah Baker bunuh diri. Bagaimana sekolah tidak mampu menangani korban kekerasan seksual setelah Hannah memberi pengakuan kepada pihak sekolah tentang kejadian yang dialaminya. Sekolah meminta Hannah untuk melupakan kejadian itu, dan semakin memburuk ketika sekolah yang diwakili oleh Mr.Porter (konsultan di sekolah) memberikan alasan bahwa pelaku akan segera lulus dan sebaiknya kasus ini tidak ditindaklanjuti.

Perundungan siber yang dialami oleh Hannah sejak episode pertama diperparah oleh pelecehan seksual yang dilakukan oleh teman-temannya di sekolah. Mereka menjulukinya pelacur. Akibatnya, pelecehan seksual yang tidak ditangani dengan baik itu berevolusi kepada tindakan-tindakan yang lebih ekstrem. Semakin lama Hannah semakin mendapatkan kesulitan.

Dinamika persidangan yang digambarkan sangat realistis di bagian kedua serial ini. Tidak semua tujuan dari Clay dan kawan-kawan berakhir sesuai dengan ekspetasi mereka. Bahkan di akhir persidangan, keputusan Hakim tidak sesuai dengan keinginan ideal tokoh utama. Di bagian kedua juga menceritakan hal-hal yang terjadi pada karakter-karakter pasca persidangan berakhir. Sutradara menggambarkan meskipun inti masalah sudah selesai secara teknis, tetapi pada akhirnya semua orang tetap akan melanjutkan hidup, kesedihan tetap berlanjut, perundungan tetap ada, sekolah tetap menjadi tempat yang menyedihkan.

Seperti yang dikatakan Ziggy di dalam bukunya, “… Kau harus selalu ingat kalau, bahkan dalam buku cerita, setelah ‘akhir yang bahagia’, semua tokoh harus meneruskan hidup mereka. ‘Akhir yang bahagia’ cuma fase, dan ia akan segera berakhir.” – San Francisco

Saat ini, kita sering kali menjadikan kesakitan orang lain sebagai bahan lelucon. Hal ini mungkin yang membuat kita kehilangan rasa empati kepada orang lain. Kita dengan mudah membagikan konten tanpa berpikir panjang, bahkan ikut menertawakannya. Banyak faktor yang dapat memicu seseorang bunuh diri, hal itu membuat kita kesulitan untuk mengidentifikasinya.

Pada akhirnya dua season dari series 13 Reasons Why ini bukan soal siapa yang antagonis atau protagonis. Ini lebih pada sebuah refleksi yang memperlihatkan bahwa semua orang memiliki persoalan yang juga bisa manarik dan menghayutkan orang lain ke dalamnya. Dan ketika kita hilang akal atas apa yang terjadi di dalam hidup kita, itu malah akan memperburuk keadaan, bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain.

Bunuh diri adalah gagasan yang ada di benak semua orang, bagaimanapun kita memang kelelahan untuk menghadapi hidup. Maksudku adalah kita tak usah banyak berpikir, cukup ada saja untuk orang lain karena mereka yang memiliki masalah mental cenderung merasa kesepian.

Ringkas kata serial ini seperti mengatakan, bunuh diri bukanlah cara yang indah untuk menghentikan kehidupan ini, karena kita semua adalah pelaku sekaligus korban, semua orang menjalani hidup yang sulit, jadi kenapa tidak saling merangkul saja.